Posted in penaku

Kita dan Teman

Menulis bisa meluahkan rasa sesak di hati, di jiwa. Sesak karena suka maupun duka. Sesak karena kebahagiaan ataupun kesedihan. Maka, di keheningan malam, dari jiwa yang selalu mencoba tenang, jemari mulai merangkai rasa menjadi untaian kata. Untaian kata dari pengejawantahan rasa. Kata tentang kita dan pertemanan.

Apakah ada manusia yang sempurna? Adakah manusia yang tidak pernah salah? Kita tentu mafhum kalau jawabannya adalah tidak. Maka, kita hendaknya memahami ini dan berusaha untuk saling mengerti.

Tidak semua orang bisa menerima jika dikecewakan walau itu masalah sederhana yang bagi orang lain itu biasa. Tidak semua insan bisa memaafkan walau dalam hal sepele. Marah mungkin tidak terelakkan bagi banyak orang. Namun, hidup ini terlalu indah untuk dinodai oleh tinta amarah yang jika tidak dihapus dan dijauhkan, akan berpeluang untuk terus menodai apa yang bisa dinodainya.

Sabar dan memaafkan ialah penghapusnya. Sabar bukanlah amarah yang ditahan. Sabar ialah amarah yang dibuang jauh hingga hati tidak lagi mempermasalahkannya. Amarah yang ditahan akan meledak suatu saat dengan kata kunci: kesabaranku sudah habis. Tentu kita harus belajar untuk tidak menahan amarah, melainkan harus menghapus amarah hingga jiwa tenang dan damai. Lagi, saling berlapang dada dan saling evaluasi adalah kuncinya.

Hari-hari kita akan dihiasi oleh berbagai warna. Keceriaan, kebahagiaan, kesibukan, kesedihan, dll. Semua bergantung pada kita. Kita mau mewarnai hari-hari dengan warna kebahagiaan atau kesedihan? Tidak dipungkiri, berbagai warna itu juga dipengaruhi oleh persekitaran seperti teman.

Kita akan dihadapkan pada berbagai macam orang. Ada yang sangat baik, lembut, jarang bahkan tidak pernah marah. Ada yang biasa saja. Ada juga yang sensitif, mudah marah, sulit memaafkan, pendendam, dll. Berbagai karakter ini mengarahkan kita untuk pandai bersikap agar bisa ‘masuk’ ke mereka. Jika dihadapkan pada masalah seperti perselisihan dengan teman, itu juga harus dihadapi dengan bijak.

Pernahkah menemukan teman yang berkepribadian ganda? Punya teman yang susah memaafkan dan pendendam? Atau teman kita sangat sensitif hingga kita lebih baik sedikit berbicara pada mereka? Lebih ‘teruk’ lagi, pernahkah menemukan teman yang mengata-ngatai hal buruk bahkan memfitnah kawannya? Lebih banyak lagi ragam orang dan mau tidak mau, siap tidak siap, kita harus menghadapinya.

Bagaimanapun, mari kita -terus- tanamkan rasa sayang pada teman dan sahabat. Berteman, terimalah teman kita apa adanya. Saat ia salah, ingatkanlah dengan cara yang baik dan pendekatan tersendiri. Begitu juga sebaliknya. Jika teman menyakiti kita, senyuman dan kelapangan hatilah kunci ketenangan dan jalan keluarnya. Kalau usaha baik kita selama ini seolah tertutupi oleh kekhilafan kecil kita, evaluasi diri walaupun nyatanya sang temanlah yang salah.

5 thoughts on “Kita dan Teman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s