Posted in penaku

Haruskah Study Oriented??

Ci, Ami sebenarnya g mau jadi orang yang study oriented. Ami juga mau ikut organisasi.

Begitu penggalan cerita seorang teman dekat sekitar 1 tahun lalu. Saat itu saya masih kelas 1 semester ganjil di MAN 2 Padang. Bermodalkan keyakinan dan tekad untuk mencari ilmu, saya pun mulai ikut beberapa organisasi. Pertama, BRM (bina remaja muslim) MAN 2 Padang. Di saat yang bersamaan, saya juga dimotivasi kakak untuk masuk ASSALAM (asosiasi pelajar Islam) yang cakupannya sudah meluas, SUMBAR. Di mesjid dekat rumah, saya juga bergabung dengan teman2 di RISMAM (remaja islam mesjid Amal Muslimin). Oya, saya juga sempat ikut ekskul silat, tapi cuma sebentar karena acara ASSALAM selalu hari minggu, silat juga hari minggu. Sebenarnya saya sempat tergoda untuk masuk Pramuka, drum band, tari dan PMR. Tapi ntah mengapa, saya merasa BRM adalah jiwa saya, komunitas yang aku banget. Jadi, saya bulatkan tekad untuk focus di BRM dan ASSALAM.
Apakah yang saya dapat setelah itu? Saya mulai bisa memahami dimana potensi diri, lebih percaya pada kemampuan diri,mampu berfikir maju, menambah wawasan bertambah ilmu, teman dan pengalaman. Banyak ilmu2 baru yang saya dapatkan dari pelatihan-pelatihan di BRM dan ASSALAM, diantaranya ilmu berorganisasi. Semua saya ikuti nyaris tanpa teman. Maksudnya, saya g ikut-ikutan teman, pergi ke acara BRM dan ASSALAM sering sendiri, Cuma sekali dua kali bareng teman.
Setelah masuk BRM, RISMAM dan ASSALAM, saya juga mencoba untuk masuk OSIS. Awalnya, saya g pede banget. Saya punya paradigma yang salah tentang diri sendiri saat itu. Saya yang bukan siapa-siapa mau masuk OSIS? Ih, hebat bener kamu ci! Apa yang bisa kamu berikan untuk OSIS? Apa yang bisa kamu lakukan? Apa sih hebatnya kamu? Duuh, saya sempat ragu juga untuk ikut LDKS (latihan dasar kepemimpinan siswa) OSIS sebelum masuk jadi pengurus. Di saat- saat pelatihan selama 3 hari itupun nyaris saya g aktif sama sekali. Saya hanya sekali ke depan, itupun untuk menarik kesimpulan dari sebuah games dan saya deg-degan banget! Saya seperti orang kebanyakan yang g punya sesuatu untuk dibanggakan, padahal saya g mau jadi orang yang biasa2 saja.
LDKS pun selesai dan akan datang saatnya untuk mencari pengurus baru OSIS. Tahap pertama, MPK (majelis perwakilan kelas) berganti kepengurusan. Kakak kelas para ‘pejabat’ MPK berjalan ke kelas-kelas mencari pengurus MPK baru. Namanya juga MPK, perwakilan kelas dong. Saya g ikutan, tapi teman dekat saya, Rahmi Naska masuk. Awalnya pun dia g mau. Karena teman2 yang mencatat namanya dan kakak2 yang ke kelas kenal sama Rahmi, akhirnya dia masuk juga. Sejak hari itu, pengurus baru MPK mulai rapat sepulang sekolah. Mereka berganti kepengurusan dan berkewajiban untuk mengganti kepengurusan OSIS. Hari berlalu dan sampailah pada hari itu, selasa (tanggalnya lupa). Kakak-kakak kelas 2 datang ke kelas meminta sumbangan karena ada kemalangan. Saat meminta sumbangan, seorang kakak menanyakan siapa yang namanya Suci Amalia. Saya terkejut dan langsung diberi sebuah surat. Rahmi mulai senyum-senyum sendiri seperti meyakinkan saya pada sesuatu. Saya baca dan…..what??? ternyata MPK meminta saya untuk datang nanti siang dan menyampaikan visi misi sebagai calon pengurus inti OSIS!
Ya ALLAH, kenapa begini??? Akhirnya Rahmi dan 2 orang teman lagi, Ita dan Nurul menceritakan awal mulanya. Beberapa hari sebelumnya, pengurus baru MPK memberikan beberapa surat untuk masing-masing kelas agar memilih calon penugurs inti OSIS dari perwakilan masing-masing kelas. Namun, surat-surat itu diambil guru yang sedang mengajar di kelas saya karena ketua kelas sibuk membaca surat itu saat belajar. Marah dong BU guru! Bu guru pun g mau mengembalikan surat2 itu, jadilah kelas saya tidak memberikan kembali suratnya pada MPK dan tidak ada perwakilan dari kelas. Saat rapat MPK, Rahmi memanfaatkan kemampuan bicaranya untuk ‘promosi’kan saya (lho, koq?). Ya, Rahmi melihat ada beberapa keganjalan dalam pencarian pengurus OSIS yang baru. Beberapa siswa kelas satu yang dipilih sebagai calon pengurus baru, Rahmi rasa kurang gimana…gitu untuk memegang kendali di OSIS. Rahmi pun mulai membicarakan tentang saya pada para pengurus MPK. Rahmi menceritakan bagaimana sifat saya, sikap dan cara pandang saya. Tapi, Rahmi menambahkan bahwa dia mengatakan saya pantas menjadi pengurus OSIS bukan karena saya temannya atau alasan subjektif lainnya, tapi karena dia yakin saya bisa dan beberapa alasan objektif lain. Jadilah di tangan saya ada surat pencalonan itu. Senangkah saya? Jujur, sedikit senang. Tapi lebih banyak takutnya karena mengapa baru pada hari H saya dikasi tau? Rahmi minta maaf karena kemaren lupa memberi tahu pada saya. Saya takut dan bingung, apa yang mau saya bilang nanti? Padahal, awalnya masuk OSIS sebagai anggota saja saya sudah senang. Tapi pengurus inti??? Saya harus punya visi atau tujuan mengapa saya pantas dipilih masyarakat MAN 2 sebagai pengurus inti dan harus punya misi atau jalan untuk mewujudkan visi. Rahmi meyakinkan saya bahwa saya bisa. Rahmi bilang bahwa nanti ci bilang saja apa yang ci rasakan dan apa yang ci inginkan untuk OSIS agar OSIS menjadi lebih baik. Sejak detik pemberian surat itu sampai waktu penyampaian visi misi, saya deg-degan terus. Tangan dingin dan ogah bicara banyak sama orang. Saya kembali memotivasi diri sendiri bahwa saya bisa, walaupun saya saat itu bukan siapa-siapa dan g dikenal banyak orang di MAN 2, saya harus bisa menunjukkan bahwa saya bisa dan tidak main-main dengan tanggung jawab yang diberikan pada saya nantinya.
Alhasil? Saya lolos balon(bakal calon) OSIS dan menjadi kandidat pengurus OSIS. Sekali lagi saat itu karena bantuan Rahmi dan beberapa teman lama di Tsanawiyah yang juga pengurus MPK. Kami, 4 orang kakak kelas 2 dan 4 orang kelas 1 dipasangkan. Saya berpasangan dengan kak Indah Etika. Setelah melewati Pemilu Raya OSIS MAN 2 Padang, kami terpilih menjadi bendahara. Kak Iin menjadi bendahara, saya wakil bendahara. Saya jadi pengurus inti OSIS? Ini awalnya diluar perkiraan awal saya. Kembali, untuk kesekian kalinya hingga saat ini, saya bersyukur pada Allah karena telah memberikan pada saya sarana pembelajaran baru dan saya dapat mengembangkan kemampuan diri. Saya juga berterima kasih pada Rahmi karena telah ‘menyebut-nyebut’ saya di rapat2 MPK.
Saat itu, saya dan Rahmi sempat cerita-cerita tentang kesibukan kami. Saya katakan pada Rahmi bahwa dia pantas masuk OSIS, dia berpotensi untuk berorganisasi, dia bisa dan dia bisa! Tapi, Rahmi tidak masuk organisasi apapun di MAN 2 yang menyita waktunya kecuali MPK. Di MPK, Rahmi hanya sibuk sekitar 1 bulan, sesudah itu g lagi. Rahmi bilang, Ibunya minta kalau Rahmi focus belajar saja dan juga focus pada pesantren. Ya, keluarga Rahmi mempunyai sebuah pesantren yang semakin lama gaungnya semakin terdengar hebat, Almunawarah Buya Naska. Rahmi diamanahi membina adik-adik di pesantren dalam hal organisasi, Rahmi sebagai penanggung-jawab atau istilahnya Pembina semua ekskul di sana. Dia bilang, dia sudah cukup sibuk di pesantren yang juga langsung ada rumah pribadinya, Rahmi juga harus di rumah menemani Ibunya walaupun banyak anak-anak pesantren. Abang-abang Rahmi tidak tinggal disana dan Ayahnya sudah meninggal. Jadi Rahmi yang menemani dan membantu Ibunya di rumah.
Rahmi juga meyakinkan saya, bahwa saya harus ikut berorganisasi, karena dia bilang saya bisa. Kami memang sering diskusi dan membicarakan berbagai hal, mulai dari cinta sampai invasi Amerika ke Irak. Hehe, walaupun ilmu saya g banyak2 banget. Rahmi mengatakan, bahwa abangnya mengatakan, lebih baik menjadi siswa yang oriented study daripada study oriented. Maksudnya, jadilah siswa yang g hanya belajar TOK atau hanya belajar-belajar saja di usia remaja ini, tapi jadilah remaja yang juga aktif di luar, ikut organisasi, ikut ekskul atau perkumpulan2 lainnya. Sebenarnya saya mulai menanamkan kalimat-kalimat itu sejak Tsanawiyah. Kakak saya cerita, dia awalnya canggung ikut organisasi saat baru-baru kuliah. Saat SMA, beliau tidak dapat ilmu yang banyak tentang organisasi dan tidak berpengalaman dalam berorganisasi. Imbasnya, saat masuk kuliah beliau canggung juga bergaul lebih luas dan bingung saat awal2 masuk organisasi. Kakak mengingatkan saya bahwa saya g boleh seperti itu, saya harus ikut organisasi, harus bersosialisasi.
Satu tahun di OSIS, banyak tabungan ilmu dan pengalaman saya. Teman pun bertambah. Kepengurusan OSIS baru pun kembali digelar. Saya kembali dicalonkan. Ulfi fajri wakil ketua OSIS, kembali bersaing dengan saya dan 2 pasang teman lainnya untuk memperebutkan kursi ketua OSIS. Kami yang berempat pasang ini (termasuk 4 orang kelas 1 juga) g bersaing yang gimana…gitu. Kami yakin bahwa Ulfi yang akan menjadi ketos. Kami pun membangun kerja sama sejak sebelum Pemilu Raya OSIS, karena kami akan bertemu kembali dalam kepengurusan OSIS dan harus menyatukan 1 visi misi jika Pemilu Raya usai. Ternyata benar, Ulfi Fajri menggantikan Hidayat Eka Putra menjabat ketua OSIS MAN 2 Padang masa bakti 2008-2009. saya dan wakil saya Fitri Handayani di Sekretaris, Romi Perdana dan wakilnya Edelwiss Surya Kencana Putri di posisi bendahara. Kami dilantik pada hari senin, 3 Maret 2008.
Selama lebih kurang 2 tahun ini, saya mendapatkan banyak hal dan juga banyak tanggung jawab. Kelas 1 dan 2 saya lalui dengan penuh semangat. Sebenarnya yang lebih semangatnya di kelas 2 ips ini. Mengapa? Pertama,alhamdulillah bisa bergabung di beberapa komunitas yang positif, saya g hanya belajar, saya g study oriented tapi oriented study. walaupun begitu, nomor 1 bisa saya raih dan saya pertahankan di kelas, meski tidak nomor 1 di sekolah.
Kedua, saya duduk di kelas yang jurusannya memang saya suka, kelas social istilah saya. Awalnya banyak teman2 yang protes, koq Suci di ips? Mukanya kayak anak ipa (cie…g juga koq!). koq Suci g masuk ipa? Nilai ipanya berapa? Duuh, teman2, saya masuk ips bukan karena nilai ipa g mencukupi untuk masuk ipa, bahkan di rapor ditulis masuk jurusan ipa. Saya tu sukanya ilmu2 sisoal gitu, lagian saya g betah mengolah soal2 hitungan seperti di ipa. Lagian, kita harus ingat dong, kalau minat tiap orang klan beda-beda, ya g?? ada juga yang bilang, dari segi penampilan, saya dikira anak IAI, jurusan agama. Ya……terserah aja deh, hihi…
Dari sekian banyak ‘belenggu’ dalam diri yang bisa mengubur potensi diri saya, bisa saya taklukkan satu per satu. Seperti, 1 tahun lalu, saya g berani banget ngomong di depan umum! Asli ! berdiri dari tempat duduk menuju ke depan kelas untuk bicara saja saya sudah gemetaran. Untuk bertanya kalau g ngerti pelajaran saja saya g bisa. Tapi, setelah saya yakinkan diri bahwa saya bisa, saya motivasi terus diri dengan melihat seorang teman dekat yang sangat hebat bicara di depan umum, saya pun mulai mencoba untuk itu. Berawal dari pengambilan nilai pidato di depan kelas saat semester genap kelas 1. saya kuasai materi pidato dan saya mencoba untuk rileks. Saat nama saya dipanggil untuk ke depan, dengan sedikit tersenyum pada diri sendiri dan mencoba tetap tenang saya melangkah ke depan. 1 tekad yang saya simpan, orang lain bisa koq kita g bisa? Pasti bisa! Sampai di depan, saya melihat ke seluruh teman-teman, mata ketemu mata, semuanya memperhatikan saya. Saya berusaha menguasai seluruh keadaan kelas dengan melihat sekeliling ruangan. Ajaib, gugup saya hilang! Mulailah saya berpidato dengan santai….
Jujur, setelah itu saya jadi suka ketagihan ngomong di depan. Saya juga mulai terbiasa untuk mengemukakan pendapat dalam rapat, diskusi dan di kelas. Apalagi, saya yang sekarang di kelas social atau IPS, sangat memerlukan yang namanya aktif bicara, berargumen atau bertanya. Jujur, saya jadi suka ngomong di depan. Lagipula, saya dituntut untuk itu. Di Forum Annisa’, as a leader di keputrian BRM, saya harus bisa tegas di depan teman-teman FA. Di OSIS, saya harus buka tutup rapat, kasi pengarahan pada rekan2 kelas 1 dan kelas 2.Di ASSALAM dan BRM, kalau rapat kita harus mengemukakan pendapat, masukan atau ide2 kreatif baru.
Ya, sekarang saya yakin. Semuanya bisa kita taklukkan, semuanya yang kita inginkan bisa kita dapatkan ( yang baik2 aja lho) kalau kita mau berusaha

so, asalkan kita bisa membagi waktu antara belajar dan berorganisasi, sebenarnya g masalah dan waktu belajar g akan keganggu koq gara2 kesibukan kita diluar. Jadi, mari kita buang prasangka bahwa sebagai siswa memang harus bener2 belajar untuk dapat rangking atau nilai bagus. Toh, banyak bukti dan contoh kan orang yang sibuk juga bisa juara dan berprestasi??? semua tergantung niat, tekad dan kerja keras

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s