Posted in Me, penaku

Saudariku (other)

Saudariku, bagaimana keadaanmu? Lama tak mendengar kabarmu. Semoga harimu senantiasa dalam kebahagiaan, tanpa luka dan dendam.

Aku ingin membukanya di sini, memberitakan pada orang-orang dan agar engkau bisa membacanya tanpa harus engkau hiraukan panggilanku, tanpa harus engkau keluarkan kata-kata tidak pantas di akun pribadimu. Aku nyatakan bahwa aku menyayangimu atas kelebihan dan kekuranganmu. Aku seringkali mengingatmu, terlebih kita tidak begitu intim. Namun, semua ini tidak ku perlihatkan padamu dan pada teman-teman kita. Padaku, engkau spesial.

Saat-saat itu, engkau bercerita banyak hal, tentang pribadimu, keluargamu, dan pandanganmu terhadap sesuatu. Aku juga bercerita banyak. Kita berbagi, kita memberi. Kita semakin mengenal. Pada tahap ini, aku berharap kita bisa lebih mengenal dan memahami, serta mampu menerima bagaimanapun keadaan saudara.

Ceritamu bahwa sulit untuk memaafkan, sejujurnya membuatku sedih. Keluh kesahmu atas banyak hal yang kau hadapi saat itu, sebenarnya memilukanku. Aku semakin bisa membacamu dari berbagai pernyataanmu. Namun, sayangku tidak pudar, Cinta. Aku tak tahu, bagaimana diriku padamu.

Padamu, aku punya harapan besar. Pikiran, harapan, dan doaku tentangmu sangat besar hingga aku membagi porsi yang tidak sama besar untuk saudari lainnya. Aku terus merangkai pesan padaNya, pesan berupa harapan indah untukmu, agar Dia memberimu apa yang ku minta. Oh ya,
ada beberapa tulisanku di folder khusus laptopku. Tulisan itu, tentangmu, Saudariku. Tulisan itu, untukmu. Namun yaa, belum pernah aku berikan padamu.

Sikapmu atas kekecewaan itu, sudah biasa bagi kami walau tidak biasa bagi orang yang belum tahu. Namun, seberapa besar kekecewaanmu atas hal lalu yang sederhana itu? Sangat hinakah aku karena mungkin saja kekecewaanmu sangat dalam? Atau sikapmu hanya leluconmu di balik emosi itu, seperti saat dirimu tersenyum dibalik amarah pada salah seorang teman? Atau senyum dibalik amarahmu padaku seperti kata seorang kawan? Entahlah, hanya dirimu dan Allah yang tahu.

Cinta, sungguh, masalah ini tidak hanya tentangku, tapi juga tentangmu. Berbagai usaha untuk membuat keadaan ini menjadi lebih baik, tidak hanya tugasku tapi juga tugasmu. Semoga kita bisa saling mengerti dan memahami sehingga kita bisa berangkulan kembali. Semoga tidak ada lagi orang setelah ku dan tidak menambah panjang deretan itu.

*Salah satu sisi melankolisnya saya

2 thoughts on “Saudariku (other)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s