Pencurian di mesjid dan mushalla

Masya Allah…..
Tulisan kali ini Saya ketik di FE, ba’da zuhur, setelah melihat sebuah kejadian tadi…

Sepertinya masih banyak yang tidak tahu atau bahkan tidak sadar kalau di tempat umum manapun tidak aman untuk meninggalkan barang bawaan kita, tak terkecuali mesjid dan mushalla! Sudah tidak terhitung berapa banyak korban yang kehilangan barang mereka di ‘rumah Allah’ ini.

Alhamdulillah, Saya, dari awal di MAN 2 Padang, sudah dipertemukan dengan Uni-uni, Uda-uda, rekan-rekan, dan Adek-adek yang ‘Subhanallah’ di BRM dan ASSALAM (Asosiasi Pelajar Islam) Sumbar. Melalui organisasilah setiap orang bisa mengembangkan diri dan mendapatkan pembelajaran dan pengalaman berharga, termasuk ilmu bermanfaat seperti permasalahan dalam tulisan Saya kali ini.

Adalah kakak sepupu Saya yang akan berwudhu’ di mesjid Al Azhar, UNP. Beliau meletakkan tasnya di sebuah gantungan dalam tempat wudhu’, yang saat itu sedang ramainya orang. Setelah selesai berwudhu’, beliau harus menerima kenyataan bahwa handphonenya di dalam tas hilang dalam waktu yang relatif cepat.

Ada juga seorang kakak yang baik hati sedang duduk di sebuah mushalla di UNAND. Beliau tiba-tiba dihampiri oleh seorang muslimah yang sopan, terlihat manis dengan jilbabnya, dan dengan ramah mengajak Kakak manis itu berbincang-bincang. Begitu baik dan ramahnya muslimah yang baru dikenal kakak manis itu. Waktu sholatpun datang dan merekapun berwudhu’ bersama. Setelah berwudhu’, Kakak manis bersiap-siap sholat dan menitipkan tasnya kepada muslimah yang baru dikenalnya tadi-muslimah tersebut sepertinya tidak membawa mukena dan duduk menunggu pinjaman mukena-di belakang barisan jamaah. Selesai sholat, Sang Kakak manis harus menerima bahwa tasnya beserta isi-isinya dibawa lari muslimah tadi dan terlihat di luar sana si Muslimah dengan tas Kang kakak manis segera meninggalkan mesjid dengan motornya. Intinya, si Kakak manis tidak bertemu lagi dengan tasnya.

Pada beberapa hari setelah kejadian itu, Kakak manis mendapatkan telpon dari seorang mahasiswi di UPI YPTK, Padang. Mahasiswi baik hati ini mengabarkan bahwa tas dan buku-buku milik kakak Manis ada di mushalla UPI. Wouw….mengapa sampai di sana? Padahal, jarak UPI dan UNAND tidak dekat. Sang mahasiswi pun memberitahu bahwa laptopnya hilang dibawa seorang muslimah yang meninggalkan tas Kakak manis di mushalla UPI. Sudah bisakah menyimpulkannya??

Pada hari Saya mengetik tulisan ini, Saya baru saja melihat seorang Kakak di mushalla FE yang kehilangan tasnya sesudah sholat. Beliau tidak meletakkan tasnya di depan kiblat saat sholat, seperti yang kebanyakan muslimah lakukan ketika sholat, tapi masih banyak yang tidak melakukannya. Saya yang baru selesai sholatpun penasaran dengan percakapan Sang Kakak dan teman-temannya. Saya mencoba menanyakan apa yang terjadi dan kami pun terlibat percakapan yang cukup hangat. Ternyata Sang Kakak yang kehilangan tasnya curiga pada sebuah tas yang dari tadi duduk manis di dalam mushalla. Sang Kakak dan teman-temannya membuka isi tas itu dan menemukan beberapa buku milik seorang mahasiswi STKIP jurusan Matematika. Wouw…STKIP juga agak jauh dari UNP. kalaupun ada yang punya, mengapa begitu lama ditinggalkan di mushalla? Saya ikut bergabung dalam pembicaraan itu dan mencoba menjelaskan apa yang sudah Saya ketahui. ” Kak, mungkin orang yang ambil tas Kakak tadi juga membawa tas yang ditinggalkan ini. Setahu Saya, memang ada sindikat pencurian tas di mushalla dan mesjid. Mereka biasanya membawa lari tas korban, mengambil barang-barang berharga yang cepat terjual, dan meninggalkan tas tersebut di sebuah mesjid atau mushalla. Mungkin nanti ada orang baik yang menemukan tas Kakak di sebuah tempat dan memberitahukannya ke Kakak.” Saya berusaha menjelaskannya kepada Kakak-kakak tersebut. Seorang Ibu yang duduk di sebelah Saya juga ikut berbicara. Beliau terkejut ketika mendengarkan penjelasan Saya tentang sindikat tadi. Hmm, walaupun Saya tidak punya bukti tentang adanya sindikat itu, tapi nyatanya di beberapa mushalla PTN dan PTS di Padang ditemukan fakta yang bisa menarik asumsi seperti itu. Mereka biasanya berkedok mahasiswi setempat dengan berjilbab, bahkan berjilbab besar dan terlihat alim untuk mengelabui calon korban.

Naah, kembali ke cerita Kakak sepupu saya di atas. Ketika saya menceritakan hal yang sama, tentang beberapa fakta pencurian di beberapa mushalla, beliau terkejut dan tidak percaya! Saya pun terkejut, ooh…koq masih banyak yang tidak tahu tentang ini??? Saya rasa, bukan rahasia umum lagi bahwa hal itu banyak terjadi. Sayapun menceritakan kebiasaan yang Saya dan teman-teman akhwat lakukan kalau ke mesjid. Bahkan, ketika berwudhu’ di mesjid, kami tetap menyandang tas ke tempat wudhu’ dengan sebelumnya meninggalkan Alqur’an atau juz’amma kami di luar tempat wudhu’. (Ya iyalah, lha wong kan g boleh bawa Al-Qur’an ke toilet). Kamipun tidak akan menitipkan tas kepada orang yang baru kami kenal di mushalla atau mesjid. Bukannya suuzon terus, tapi kita lebih baik melakukan tindakan preventif dan tidak membebani orang lain dengan menitipkan tas kita kepada orang lain (mana tahu orangnya mau cepat pergi, hihi…).

Hal-hal yang meresahkan ini juga Saya ceritakan kepada teman-teman yang lain agar mereka lebih waspada jika berada di tempat umum. Saya juga menceritakan kepada Kakak sepupu bahwa mereka juga tidak segan untuk memakai jilbab dalam untuk mengelabui. Tapi, Saya miris ketika mendengarkan seorang Bapak yang menceritakan pada Saya bahwa yang mencuri di mushalla itu orang yang berjilbab dalam. Kalimat beliau ketika itu seperti ini, ” Urang yang maambiak tu nyo urang yang bajilbab dalam, Ci.” Ooh, mungkin Saya yang cepat tersinggung atau mungkin karena Saya juga berjilbab ‘agak’ dalam, Astaghfirullah, suuzonkah Saya pada Bapak tersebut? Tapi dari kalimat Bapak tersebut kita bisa mengambil hikmah bahwa dalam berbicara, mari kita pikirkan sebelumnya agar apa yang kita katakan tidak ambigu (bermakna ganda, meragukan). Dan, jangan seperti menyudutkan secara sepihak secara penuh dan kita harus tahu atau paham dengan apa yang akan kita katakan.

So, mari kita menjaga hati, diri, dan tentunya barang-barang kita agar tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan (Lain lagi ceritanya kalau itu cobaan dari Allah SWT). Dan, banyak-banyaklah berbuat baik, mulai dari hal yang sederhana, mulai dari diri kita, dan lakukan sekarang juga!

Wallahu’alam

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s