Menulis bisa meluahkan rasa sesak di hati, di jiwa. Sesak karena suka maupun duka. Sesak karena kebahagiaan ataupun kesedihan. Maka, di keheningan malam, dari jiwa yang selalu mencoba tenang, jemari mulai merangkai rasa menjadi untaian kata. Untaian kata dari pengejawantahan rasa. Kata tentang kita dan pertemanan.
Apakah ada manusia yang sempurna? Adakah manusia yang tidak pernah salah? Kita tentu mafhum kalau jawabannya adalah tidak. Maka, kita hendaknya memahami ini dan berusaha untuk saling mengerti. Read the rest of this entry »






