Posted in penaku

Kama se, diak?

Saya baru saja turun angkot tabiang. Saya lihat di seberang, ada dua bapak-bapak ojek yang stand by di simpang asrama haji. Tidak seperti beberapa bulan lalu, sekarang sepi, pikir saya. Hmm, mungkin beberapa hari belakangan memang sedang sepi. Biasanya banyak yang mangkal, minimal lima motor ada di sana. Sekarang? Hanya dua. Tidak jauh beda, memang. Tapi tetap saja agak aneh bagi saya yang suka melihat di sana ramai, tidak sepi. Kenapa? Ntah lah, hehe.

Seperti biasa, setelah saya menyeberang jalan, salah satu Bapak ojek mengode saya dan langsung mendekati motornya setelah saya mengangguk. Saya berjalan mendekat. Si Bapak memperhatikan saya hingga saya berjalan di belakangnya dan naik motor. “alah Pak”, tanda saya sudah siap.Motor berjalan dan dalam beberapa detik kemudian, si Bapak bertanya, “kama se, diak? Kok ndak nampak salamo ko?”.

Saya tersenyum dan menjawab, “kuliah, Pak. Kuliah di Malaysia..”.

Si Bapak bertanya lagi, “ha? Tu tingga anak?”.

Saya kaget, “anak?”.

“Eeh, itu kakak yo, Pak sangko yang kakak tadi..”, cepat si Bapak meluruskan.

“Oo, iyo Pak. Kalau kakak di Batam, ndak di siko do.”

Kami melewati tempat les yang sudah mulai ramai, Pak ojek bertanya lagi. “Jadi kini dalam rangka apo di siko?”.

Cepat saya jawab, “sedang libur, Pak.”

“ooo..bilo apo..??”

“sabulan ko libur, beko baliak liak..”

“oo, banyak urang awak di situ yo?”

“iyo Pak, di kampus wak ado limo ratuihan.”

“kawan Pak ado lo di Malaysia, ma..”

Pembicaraan terhenti saat sudah sampai depan rumah. Saya beri dua lembar uang seribu dan dapat kembalian Rp 500.

Banyak tukang ojek di sini yang sudah hafal di mana rumah warga di sekitar sini. Saya sering tidak menyebutkan blok apa dan belokan mana saja saat naik ojek, kecuali abang-abang ojek yang baru. Mereka banyak juga yang tahu anggota keluarga kita.

Pernah dulu, saat saya masih di MAN 2, ada kawan saya –najmi- yang mau membalikkan catatan bahasa Jepang Saya ke rumah, sedangkan saya masih ada rapat di luar. Najmi bermodalkan nekat turun di asrama haji dan bertanya pada tukang ojek di simpang asrama haji. Dia nekat juga karena besoknya akan ujian bahasa Jepang, jadi catatan itu sudah harus di saya sore itu. Saat bang ojeknya tanya mau ke mana, Najmi bilang mau ke rumah teman, tapi tidak tahu blok apa, yang diingatnya hanya nomor 1, itu saja. Si abang ojek menanyakan ciri-cirinya dan sekolah di mana. Najmi bilang namanya Suci, anak MAN 2 Padang. Setelah ini itu, salah satu abang ojek mengantarkan Najmi ke blok C nomor 1. Sampailah Najmi di rumah Ci dan memberikan buku catatan ci ke Ibu.

Begitulah. Ojek mulai beroperasi di sini sejak saya SD, sekitar kelas 4. Awalnya, kita Cuma perlu bayar Rp 500. Lalu, Rp 1000 dan sekarang Rp 1500. Tukang ojek di sini umumnya dari pemuda dan bapak-bapak di sekitar sini. Tentu kita harus punya hubungan baik dengan warga sekitar, termasuk dengan tukang ojek (ada ide selain kata ‘tukang’?). Kalau bisa bercakap-cakap, mari kita mulai bicara. Kita sopan, orang lain segan.

4 thoughts on “Kama se, diak?

  1. iyelah buk guru. tapi memang yang tepatnya gak pake tukang kok ci. yang ado tu meng-ojek. karano tukang tu untuk memiliki keahlian tertentu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s