Posted in Pesantren Ramadhan

PR 1432 H (Part 2)…

*05.50, Meja panitia
Lantunan asmaul husna menggema walau peserta belum begitu bersemangat menyanyikannya. Mukena tiga Ibu Guru SMP yang duduk di sudut sana masih terpasang. Seperti biasa, mereka, mungkin tanpa sadar membuat majelis kecil di majelis ilmu ini. Adik-adik SD bersiap pulang. Mereka satu persatu menyalami kakak-kakaknya, panitia. Sekarang giliran adik. “Kak Uci, adik pulang dulu ya…”seperti biasa, Ci disalaminya. Didaratkannya punggung tangan ini di keningnya.
“Surat Quraisy itu tidak diawali dengan Al, karena itu nama kabilah”, kata Bang Al.

*06.20
Rea sudah pada posisi stand by untuk dipakai peserta. Andika, Rian, Herman, dan Hilmi sudah mengambil rea kelompok mereka. tiga dari mereka masih berdiri lalu berjalan ke WC. Andika duduk dan langsung mengeluarkan buku kecil. Ooh…juz 30, juz’amma. Itu hadiah dari panitia untuknya karena di 5 hari pertama pesantren, ia yang datang tidak terlambat dan langsung sholat dhuha tanpa diingatkan panitia dan tidak mengganggu adik-adik SD yang masih pesantren. Pemberian doorprize itu mengejutkan peserta. Seiring bergantinya hari, hampir semuanya tidak terlambat lagi.

*07.00
Masih mendung. Pak Syamsurizal sudah datang, siap-siap untuk memberi pelajaran. Kak adek kayaknya lagi bad mood. Terlebih karena bang Al menyapa kak adek dengn panggilan yang kurang baik, tidak disukai kak adek. Ci juga tidak suka mendengarnya.

*08.10
Pelajaran Asmaul Husna sudah selesai. Peserta putri meminta games sambil melihat ke kak adek dan Ci. Pak Syamsurizal tertawa. Games terus, pikirnya. Ci minta tanda tangan beliau. Kak adek ready untuk memberi games. Tapi…ada yang muncul di belakang kak adek dan membuatnya malas untuk memandu games. Orang itu berdiri dan duduk di kursi depan. Diserahkannya waktu untuk games ke orang itu. Dan sekarang, games hampir selesai. Tahu orangnya siapa? Hehe…siapa lagi kalau bukan salah satu tokoh yang beberapa menit lalu..

*08.37
Bu Mita sudah mengambil alih acara. Kak adek duduk di belakang agak ke tengah. Bang Al duduk di depan meja panitia. Ci geser jilbab jualan bang Al yang ada di atas meja panitia ke arahnya. Bang Al mengambil jilbab itu sambil bilang “ba a bantuaknyo bang pakai jilbab yo?”. Ia langsung mengambil cermin gantung dan meletakkannya di atas lantai. Dipakainya jilbab sambil mencoba-coba, bagaimana cara memantaskannya. Para peserta tertawa. Kak dek menatap tajam ke bang Al, sangat tidak lucu, sanggahnya.

*11.05
Hadiah ulang tahun untuk Ari diberikan oleh Pak Madi. Then, Pak Dadang tampil memberikan pelajaran. Kak adek diam. Sebenarnya sudah dari beberapa menit sebelumnya, kak adek mau ke kampus, tapi….

*11.20
Caca masih di masjid menemani kami, panitia. Hehe…caca jadi panitia dadakan. Membantu kami sedikit-sedikit. Pak Dadang bercerita tentang Al-qur’an.

*11.31
Pak Madi (sebenarnya bang) menghilangkan correction pen panitia. Kami sibuk mencari. Pak Madi bilang tidak mengambilnya. Pak Dadang menyebt cahaya Iman. Ya..cahaya iman itu dicari, bukan dinanti. Dayat hari ini stand by full di masjid. Alhamdulillaah..

*11.45
Panitia sibuk dengan kegiatan masing-masing, termasuk kak adek dan Ci. Kak adek memikirkan KRS yang penjadwalannya berubah. Kak adek juga kelihatan capek. Caca duduk di dekat kak adek, di dekat Ci juga. Caca menuliskan sesuatu di notes Ci.
Pada menit ke-50, kak adek tiba-tiba bilang kalau CP yang awalnya kami sangka dihilangkan Pak Madi, ternyata dipinjamkan ke Bu Yat beberapa hari lalu. Pak Madi yang plegmatis Cuma senyam-senyum.

*12.00
Penjelasan Asmaul Husna keempat, Ar-rasyiid, selesai. The last, Ash-Shobuur. Bu Len selesai membuat selembar soal TO untuk SMA di laptop Ci. Hehe…Guru memang deg-degan kalau anak-anak didiknya mau ujian. Tiba-tiba, mobil ambulance dan beberapa kendaraan warga datang menuju masjid. Kami pun nanti akan menyolatkan jenazah.

Kak adek dan Ci tidak merencanakan tentang ini di keesokan hari :
*Sabtu, 20 Agustus 2011, 07.30
Kak adek ajak Ci ke rumahnya, mau ambil papan ujian untuk Nia. Kamipun mengalihkan pandangan ke Pak Madi di depan, “pinjam la motor Pak Madi”, kata Ci. Beberapa menit kemudian, kami sudah sampai di rumah kak adek. Setelah itu, kami meluncur ke pantai sebelah barat wisma indah VII. “panitia juga butuh refreshing..”kata kak adek. Kami turun dari titannya Pak Madi. Kami menatap jauh ke arah laut. Deburan ombak yang menyejukkan. Desiran ombak, buih, dan angin sepoi-sepoi yang sejenak menghilangkan ingatan kami pada masalah dan beban selama 20 hari belakangan.

*Minggu, 10.55 di meja panitia
Afifah dan Ci menyembunyikan notes kak adek. Kak adek panik tapi tidak tahu kalau kami yang sembunyikan. Sepertinya kak adek sayang sekali dengan notes yang dikasih itu. Cantik dan bagus notesnya. Kami lihat sana sini, buka tas ola dan…ternyata di dalam tas Caca. Kak adek ngambek sambil menahan senyum. Dan…tertawa lagi.