Posted in Ilmu, Me, penaku

Daging Saudara

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka , karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang“.
(QS Al-Hujurat:12)

Rasulullah SAW bersabda : “Ghibah ialah engkau menceritakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Si penanya kembali bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu bila apa yang diceritakan itu benar ada padanya?” Rasulullah menjawab, “Kalau memang benar ada padanya, itu Ghibah namanya. Jika tidak benar, berarti engkau telah berbuat buhtan (mengada-ada).” (H.R. Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ahmad).

Dari Abu Hurairah radiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Sahabat menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Nabi berkata :“Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu.” Sahabat bertanya kembali : “bagaimana pendapatmu jika itu benar adanya?” Nabi SAW menjawab : “Kalau memang sebenarnya begitu, engkau telah mangghibahinya, tetapi jika apa yang engkau sebutkan tidak benar, maka engkau telah berdusta atanya (memfitnahnya)”. (HR. Muslim)

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Ini menjadi bahan renungan bagi Saya dan tentunya Anda, pembaca.

Apakah Anda seorang kanibal? Atau, Saya yang kanibal? Maaf kalau dua kalimat terakhir ini sarkastik. Namun, terkadang sarkasme diperlukan untuk menyadarkan kita.

Saling bercerita memang sangat menyenangkan, apalagi kalau topiknya menarik. Banyak juga yang bilang kalau perempuan lebih suka bercerita dan berbagi informasi tentang segala hal. Kesenangan ngobrol ini bisa berujung pada gosip. Gosip berlanjut ke gosip-gosip lainnya. Mereka tidak sadar bahwa gosip yang mereka buat sendiri itu sudah memakan korban, yaitu orang-orang yang mereka bicarakan.

Sekarang, objektif saja. Mari gunakan hati nurani (bukan nama partai ya!). Pernahkah Anda menjadi topik pembicaraan orang lain? Kalau yang dibicarakan itu positif dan baik, tidak masalah. Kalau sebaliknya? Malah, kita dibicarakan mengenai hal yang sebenarnya tidak ada, palsu. Istilahnya? Fitnah! Nah, si objek pembicaraan tentu akan dirugikan, sangat dirugikan karena sudah dibicarakan yang tidak-tidak. Malah bisa jadi banyak orang akan berubah persepsi pada si objek karena mendengar berita tidak benar tersebut.

Temanku, para pembaca budiman, marilah kita mulai mengurangi kesenangan dalam membicarakan hal-hal buruk mengenai orang lain, apalagi teman kita sendiri. Kalau masih tidak bisa menahan untuk membahasnya, minimal jangan menambah hal-hal negatif yang sebenarnya tidak ada. Jangan mengada-ada dalam berbicara, apalagi saat membicarakan orang lain. Apa Anda bisa menerima kalau Anda dibicarakan yang tidak baik dan sebenarnya hal tersebut tidak ada? Ini, lagi-lagi, bisa membuat image Anda menjadi buruk di pandangan orang lain.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s