Posted in penaku

Konfirmasi

Manusia harus hidup bersama. Istilah sosiologinya, manusia adalah zoon politicon, makhluk sosial. Hidup kita juga bergantung pada orang dan makhluk lain. Demi keharmonisan dan keberlangsungan hidup, kita harus berteman dan bersahabat dengan siapapun.

Pernah mendapat masalah dalam pertemanan/persahabatan? Kadang keakraban dan kedekatan yang ‘sangat’, membuat risiko perselisihan lebih besar. Faktor lainnya, kurang sepenuh hati menyayangi teman. Kalau berteman dengan si A hanya karena kepintarannya dan tidak menganggapnya teman baik dengan sepenuhnya, itu namanya berteman karena kepentingan. Intinya, masalah pertemanan/persahabatan ada karena tidak saling memahami dengan sepenuhnya. Kalau beberapa orang yang berteman bisa saling memahami, apa masih ada clash? Mungkin saja ada tapi tidak akan lama dan tidak berdampak buruk bagi mereka.

Saling memahami! Seringkali beberapa orang yang berteman, tidak bisa saling memahami karena tidak saling mengenal. Bagaimana bisa memahami kalau tidak ‘kenal’ teman? Tidak tahu nama lengkapnya, umurnya, rumahnya, kampungnya, jumlah saudaranya, keluarganya, kegemarannya, sifatnya. Coba kita rasakan dari apa yang pernah kita alami.

Kasus 1

Ada 2 orang, berteman akrab dan diamanahi dalam suatu project. Teman 1 tipe orang yang tidak suka memberatkan teman lainnya kalau ada sesuatu yang harus diselesaikan meskipun itu bukan skop tugasnya. Teman 2 akan sangat senang kalau diberi tugas oleh teman 1 karena merasa dianggap dan diandalkan. Saat ada sesuatu yang harus dibuat dan itu tugasnya teman 2, si teman 1 merasa segan untuk memberi tugas dan mengerjakannya sendiri tanpa sepengetahuan teman 2. Pada waktu deadline, mereka saling memperlihatkan tugas tersebut. Teman 2 ngambek karena sudah mengerjakan tugasnya tapi tidak ‘dipakai’ karena teman 1 sudah menyelesaikan dan meneruskan ke tugas tahap selanjutnya. Teman 2 merasa tidak dianggap keberadaannya tapi teman 1 cuek saja karena merasa tidak ada masalah apapun. Malah teman 1 lega karena tidak memberatkan teman 2 dalam penugasan itu. Pada kasus 1 ini, kita dapat 1 kunci: KOMUNIKASI.

Kasus 2

Ada lagi 2 orang yang bersahabat dan juga bergabung dalam sebuah organisasi. Mereka sering SMSan. Saat itu baru maraknya sms murah dan sms gratis, jadi tidak masalah bagi mereka untuk SMSan setiap saat walau operator selulernya berbeda. A beberapa kali sms B, sekadar menanyakan kabar dan kesibukan. B tidak membalas. A berprasangka baik, mungkin sedang tidak ada pulsa atau sibuk. Pada sms berikutnya, B membalas. Beberapa hari berlalu dan B tidak membalas sms A seperti biasa. B lebih sering tidak membalas sms A. Dua kali rapat terakhir B juga tidak datang. Padahal A sudah sms. A mulanya berfikit, mungkin B sakit. Namun, teman 1 lagi, C, yang sebelumnya bertemu B bilang kalau B tidak sakit. Pada saat yang bersamaan dengan rapat, malah B di rumah sedang santai-santai tidak ada kesibukan. Mulailah A curiga. Terlintas di pikiran A, apa B malas? Apa tidak mau bergabung lagi? B sedang futur? Beberapa hari setelah itu, A dan B bertemu. B seperti biasa, pembawaannya ceria dan tidak ada yang tampak berubah. A dengan agak berat, mulai bertanya, mengapa B tidak datang rapat 2 kali terakhir? B kaget dan bertanya balik, rapat apa? Kapan? A agak keras mengatakan kalau sudah sms B tapi B mengaku kalau tidak ada sms rapat diterimanya. Setelah diusut, ternyata sms A memang tidak terkirim ke B karena masalah jaringan seluler. Maraknya sms murah dan gratis membuat sepersekian persen dari banyaknya pengiriman SMS menjadi tidak sampai pada yang dituju. Ternyata ini juga terjadi pada yang lain. Sms yang harusnya terkirim tapi tidak diterima si penerima. Kuncinya: KONFIRMASI dan BERFIKIR POSITIF.

Kasus 3

Si X orangnya sensitif, paibo hati kata urang Minang. Si Y orangnya periang dan terkesan cuek. Mereka SMSan, mau janjian di halte untuk ke kampus bersama. X sudah menunggu Y di halte. Ternyata Y sakit perut dan telat ke halte. Mereka SMSan,

X : Y, kamu udah jalan? D mana skrg? Udah hampir telat

Y : sorry, aku sakit perut. Kayakny telat k sn. Okelah, kamu duluan aja y

Y merasa bersalah ke X karena sudah menunggu. Tapi daripada X lebih lama menunggu, lebih baik X berangkat duluan daripada menunggu Y lebih lama lagi. Jadi, Y mengirim pesan seperti itu. Pada saat bersamaan, X kaget dan langsung sedih karena X menganggap Y marah karena sms X seperti itu. X berfikir kalau smsnya ke Y agak kasar dan membuat Y ngambek. X merasa, sms balasan Y itu menunjukkan kalau Y ngambek. Dia membaca sms Y dengan nada suara ‘ala X’ yang meninggi. Prasangkanya diperkuat dengan sms Y yang berbeda. Biasanya Y membuat ‘ke sana’, tidak disingkat jd ‘k sn’. Juga ‘ya’, bukan ‘y’. X sedih dan bad mood, merasa bersalah dan menganggap Y marah padanya. Padahal, Y biasa saja. Kuncinya: POSITIVE THINKING.

Kasus lainnya: salah mendengar apa yang dikatakan teman, salah menangkap apa yang sedang dilakukan teman, salah sangka terhadap apa yang dikatakan teman, dll.

Masih banyak contoh lainnya. Semuanya bergantung pada tiap pribadi, apakah telah mengenal dan memahami teman dengan baik? Bisakah berfikiran positif padanya? Bisakah meluangkan sedikit waktu untuk berfikir jernih dalam melihat segala hal sehingga tidak ada kesalahpahaman dan amarah?

Maka, semuanya bermuara pada konfirmasi. Istilah ‘keren’nya: tabayyun. Apapun yang terjadi, cobalah untuk mengonfirmasikannya pada teman. Saat sedang berbicara, kalau kita kurang jelas mendengar apa yang dikatakan lawan bicara, cobalah bertanya seperti, “maaf, apa tadi?”, atau “benarkah kalau ini itu?”. Mungkin saat kita mendengarkan teman berbicara, kita sedang tidak fokus sehingga tidak mendengarkan apa yang teman ceritakan. Tanyakan saja dan jangan bersikap tahu tapi sebenarnya tidak tahu.

Saat ada seseorang yang mengatakan sesuatu tentang teman kita –apalagi kalau hal negatif tentang teman-, segeralah tabayun (konfirmasi) pada teman yang dikatai dan teman yang mengatakan.  Komunikasikan segalanya. Jaga komunikasi, selalu konfirmasi, tabayyun-i pada teman. Semuanya hanya untuk mengetahui yang sebenarnya jadi kita tidak salah paham pada teman.

Semuanya memang mudah diucapkan, mudah dituliskan. Aplikasinya? Memang tidak mudah. Tapi siapa bilang kalau tidak mudah artinya tidak bisa dilakukan? Memang perlu waktu untuk menjadi ideal, tapi kata-kata ‘perlu waktu’ bukan bermakna tidak ada proses sedikit demi sedikit dari masing-masing kita untuk menjadi lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s