Posted in Me

KM 63,5

Sudah di Shahab Perdana, Alor Star. Turun Maraliner, langsung disambut Pak Cik penjual tiket ke Butterworth. Uang RM 10 berganti tangan dan tiket langsung didapat serta kembalian ceiling 20 sen. 15 menit kemudian, bus ekspres nan nyaman ini berangkat walaupun penumpang tak lebih dari 15 orang dengan kapasitas kursi 40 lebih. Kalau sudah waktunya berangkat walau bus tak penuh, ya tetap berangkat..

Baru keluar dari bus station, bus langsung melaju ke SPBU terdekat. Para driver di Malaysia sudah terbiasa mengisi dan membayar sendiri tanpa ada petugasnya. Agak lama menunggu, driver dan kawannya yang juga pekerja di bus ekspres ini, terlihat bercakap-cakap sambil menunjuk ban depan sebelah kanan bus. ‘mungkin kurang angin’, pikirku. Tak lama, bus jalan lagi, pegawai bus tadi berpisah dengan kami, ia tidak naik bus ke Butterworth.

Bus ini tidak terlalu laju, tidak seperti bus-bus sebelumnya. Aku teringat ban depan sebelah kanan yang ditunjuk tadi. mungkin ban itu yang membuat driver tidak laju jalankan bus. Ci lihat hp, hmm..jam setengah 9 lewat. Berarti bisa sampai KJRI Penang jam 11an.

Bus memasuki tol. Ci bisa lihat di tepi dan tengah jalan ada tanda di setiap 500 meter, menandakan berapa jarak yang sudah dan akan dilalui. Lupa berapa kilometer jaraknya, dan ini sudah di kilometer 50.

Setelah ngemil dan minum sedikit, tiba-tiba ada bunyi aneh dari bawah bus. Sepertinya ada something wrong. Tidak terlalu besar memang bunyinya. Tapi bunyinya semakin jelas dan keras. Ci, duduk nomor dua di belakang driver, lihat ke depan, driver sepertinya tenang-tenang saja. ci lihat spion tengah, drivernya no expression. Tiba-tiba…ada bunyi keras dari arah kanan depan, seperti bunyi batu besar yang hancur dilindas bus. Ternyata bukan batu! Ci yakin karena di kanan depan bus tiba-tiba beterbangan benda-benda kecil hitam dan mulusnya jalan bus mulai terganggu. Benda-benda yang beterbangan itu seperti dari bawah bus, saling betubrukan dengan badan sebelah kanan bus dan menimbulkan bunyi yang keras. Para penumpang, yang tak cukup 15 orang, melongokkan kepala ke depan dan ke samping. Driver segera menepikan bus sambil melihat kanan kiri dan belakang, apakah ada kendaraan yang kencang melaju. Bus berhenti dan kami terdiam. Driver turun melihat dari dekat ke arah kanan depan. What happened?

Husnil dan Ci keluar, diikuti penumpang lain. Kami kaget melihat bannya hancur. Ada seorang mak cik yang menyesali keberangkatannya dengan bus itu. Ada yang mencari tempat untuk duduk sejenak di rerumputan tepi jalan tol. Ada Pak Cik dan laki-laki yang diam saja melihat-lihat ke sana ke mari. Husnil and I, senyum, berbicara, becanda, yang intinya, kami sepakat bahwa pasti ada hikmahnya. Driver yang sudah menelpon kawannya di kantor bus bilang kalau bus ekspress yang sama akan jalan pukul sepuluh setengah. Artinya, kami menunggu 1 jam lebih untuk jalan dengan bus selanjutnya.

Setelah lebih dari 10 menit berselang, driver yang dari tadi sibuk menelpon kawannya di kantor bus ekspress di Shahab Perdana, berinisiatif menghentikan bus yang lewat. Bus pertama ke Kuala Lumpur (kalau tidak salah), mau ‘membawa’ kami tapi hanya setengah jalan, tidak sampai butterworth karena tidak lewat sana. Satu dua dari kami naik. Bus itupun berlalu. Tak beberapa lama, lewat bus ke Sungai Petani, bersedia membawa kami hingga ke butterworth. Alhamdulillaah…kami naik dan meninggalkan driver dengan bus dan ban hancur di tepi jalan tol, kilometer 63,5.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s