Posted in Renungan

Cerita dalam renungan

Pelataran MKU. Dia termenung. Melihat, memikirkan saat itu. Menyayangkan, bahwa dia tidak lagi ada di situasi yang sedang dia pikirkan. Air mukanya tak terbaca. Air matanya tertahan.

Dia bersekolah selama 6 tahun di sekolah agama yang cukup terpandang, setidaknya bagi beberapa orang. Tiga tahun pertama dia lalui dengan biasa saja, katanya. Tidak ada yang menarik dan berkesan, walaupun saat itulah dia merasa jatuh cinta ala anak sekolahan. Dia merasa rendah diri dalam banyak hal, kecuali dalam bahasa Inggris. Dia hanya merasa sedang belajar mencari jati dirinya dengan membaca buku, majalah, dan mendengar berbagai nasyid punya kakaknya. Dia mulai tahu sedikit tentang kesibukan kakaknya, tentang bahasa Inggris, dan politik.

Saat-saat yang menurutnya menyenangkan dan penuh warna adalah di tiga tahun terakhir sekolahnya. Dia mulai mempunyai lebih banyak teman. Dia mulai ikut berorganisasi. Tidak hanya 1, tapi 4 sekaligus. Dia menikmatinya. Dia menjalani pergi pagi pulang maghrib dengan senyuman, karena dia belajar banyak hal setiap hari. Dia mulai berani menyampaikan pendapat di depan teman-temannya. Dia tak lagi segan berbicara di depan umum. Dia mulai mengenal dan dikenal para siswa di sekolahnya. Hal-hal dasar itu didapatkannya di organisasi luar sekolah yang dimasukinya. Pemahaman dasar tentang keislaman dan keorganisasian yang dia dapatkan, dipraktekkannya secara sederhana di organisasi intrasekolahnya.

Maka, hari-hari terasa lebih menyenangkan. Dia mendapatkan apa yang dulu dia inginkan. Kesibukannya ternyata berdampak positif terhadap nilai-nilainya. Dia juga bisa mendapatkan beberapa prestasi yang membanggakan dengan membawa nama baik sekolahnya. Meski tidak sebanyak teman-temannya yang lain, dia merasa cukup karena telah berani mencoba. Pada masa-masa akhir sekolahnya, dia merasakan sedikit kekhawatiran karena akan meninggalkan lingkungan yang telah sangat nyaman dirasanya. Namun dia berharap akan mendapat pembelajaran yang lebih saat kuliah nanti.

Kembali, air matanya tertahan. Dia kembali mengingat aktivitasnya dulu. Dia ingin menjadi lebih dari sebelumnya, meski, sekali lagi, itu relatif. Dia, sejak lulus sekolah, sadar bahwa dia pernah mendapatkan pembelajaran dari 3 ‘lini’-istilah para ADK- di sekolahnya. Dia sadar bahwa menjadi pribadi yang berada di beberapa lini, terutama di sekolah, sangat penting dalam mencapai beberapa pencapaian strategis. Dia sedih karena dulu tidak begitu maksimal dalam menjalani dan mengevaluasi pergerakannya waktu itu. Dia sedih karena dia merasa single fighter di ketiga lini itu sekaligus. Sahabatnya saat itu hanya berada di 1 lini. Dia sedih, karena sekarang, dia tidak mampu memback up adik-adiknya di sana. Dia sedih, khawatir tidak maksimal menjadi lebih baik dalam 3 lini itu karena dia sekarang tidak di sana seutuhnya. Namun, hal yang diyakininya adalah, Allah merencanakan yang lebih baik untuknya. Allah memberinya kesempatan untuk fokus pada hanya 2 atau 1 lini saja. dia tahu kemungkinan lain, dia tahu, dia yakin.

2 thoughts on “Cerita dalam renungan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s