RSS

Cerita Gadis

Sosok yang sangat saya kenal , sekarang sedang dan masih :

Kurang bersemangat
Badan lemas, bahkan tidak kuat berdiri atau jalan lama
Tidak ada nafsu makan
Pandangan nanar
Perut mulas
Mual
Muntah
Fisik lemah
Kurang fokus belajar
Tidak menjadi diri sendiri secara penuh
Melakukan beberapa hal dengan tidak maksimal karena tidak ‘mau’ berbuat yang terbaik darinya
Tiba-tiba suasana hatinya berubah dengan cepat, senang sedih, tersenyum termenung, tertawa terdiam
Sakit apa dia? Maag? Demam? Keletihan? Atau, itu stres?

Gadis ini tahu bahwa ia tidak bisa berlama-lama lagi seperti itu. Ia tahu ini tidak baik untuk dirinya dan orang di sekitarnya. Ia seperti ini sejak masalah –yang kata temannya itu masalah yang sederhana- hadir dalam hari-harinya yang sebelumnya tenang dan menyenangkan. Ia paham bahwa hal itu harus dihadapinya selama beberapa waktu ke depan. Ia yakin akan banyak hikmah dan pembelajaran yang akan dan sedikit telah dikecapnya. Ia juga membayangkan saat ia telah berhasil menjalani dan melewati ‘masalahnya’ itu, ia akan tersenyum bahagia, akan mengingat dan mungkin saja merindukan hal itu. Namun, ‘efek’ dari keterkejutan dan kegelisahan masih dirasakannnya.
Mari kita doakan, agar gadis itu bisa menjalani hari-harinya yang ‘agak’ berat.
Agar ia terus bersemangat dan bisa menjadi dirinya sendiri
Karena, saya sangat sedih melihat gadis ini
Saya ‘turut’ merasakan apa yang ia rasakan

 
Leave a comment

Posted by on January 31, 2012 in penaku

 

DM

-DM-

Bukan singkatan yang familiar di pelajaran bahasa Indonesia, Diterangkan Menerangkan

Tidak singkatan yang oleh aktivis dakwah (AD) tahu, Dauroh Marhalah, Dauroh Murabbi, dll

It is Decision Maker, pal..

Bisa juga Decision Making
What kind of post is it ??

Kalau membuat/mengambil keputusan tentang hal-hal pribadi, tergolong sederhana, dan tidak melibatkan (banyak) orang, oke-oke saja…tiap manusia harus mengambil keputusan.
Kalau ini tentang orang banyak, untuk kepentingan kelompok, ‘kelangsungan hidup’ orang banyak ? Harus bijak, dengan tows, tepat, dan low of risk.

Still learn

to be a wise decision maker

to make the right decisions

Cerita si DM
 
Leave a comment

Posted by on January 30, 2012 in Me

 

Hal Kecil yang Terlupakan

Ada beberapa hal sederhana yang banyak orang -termasuk kita- sering lupakan.

Mencuci piring tanpa sebelumnya membuang sampah makanan, walaupun hanya sebutir nasi. Jika hal ini terus dibiarkan dan terus dilakukan oleh banyak orang, bagaimana jadinya saluran pembuangan air. Mampet, kotor, ujung-ujungnya tidak bisa mengaliri dan menampung air. Risiko lebih besar lagi, banjir.

Berbicara keras di dekat orang sholat. Bahkan ada yang tidak berhenti ngakak, tidak mengecilkan volume musik yang didengarnya saat berada di dekat orang yang sholat. Kita hormati saja orang yang sedang beribadah. Kalau ingin dihormati, hormati juga orang lain. Ada juga yang kurang peka akan hal ini. Ini tidak hanya tentang khusyu’nya sholat orang lain, tapi juga tentang saling menghormati dan menghargai.

Ketika hendak mencuci piring dan gelas sesudah dipakai, masih ada yang mencampurkan gelas dengan piring atau peralatan lain yang berminyak. Biasanya dengan meletakkan gelas yang awalnya tidak berminyak ke atas piring atau wadah yang berminyak. Yaah..gelasnya kan jadi berminyak. Ini tidak baik.

Membuka kran air terlalu besar. Bukalah kran secukupnya. Pakailah secukupnya. Toh itu tidak menghambat kita untuk mencuci tangan, berwudhu, dan sebagainya. Ada juga yang mau menggosok gigi di depan kran air, malah menghidupkan kran air dahulu padahal baru akan mengeluarkan pasta gigi dan akan menggosok gigi. Selama menggosok gigipun air terus mengalir padahal ia tidak menggunakannya. Boros, teman. Cobalah cari informasi lebih banyak tentang ini.

Tidak melepas charger dari kontak listrik (switch) setelah recharge hp atau laptop. Ini berbahaya. Bisa mengaliri listrik dan tentunya membuang-buang listrik. Hemat energi ya, bro…lagipula, kita harus lebih rapi, letakkan barang yang sudah dipakai pada tempatnya.

Membiarkan lampu hidup walau tidak ada orang dalam ruangan tersebut. Ini lagi-lagi tentang menghargai sumber daya. Sangat banyak tulisan, liputan, dan himbauan tentang ini. Let’s aware it, guys…

Membuang sampah (apapun itu) walau kecil. Mari kita lebih aware terhadap lingkungan, peduli sekitar. Masih ada yang malu untuk ‘menyimpan’ sementara sampah di dalam kantong atau di dalam tas –kalau malu atau susah memegangnya sebentar-? Untuk apa malu, kawan??

Kita tidak sadar bahwa kita berdiri di tempat-tempat yang kurang tepat. Misal, berdiri di depan lift yang banyak orang akan lewat. Berdiri di depan dan tengah-tengah pintu saat dalam sebuah acara yang membuat jam, macet. Kadang ini tidak kita sadari, atau kita lupa. Saya pernah seperti itu karena sedang pusing dan bingung. ada juga saat kita berjalan di deretan toko yang jalanannnya sempit. Banyak yang melihat-lihat isi sebuah toko dari tengah jalan yang sempit itu, lupa atau tidak tahu bahwa harus menepi karena banyak yang akan lewat. Huuffh…ini merepotkan orang, apalagi yang tergesa-gesa.

Ada tambahan??

Mari kita singkirkan pikiran bahwa itu hanya hal kecil, hanya saya yang melakukannya. Hey…banyak orang yang juga berpikir dan melakukan itu, teman. Kalau sebagian penduduk dunia ini menyepelekan hal kecil ini, mau jadi apa bumi?

Melakukan hal kecil ialah bentuk kesadaran kita pada lingkungan, pada bumi.

Melakukan hal kecil yang bermanfaat ini ialah bentuk kesadaran kita akan keberadaaan kita di bumi ini.

Kesadaran kita akan kehidupan ini.

Dari hal yang kecil, kita akan mencapai yang besar

Mari berbuat, walau kecil

Mari melakukan perubahan yang lebih baik

Mulai saat ini, dari diri sendiri, dan beritahukanlah pada orang di dekat kita

 
1 Comment

Posted by on January 23, 2012 in Renungan

 

Kama se, diak?

Saya baru saja turun angkot tabiang. Saya lihat di seberang, ada dua bapak-bapak ojek yang stand by di simpang asrama haji. Tidak seperti beberapa bulan lalu, sekarang sepi, pikir saya. Hmm, mungkin beberapa hari belakangan memang sedang sepi. Biasanya banyak yang mangkal, minimal lima motor ada di sana. Sekarang? Hanya dua. Tidak jauh beda, memang. Tapi tetap saja agak aneh bagi saya yang suka melihat di sana ramai, tidak sepi. Kenapa? Ntah lah, hehe.

Seperti biasa, setelah saya menyeberang jalan, salah satu Bapak ojek mengode saya dan langsung mendekati motornya setelah saya mengangguk. Saya berjalan mendekat. Si Bapak memperhatikan saya hingga saya berjalan di belakangnya dan naik motor. “alah Pak”, tanda saya sudah siap.Motor berjalan dan dalam beberapa detik kemudian, si Bapak bertanya, “kama se, diak? Kok ndak nampak salamo ko?”.

Saya tersenyum dan menjawab, “kuliah, Pak. Kuliah di Malaysia..”.

Si Bapak bertanya lagi, “ha? Tu tingga anak?”.

Saya kaget, “anak?”.

“Eeh, itu kakak yo, Pak sangko yang kakak tadi..”, cepat si Bapak meluruskan.

“Oo, iyo Pak. Kalau kakak di Batam, ndak di siko do.”

Kami melewati tempat les yang sudah mulai ramai, Pak ojek bertanya lagi. “Jadi kini dalam rangka apo di siko?”.

Cepat saya jawab, “sedang libur, Pak.” “ooo..bilo apo..??” “sabulan ko libur, beko baliak liak..”

“oo, banyak urang awak di situ yo?”

“iyo Pak, di kampus wak ado limo ratuihan.”

“kawan Pak ado lo di Malaysia, ma..”

Pembicaraan terhenti saat sudah sampai depan rumah. Saya beri dua lembar uang seribu dan dapat kembalian Rp 500.

Banyak tukang ojek di sini yang sudah hafal di mana rumah warga di sekitar sini. Saya sering tidak menyebutkan blok apa dan belokan mana saja saat naik ojek, kecuali abang-abang ojek yang baru. Mereka banyak juga yang tahu anggota keluarga kita.

Pernah dulu, saat saya masih di MAN 2, ada kawan saya –najmi- yang mau membalikkan catatan bahasa Jepang Saya ke rumah, sedangkan saya masih ada rapat di luar. Najmi bermodalkan nekat turun di asrama haji dan bertanya pada tukang ojek di simpang asrama haji. Dia nekat juga karena besoknya akan ujian bahasa Jepang, jadi catatan itu sudah harus di saya sore itu. Maka, saat bang ojeknya tanya mau ke mana, Najmi bilang mau ke rumah teman, tapi tidak tahu blok apa, yang diingatnya hanya nomor 1, itu saja. Si abang ojek menanyakan ciri-cirinya dan sekolah di mana. Najmi bilang namanya Suci, anak MAN 2 Padang. Setelah ini itu, salah satu abang ojek mengantarkan Najmi ke blok C nomor 1. Sampailah Najmi di rumah Ci dan memberikan buku catatan ci ke Ibu.

Begitulah. Ojek mulai beroperasi di sini sejak saya SD, sekitar kelas 4. Awalnya, kita Cuma perlu bayar Rp 500. Lalu, Rp 1000 dan sekarang Rp 1500. Tukang ojek di sini umumnya dari pemuda dan bapak-bapak di sekitar sini. Tentu kita harus punya hubungan baik dengan warga sekitar, termasuk dengan tukang ojek (ada ide selain kata ‘tukang’?). Kalau bisa bercakap-cakap, mari kita mulai bicara. Kita sopan, orang lain segan.

 
4 Comments

Posted by on January 23, 2012 in penaku

 

No..

No freaking!

No crap!

No bitching!

No fussing!

No envious!

No smoking!

No comment! (hehe..gak kok..)

 

*Asal-asalan, maklum…sdh 12 hari serasa mimpi aneh dan lucu yg sangat tdk diinginkan

 
Leave a comment

Posted by on January 4, 2012 in Me

 

Minum Sambil Gaya…

Dua minggu lalu ke Thailand, cuma sampai Hatyai dan Sonkla. Kami sempat jalan ke floating market yang di Hatyai. Berbagai jenis makanan dan minuman dijual di sana. Tapi tetep, masih kalah sama jumlah wisatawan domestik dan internasional yang datang..gak nyambung..

Nemu ini, langsung beli. What is it??

Tmpt Minum

RM 2.50 only = kira-kira Rp 7,500 = 250 bath

Kalau kita beli minuman di sana, kita bisa pilih tempat minumnya dan bisa dibawa pulang. Ada model beberapa tokoh kartun, model bunga, dll. Ini terbuat dari tanah liat. Penjual lain juga ada yang menyediakan tempat minum dari bambu. Unik, menarik.

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2012 in Me

 

…..???

Ntahlah,
Hanya belum bisa menjadi diri sendiri di situasi tertentu
Hanya belum bisa memberikan yang terbaik
Bukan belum bisa menyesuaikan diri
HANYA BELUM MENERIMA SEMUA INI

Menerima berarti merasa nyaman pada keadaan
Menerima berarti bisa membiasakan
Menerima berarti bisa berbuat yang terbaik
Menerima, lagi-lagi, bisa menjadi diri sendiri di sana
Diri ini selalu menelusuri
Di mana kekuatan hati?
kapan ketetapan hati itu hadir?

Maaf,
Di sana, belum bisa memberi yang terbaik dari diri ini
Semoga seiring berjalannya waktu
Si menerima bisa memasuki hati

 
2 Comments

Posted by on January 1, 2012 in Renungan

 

IGACI

Awal tahun 2011, di semester baru, dengan subject baru, dan Bu Dina Patrisia. Kami belajar Studi Kelayakan Bisnis. Belajar SKB kali ini berbeda dari kelas lainnya, kira-kira begitu kata Bu Dina. Kami tidak hanya dituntut bisa membuat business plan, tapi juga merealisasikannya. Ya, kami harus jualan barang atau jasa yang kami rancang di BP. Ira dan Wiga mengajak Ci gabung. Teman-teman lain masih bingung dan ada yang belum cukup teman kelompok. Kami bertiga langsung memikirkan produk apa yang akan kami buat. Minat kami bertiga sama, MAKANAN. tapi, makanan apa?

Setelah beberapa hari berpikir dan bereksperimen membuat beberapa kreasi kue, akhirnya pilihan jatuh pada PANCAKE! Kami mulai berjualan pancake. Kami berjualan secara direct selling. kami berjualan di FE dan sekitarnya. Kami datangi orang-orang yang kami temui. Perjualan pertama, habis. Penjualan kedua, habis. Penjualan ketiga, keempat, kelima…habis. habis bukan karena kami bertiga yang makan sendiri, tidak!

jualan

jualan pancake

Alhamdulillah, kami bertiga sepertinya memang kombinasi yang pas. Ira dan wiga bagian produksi, ci bagian pemasaran (hihi..). Maksudnya, kami lakukan semuanya bersama, tapi yang lebih tahu tentang produksi ya Ira dan Wiga. Ci bagian memberi isi pancake, packing, dan penjualan. Ci gak jualan sendiri, ada Ira dan Wiga juga. Untuk mulai menawarkan pada orang, bagian Ci. Untuk ‘memanasi’ orang untuk beli, Ira. Untuk bayar-bayar, Wiga. Pembuatan BP juga begitu. Ira dan Wiga bagian keuangan, Ci lebihnya (huuaa..). tak pe, yang penting senang, hehe..

Jualan..

Oya, kami punya brand dan logo. Brandnya IGACI. Tentu ada filosofi dibalik itu. Kalau gak salah ada embel-embel di belakangnya. Is it a good name??

Tulisan singkat&kejar posting di siang hari..

Saat diri ini begitu lelah dengan 2 minggu terakhir yang begitu di luar dugaan

 
Leave a comment

Posted by on January 1, 2012 in Me

 

Tags: , ,

Amanah

Sahabat, pernahkah mendapatkan sesuatu yang bagi orang lain adalah prestis, namun tidak bagi diri kita sendiri? Memegang sebuah posisi penting organisasi yang tidak diingini sama sekali? Pernahkah merasakan betapa beratnya amanah yang tidak diingini itu dan harus dijalani dengan baik?

Sahabat, tidur kali ini terasa sangat tidak nyaman dan tenang karena ada tanggung jawab besar yang diamanahkan. Read the rest of this entry »

 
Leave a comment

Posted by on December 24, 2011 in Me

 

Tags: , ,

Aneh

Entah sejak kapan hal ini terpikirkan dan membuat Ci tersenyum ketika mengingatnya. Senyum, bukan seperti modus senyum kebanyakan orang yang menandakan kebahagiaan atau kesenangan.

Tidak lagi ingat, apakah dulu Ibu guru di sekolah yang secara persuasif menerangkan di kelas atau karena membaca beberapa hal, dulunya. Satu hal yang ci ingat, tarbiyah mengajarkan untuk mensyukuri apa yang ada di hadapan kita, memanfaatkan, dan tidak menyiakannya.

Anehkah ketika kita makan dan minum bersama teman –atau siapapun itu- dan kita menghabiskan makanan dan minuman tersebut tanpa bersisa sedikitpun? Janggalkah ketika kita makan nasi dan menghabiskannya tanpa sisa sebutir pun di piring? Apakah kita tampak memalukan saat tidak meninggalkan sisa makanan di piring? Jorokkah kita ketika setelah makanan habis, kita memakan sisa-sisa nasi yang menempel di jari tangan kanan? Kolotkah kita ketika minum di cafe tanpa sedotan? Terlalu idealiskah kita jika kita terus menjaga makan dan minum dengan duduk dan tidak berdiri? Terlebih dari itu, salahkah kita?

Beberapa teman yang pernah makan bersama Ci, hampir akan berkomentar yang sama setelah selesai makan. “Ndeeh…lapar Ci?”, “Licin piring Ci ma..”, “sebenarnya bagus kalau kita habisin semua ya, Ci. Kan kasian gitu..”, “waah, aku mau la Ci habisin makanannya…”, dan komentar-komentar lainnya. Semua itu Ci balas dengan senyuman dan beberapa kata ringan, “iya..lagi lapar” atau “hehe..”.

Banyak alasan untuk terus melakukan itu, kawan. Kita tidak ingin makanan itu terbuang, mubazir, karena Allah melarang kita mubazir. Kamu kenyang jadi gak bisa habiskan? Kalau makanannya diambil sendiri, kan bisa diperkirakan kita sanggup menghabiskan berapa banyak.

Masalah piring licin. Hal ini membuat kita tidak mubazir, tidak merepotkan dalam pencucian karena tidak perlu membuang sampah sisa makanan, saluran pembuangan air tidak perlu tersumbat karena bertumpuknya sisa makanan, dan membantu orang yang mencuci piring (kalau di cafe atau warung makan). Tentu banyak alasan lainnya seperti alasan kemanusiaan, dll.

Tentang perpipetan (??). Sangat pentingkah pipet (straw)? Tidakkah pemakaian dan pembuangan pipet akan mencemari lingkungan karena bahan plastiknya yang sukar hancur? banyak tulisan yang mengulas tentang sampah plastik yang mencemari lingkungan, apakah kita tidak peduli? Lagipula, apakah bagian dalam pipet terjamin bersih? Kita tidak tahu pasti. Pastinya, di banyak cafe atau tempat makan, pipet diletakkan secara terbuka dan tidak ditutupi.

Mari kita mencoba menjadi pribadi yang lebih banyak berbuat hal kecil namun membawa hasil yang baik secara nyata. Mari mulai dari saat ini…

 
3 Comments

Posted by on December 19, 2011 in Renungan