Posted in Me

Guncangan

Apabila diguncangkan Bumi seguncang-guncangnya.
Dan mengeluarkan Bumi beban-beban beratnya.
Dan berkatalah manusia: ada apa dengannya?
Hari itu Bumi memberitakan kabar-kabarnya. (Qs. Al-Zalzalah 1-4)

Malam ini, masyarakat Aceh, Sumut, Sumbar, Bengkulu, dan sekitarnya, panik. Mereka dilanda gempa kuat, 8,9 SR. Ada yang menyebut 8,5 SR. Bagaimanapun, getarannya kuat dan membuat masyarakat cemas.

Teringat saat di Padang. Sejak akhir 2004, setelah gempa dan tsunami Aceh yang menggegerkan dunia, para ahli dan berbagai organisasi terkait menyatakan bahwa akan ada gempa dan tsunami besar yang berpusat di Mentawai dan beberapa titik di Bengkulu. Indonesia tersentak melihat ganasnya air bah menyantap cepat berbagai bangunan dan korban di daratan Aceh dan beberapa negara yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia.

Pada awal 2005, saya lupa bulan apa, daerah Sumbar dan Bengkulu mulai diguncang beberapa gempa tektonik kuat. Beberapa tahun sebelumnya, Bengkulu memang pernah diguncang beberapa gempa vulkanik. Sejak gempa tektonik yang kuat itu, masyarakat waspada. Beberapa hari sejak gempa, ada beberapa orang yang belum berani tidur di kamar. Ada yang tidur di dalam mobil. Bagi yang rumahnya dekat pantai, banyak yang siang hari di rumah, malamnya pergi ke daerah ketinggian dan tidur di manapun mereka bisa tidur. Sejak itu, saya berusaha selalu waspada.

Rumah kami di dekat pantai, kurang 1 km. Pada pagi hari, akan terdengar debur ombar kalau naik ke lantai dua rumah kami. Dekatnya rumah dengan pantai, membuat saya sering tidak tenang. Saya minta ke ayah ibu untuk pindah ke rumah yang 1 lagi. Lumayan, agak jauh dan dekat dengan jalur evakuasi. Ayah ibu tidak mau pindah. Sebenarnya, kami sangat nyaman dengan lingkungan rumah yang kami tempati ini. Para tetangga yang baik, dekat dengan dua masjid yang jamaahnya aktif (??), dll. Kami sudah settled, istilahnya. Jadilah saya lalui hari-hari dengan selalu bersiap.

Kami letakkan beberapa jilbab di ruang tengah. Kalau ada gempa, kami bisa langsung menyambar jilbab dan memakainya sambil berlari ke luar rumah. Kami letakkan beberapa alat elektronik di tempat yang tidak mudah jatuh, atau minimal ada penyangga. Lampu kaca besar tidak dipasang lagi karena pernah pecah karena gempa. Ada beberapa helai kain di dalam 1 tas khusus. Keluarga lain yang lebih siaga, akan menyiapkan beberapa makanan, menyimpan beberapa kopian ijazah dan surat-surat penting di beberapa tempat, dll.

Sejak 2005 hingga sekarang, Padang, Mentawai, Bengkulu, dan sekitarnya dilanda gempa setiap tahun. Bulan Maret 2006, kami dikejutkan lagi. Tahun 2007 – 2008 ada beberapa gempa skala kecil dan menengah. Tahun 2009, 1 hari sebelum ramadhan adalah gempa paling kuat selama beberapa tahun itu. Orang menyebutnya G/30 S, Gempa 30 September. Biasanya, gempanya dari getaran kecil ke besar. G/30 S ini tidak. Langsung getaran kuat dan ini yang membuat banyak orang shock. Gempa kuat ini terjadi dalm 1-2 menit. Banyak yang tidak bisa lagi berdiri walaupun sudah memegang tiang atau apapun itu. Orang-orang terduduk dan saling berpegangan. Bagi anda yang belum pernah merasakan gempa kuat, bayangkan anda berdiri di depan sebuah bangunan (gedung tinggi atau rumah), tubuh anda bergoncang kuat hingga susah untuk berdiri sambil melihat dari dekat bangunan itu juga ikut bergoyang dan ada efek suara-suara benda bertubrukan. Bayangkan juga parkiran mobil di tepi jalan yang penuh dengan mobil berjajar. Mobil-mobil yang berdekatan itu bergoyang semua dan membuat tubrukan antarmobil. Masyaallaah….kuasa Allah luar biasa hebat. Gempa kuat itu ada yang meruntuhkan bangunan, ada juga yang tidak.

Gempa 30 Sept ini gempa kuat yang paling besar dan banyak kerugiannya di Padang dan beberapa kota lain di Sumbar. Mentawai dan Bengkulu juga rusak parah. Gempa ini memakan ribuan korban, membuat banyaknya daftar orang hilang, meruntuhkan berbagai gedung dan rumah, membuat jalanan umum menganga lebar, membakar beberapa rumah dan pasar. Ini tidak denotatif, kawan.

Listrik mati seminggu, aktivitas masyarakat lumpuh total, bau mayat di tengah kota, beberapa gedung pada posisi mereng, dll. Banyak bantuan datang meski tidak merata. Ya tentu tidak merata karena kerusakan akibat gempa tidak 100% di semua sudut kota. Berbagai instansi dan perusahaan membuat pos darurat di berbagai titik. Mereka menyediakan layanan kesehatan, charge hp gratis, dll.

Kata para ilmuwan, berbagai gempa besar berskala 6-8,5 SR selama 7 tahun belakangan ini bukanlah akhir dari muntahan energi perut bumi. Saya kurang paham juga, yang pasti ada energi di dalam perut bumi yang harus dikeluarkan menurut siklusnya. Menurut perhitungan, 7 tahun belakangan adalah waktunya energi besar itu melepaskan diri dengan adanya gempa kuat dan tsunami. Titik pusat gempapun banyak, tidak hanya 1 titik. Ada beberap titik dan patahan. Katanya, di Sumbarlah bertemunya 3 patahan dunia yang akan saling bertubrukan dan gempa besar di Sumatera. Belum termasuk patahan di bawah daratan yang kabarnya di bawah Lb. Alung, Pariaman, dll.

Kami, masyarakat barat Sumatera, terutama Aceh, pesisir pantai Sumut, Sumbar (mentawai), dan Bengkulu, cemas. Mungkin Anda bisa tidur nyenyak di kamar. Kami? Bisa saja gempa di tengah malam, saat pintu rumah dikunci, pagar digembok rapat. Mungkin saja gempa saat mandi, mencuci, memasak, dll. Ada juga gempa saat operasi di rumah sakit, lampu langsung mati dan what else?

Banyak yang menyesali semua ini. Mereka menyesal telah punya rumah di dekat pantai. Mereka menyesali dan mengutuk semua hal yang telah terjadi. Mereka meratapi ketidaknyamanan yang mereka hadapi. Mereka bersumpah serapah dan mengutuk Tuhan karena ujian berat ini. Ada yang trauma dan stres berat.

Maka, mari syukuri semua yang diberikan dan ditetapkan Allah. Kita bisa melihat hikmah dibalik itu. Allah ‘membiasakan’ kami dengan berbagai gempa untuk mengejutkan dan melatih kewaspadaan dalam kondisi genting, walaupun itu adalah kekuasaan Allah yang belum seberapanya. Syukuri semua kejadian yang berkelanjutan ini dengan sabar dan terus tawakal.

6 thoughts on “Guncangan

  1. Agak terlambat mungkin, tapi kita masih bisa berguru ke Jepang yang juga sering dilanda gempa.

    Struktur bangunan yang resisten terhadap gempa, lokasi bangunan yang relatif aman, sistem peringatan dini dan lain-lain. Kalau saja pemerintah kita mau serius, setidaknya kita sudah berusaha sebelum berserah diri. Hmm..

    1. iya
      hikmah lain dibalik seringnya gempa di pesisir barat Sumatera, pemerintah sudah mulai membuat dan memperbanyk jalur evakuasi tsunami. Byk gedung yg mulai dibangun dgn konsep ramah gempa. Setiap thn ada simulasi tsunami unk meningkatkan kewaspadaan masyarakat. Ikhtiar dan tawakal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s