Posted in Me, penaku

Pulang

Ingin mengabadikan perjalanan pulang semester ini (ke Padang tentunya) dalam bentuk tulisan. Semoga bermanfaat –khususnya- untuk Saya.

Maunya, saat-saat libur bisa dimanfaatkan untuk jalan-jalan atau part time di KL. Tapi kami, DuDe’s members, harus magang keahlian. Jadi, harus segera pulang dan magang. Well, menurut rencana, kami akan pulang bersama, bertujuh orang. Ada Ica, Maya, Rindu, Sherly, Gilang, Gefi, dan Saya. Teman-teman lainnya pulang beberapa jam lebih dulu dari kami. Rabu sore, selesai ujian terakhir, ada sesuatu yang membuat Sherly tidak jadi pulang bersama kami.  Jadilah kami berenam naik Intercity ke KL. Pada perjalanan kali ini, Gefi dan Gilang banyak membantu. Selain membantu kami angkat-angkat dan bawa koper, Bapak yang berdua ini juga cukup lucu tapi Gilang membuat saya cukup kesal beberapa kali! Terima kasih ya Bapak-Bapak. Koper Ci yang sekarang lebih berat karena ada beberapa barang yang tidak terpakai lagi jadi harus dibawa pulang, daripada sem depan dibawa, lebih banyak lagi kan karena sem depan itu sem terakhir kita di UUM , insyaallaah. Pas balik nanti, tidak akan seberat ini, kok J.

Rabu pagi, saat kami di Puduraya, saya rencananya mau ke Pasar Seni untuk bertemu Mbak Asri, salah seorang ‘petinggi’ PPIM, mau minta sertifikat Kak Kenshi. Tapi karena tidak bisa lama-lama di Pudu dan harus segera ke LCCT, kami tidak jadi bertemu. Setelah sholat subuh dan istirahat, kami sarapan di food court. Sembari menunggu Gefi balik tempat saudaranya, kami cari bus Star Shuttle tujuan LCCT. Untungnya, abang yang jual tiketnya bilang kalau kami baiknya  naik bus yang jam 9.30an untuk antisipasi macet dll. Kami balik ke Puduraya, menunggu Gefi sebentar, ambil koper, dan berjalan ke tempat perhentian bus. Kami dapat bus dan akhirnya sampai juga di LCCT setelah sebelumnya lewat KLIA.

Kami sampai di LCCT. Saya self check-in, Rindu juga. Setelah teman-teman menimbang barang, kami masukkan bagasi. Lalu kami ke imigrasi dan sampai di ruang tunggu. Alhamdulillah, tidak terlalu lama menunggu dan tidak juga tergesa-gesa. setengah jam sebelum take-off, kami sudah jalan menuju pesawat. Rindu dapat kursi di belakang, Saya nomor 27, Gefi Ica bersebelahan di nomor 21, Gilang sebelah satu laginya, Maya kalau tidak salah di 15. Naah, kan ceritanya Saya belum tahu siapa yang akan duduk di sebelah Saya. Jadi Saya penasaran, siapakah teman baru Saya kali ini? Deng…drengg…ternyata seorang Ibu bersama anak laki-lakinya. Si Ibu ke Malaysia untuk menghadiri pernikahan keponakan sekalian bertemu dengan kakaknya. Ibu yang dari Lubuk Basung ini baru pertama kali ke Malaysia dan banyak bertanya tentang ini itu ke Saya. Bahasa Agam si Ibu yang kental, mengingatkan Saya ke kampung, Bukittinggi dan Sungaipua. Sudah lama tidak mendengar logat seperti itu. Saat pesawat take off, Ibu ini tiba-tiba diam dan terisak-isak. Saya melihat beliau dan mencoba bertanya, ada apa dengan si Ibu? Menangis! Beliau ternyata ingat kakaknya yang di Malaysia. Saat si Ibu Ke Malaysia, baru bisa bertemu lagi dengan kakaknya setelah lama berpisah. Kakak beliau juga sangat jarang pulang. Saya ingat kakak dan Uda yang sudah merantau.

Kali ini, Pesawat warna warni nan low cost ini agak lama berdiam diri sebelum take off. Mungkin menunggu pesawat-pesawat lainnya yang lewat atau masih siap-siap untuk terbang. Sempat ada sedikit antrian beberapa pesawat yang ambil posisi untuk take off (apa nama istilahnya?). Saya duduk di kursi F, jadi bisa melihat ke luar. Lihat daratan, semakin lama semakin ke atas hingga hanya awan tebal yang terlihat. Setelah lama berada di atas hijaunya dataran, kami kini di atas lautan. Saya membayangkan kalau ini lautan yang memisahkan Semananjung Malaysia dan Pulau Sumatera. Lalu dataran lagi. Saya yakin kalau itu dataran Sumatera. Lama di atas dataran, Saya pikir pesawat akan segera mendarat karena di ujung sana sudah ada lautan lagi, lautan yang menurut saya laut di sebelah barat Padang. Ternyata kami belum akan mendarat. Pesawat tetap melewati laut dan setelah beberapa detik, pesawat berputar ke arah kiri. Ternyata, pesawat akan mendarat dari arah yang berbeda. Arahnya dari selatan Padang, seperti akan mendarat kalau kita dari Jakarta. Saya akhirnya kembali bisa melihat UBH dari atas, BASKO, UNP, dan lainnya. Teliti saya mengamati satu persatu, mana Embarkasi Asrama Haji. Naah, saya bisa lihat dan itu…itu…kompleks rumah kami! Lagi, Saya bisa lihat dengan jelas bahwa rumah kami sangat dekat dengan pantai. Cukup menakutkan. Saya tidak sempat mengamati lokasi Alai (bukan alay), mau melihat jarak antara Alai dan pantai. Saya lupa dan masih penasaran, seberapa jauh jarak rumah yang di Alai dengan pantai.

Liburan semester ini diisi dengan magang. Juga harus sudah mempersiapkan topik untuk skripsi. Lagi-lagi tersadar kalau sudah tiga tahun kuliah dan harus segera mempersiapkan ‘tiket’ untuk wisuda. Wisuda dan selanjutnya? Kuliah lagi…*semoga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s