Posted in penaku

Amal Muslimin

Hmmm….mungkin Anda bingung, koq judulnya Amal Muslimin? Itu nama apa??

Masjid Amal Muslimin adalah mesjid itu. Mesjid tempat kami para anak-anak kompleks Wisma Indah VII belajar mengaji, wirid remaja, sholat tarawih dan tadarus di bulan ramadhan, dll. Bahkan bagi yang TKnya di TK Amal Muslimin, sudah merasa sangat dekat dengan mesjid ini.
Dulu, saat belajar di MDA Amal Muslimin, kami harus sholat ashar berjamaah di mesjid. Setelah sholat, kami yang putri berebutan duduk duluan di shaf laki-laki untuk bersama-sama membaca doa keluar mesjid. Dan, ada satu hal yang menarik (setidaknya bagi kami yang merasakan). Kelas-kelas MDA yang berada di lantai dua mesjid selalu dikunci oleh Bapak Guru MDA dan hanya akan dibuka saat jam MDA di pagi dan sore hari. Naah, kami akan berebutan keluar mesjid dan menaiki tangga sehingga tangga penuh oleh kami yang kelas 1 dan kelas 2 karena berdesakdesakan di tangga. Saya lupa mengapa kami berebutan ingin duluan masuk kelas, mungkin karena kami sudah mengincar kursi dan posisi masing-masing di kelas, jadi kami berlomba menjadi yang pertama masuk kelas. Bayangkan bagaimana sebuah tangga dipenuhi oleh kami hingga Bapak Taufik atau Bapak Man (guru kami saat itu) kesulitan naik tangga untuk membuka kunci pagar di anak tangga paling atas. Kakak-kakak kami yang kelas 3 dan 4 berdiri santai di bawah sambil melihat begitu norak tingkah adik-adiknya. Saya tidak tahu apakah ‘tradisi’ itu masih dilestarikan sampai sekarang atau tidak.

Kini, di bulan ramadhan 1431 H ini, kami yang sudah kuliah ini menjadi panitia pesantren ramadhan yang tiap tahun diadakan se kota Padang. Meski tak semua dari kami dulu yang merasa ‘terpanggil’ mengabdi semampu kami untuk warga berupa menjadi panitia, tapi tak apalah. Kami kak Reren sebagai ketupat (ketua panitia) bekerja sama agar pelaksanaan PR tahun ini lebih baik. Akmal, Dayat, Bang Madi, Bang Al dan beberapa abang-abang yang lain juga memutar otak dalam pelaksanaan pesantren serta tadarus. Udaku, Uda Isat, juga membantu sedikit-sedikit walau beliau secara formal tidak menjadi panitia seperti tahun lalu (karena baru pulang dari Bogor). PR kali ini berbeda karena kami pakai Rea (meja rendah untuk di lantai) dan pelaksanaan tadarus yang sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu tadarus perkelompok plus kuis tiap malam dan hadiah bagi yang beruntung. Saya masih ingat saat masih MDA, semuanya membentuk lingkaran (perempuan dan laki-laki) dan membaca Alquran bergiliran dengan mic yang dibimbing Bapak Guru MDA. Semua mendapat giliran untuk membaca Alquran sambil memegang pengeras suara, jadi suara kami bisa terdengar hingga keluar masjid. Entah kapan sistem tadarus seperti itu berakhir, yang pasti beberapa tahun terakhir kami bertadarus perkelompok dan tidak dengan pengeras suara. hanya suara gharin masjid atau beberapa remaja laki-laki yang mengaji dengan pengeras suara.

Kami sebagai panitia berusaha berbuat lebih baik. Selingan berupa games, presentasi menarik nan kaya hikmah, nasehat, diskusi, dan kedekatan dengan adek-adek mudah-mudahan bisa membuat mereka sebagai peserta merasa nyaman dan mengikuti kegiatan ini dengan baik. Pelaksanaan pesantren 1431 H secara umum se kota Padang juga lebih baik dengan adanya koordinasi antarkelurahan dalam wadah Forum Komunikasi Panitia Pesantren Ramadhan. Kalau di kelurahan Parupuak Tabiang, Forum sekelurahan ini dikomandoi oleh Bapak Siril Firdaus, M. Ag. Kegiatan pesantren juga dipantau dan dinilai oleh kelurahan yang seterusnya dilaporkan ke walikota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s