Posted in Renungan

Dilema Saat Ujian

Aneh! Memang hal ini (bagi ci) sangat membingungkan. Gimana g’, analoginya seperti cerita Sebuah Negeri yang penduduknya hanya punya 1 telinga. Singkatnya, di sebuah negeri antah berantah yang dipimpin seorang Raja. Sang Raja malu pada rakyatnya karena kecelakaan yang menyebabkan salah satu telinga Raja sakit dan harus dipotong. Agar Raja tidak malu, seseorang memberi saran agar Raja memerintahkan seluruh rakyatnya untuk memotong sebelah telinga mereka. Jadilah negeri itu negeri dengan satu telinga. Pasti sudah banyak yang tau cerita ini.

 

Awalnya hal itu sebuah keanehan, tapi menjadi biasa karena dibiasakan.

 

Sama seperti permainan yang satu ini. Ini pasti juga sudah banyak yang tau. Ada 2 buah benda, pensil dan pena. Ketika ditunjuk pensil, kita harus menyebutkan pensil. Begitu juga dengan pena. Ulangi beberapa kali. Sekarang, mari kita ubah. Saat pensil yang ditunjuk, kita harus meyebutkan pena, bigitu sebaliknya. Begitu seterusnya. Awalnya pasti terasa aneh, tapi setelah terbiasa, biasa saja bukan?

 

Begitulah kita, sesuatu yang aneh dan mungkin juga menyimpang akan menjadi biasa dan dilegalkan. Ini pula yang terjadi didekat kita, para pelajar dan seluruh elemen sekolah pasti sudah biasa melihat. Ci, jujur sangat tidak suka dengan hal ini. Ulangan dan ujian bukannya menjadi sarana pengujian kemampuan diri, tapi malah menjadi tabungan perbuatan tidak baik bagi mereka(termasuk teman2ku).

 

Please deeh teman-teman, susah apa memerhatikan guru selama 2×40 menit saat menerangkan pelajaran? Susah ya belajar serius dirumah? Susah ya buat pr sendiri(kalau benar2 g bisa, baru tanya teman)? Susah ya berfikir sendiri, g nanya sana sini waktu ulangan atau ujian? Puas kalau ujian tidak dari usaha sendiri dengan belajar? malah celingukan g karuan nanya-nanya teman.

 

Budaya ‘saling membantu’ saat ujian memang sudah tidak asing lagi sepertinya di setiap kelas-kelas tempat para generasi penerus bangsa menuntut ilmu. Bahkan, cid dan sebagian sebagian kecil teman-teman di cap aneh, pelit, sok, dan g’ setia kawan. Ci, hanya menanggapi dengan senyuman.

 

Atau, ada yang berargumen, kan kita masih sekolah, lagi happy-happynya, biasa dong!!!

 

Duuh, kita kembali deh ya ke tujuan awal ujian. Ujian itu gunanya untuk menguji kemampuan diri dan pemahaman kita pada pelajaran. Sama seperti ujian yang diberikan Allah berupa musibah, bencana atau apapun. Untuk apa? Ya untuk mengukur kadar keimanan kita, ya kan???

 

Berdasarkan pengalaman, asal ada kemauan untuk berubah dan semangat untuk belajar, ilmu itu akan lengket juga koq di pikiran kita. Gimana caranya agar ada kemauan? Ya…harus ada kesadaran! Kalau g punya kesadaran? Hmm, berarti hatinya keras. Harus dilunakkan, bisa dengan lebih banyak ibadah, merenung tentang hakikat hidup(lho, koq perginya ke situ ya???).

 

Ya, ci sebenarnya kurang suka dengan moment-moment ujian ini. Ci selalu berusaha konsisten pada pendirian, waktu ulangan dan ujian ci g mau lihat buku atau jimat, g mau tanya sama teman dan juga g mau bagi-bagi  jawaban sama teman. Kalau latihan dan pr, welcome. Silahkan lihat. Toh setelah banyak guru yang kasi tau kalau nyontek latihan teman sih g apa2, tapi kita harus ngerti. Eh…malah teman-teman ku tercinta sebagian besar cuma asal contek aja tanpa mengerti apa yang dibuat. Bukannya ci g pernah lihat latihan orang, pernah pasti. Tapi g sering, kalaupun lihat punya teman, ci nanya gimana caranya atau darimana tau isinya.

 

Bagi teman-teman sekolah yang membaca tulisan ini dan marah, maaf ya. Berarti kamu merasa dong??? Hehe….’afwan jiddan sekali bagi yang merasa atau yang g suka dengan tulisan ini. Semoga, teman-teman bisa paham dengan sikap ci yang g mau nolongin waktu ujian. Silahkan kasi comment di box bawah yang telah tersedia atau di Guest book nya, oke…

2 thoughts on “Dilema Saat Ujian

  1. Suatu budaya itu datang dengan sendirinya…yang paling sulit adalah merubah budaya yang sudah tertanam dalam diri…. akan tetapi berusaha untuk berubah kearah yang lebih baik adalah suatu cara untuk sukses…
    disaat engkau melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, klo tidk sanggup cegahlah dengan perkataanmu, klo masih tidak sanggup maka doakanlah ia mudah2an menyadari kesalahan dan kekhilafannya…
    jangan berhenti berjuang untuk kesuksesan bersama….
    mudah2an dengan munculnya pemikiran seperti suci amalia ini, akan mempengaruhi teman2 yang lain yang nantinya akan menghantarkan MAN 2 Padang dan seluruh siswa2nya menuju jenjang kesuksesan yang gemilang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s