Posted in penaku

Random

Ketika seseorang memimpin karena ‘suara’ dari ‘bawah’, maka ia akan lebih percaya diri untuk melangkah. Mereka yang mendukung juga akan –dan harus- setia mendukung. Jangan jatuhkan, tapi arahkan.

Saling memahami itu sangat indah. Saling memberi juga tidak kalah indah. Jangan selalu meminta untuk dipahami dan diberi. Cobalah untuk memahami dan memberi pada siapapun, termasuk kepada pemimpin. Jangan selalu meminta untuk dipahami oleh pemimpin. Terkadang, kita lupa bahwa pemimpin memiliki tugas dan tanggung jawab yang sangat berat untuk memenuhi hak kita. Kita kadang lupa kalau pemimpin harus memikirkan dan menyelesaikan banyak hal sehingga segala keluhan pribadi kita akan membuatnya semakin tertekan.

Terbuka itu penting. Kata orang Minang, “bajaleh-jaleh”. Ketika berkomunikasi, hindari kesalahpahaman dengan saling bersikap terbuka. Ketidakjelasan saat berkomunikasi akan menyebabkan munculnya berbagai masalah. Masih lebih baik kalau orang-orang yang terlibat ialah orang-orang yang berjiwa besar dan bisa saling memahami. Kalau tidak?

Ada orang-orang yang sering melihat kekurangan dan keburukan orang lain. Bahkan, mengada-ada mengenai orang lain. Bahkan, ia membicarakan hal itu pada orang lain. Siapa yang dibicarakannya? Teman akrabnya pun bisa diceritakannya! Hanya karena sedikit tersinggung, ia mencari-cari kekurangan temannya, mengada-adakan cerita, dan menceritakan itu kepada orang lain sehingga orang lain berpikiran buruk kepada si teman yang sudah menjadi korban. Gawatnya, tidak hanya pada satu orang.

Ada teman yang tidak bisa melihat kasih sayang yang kita berikan. Bentuk perhatian dan kasih sayang kita, dianggapnya sebagai kekangan untuknya. Saran dan nasehat diberikan untuknya tapi ia masih tidak bisa mengerti. Hal-hal mendasar yang manusiawi pun tidak bisa ia amini. Teman-temannya yang sangat banyak itu hanya bisa diam setelah segala cara dilakukan tapi ditanggapinya dengan dingin.

Ada teman yang sulit bahkan tidak bisa memaafkan. Ia menginginkan kita untuk tidak sedikitpun menyakitinya. Ia tidak mau disakiti, dikecewakan, walaupun sedikit, walaupun sekali. Jika ini terjadi, ia akan sangat marah, tidak mau menerima jabatan tangan kita. Senyuman kita akan dibalas dengan wajahnya yang masam penuh amarah. Jika ia berbicara, akan melukai hati karena amarahnya berubah menjadi pisau tajam yang mengiris hati.

Ada teman yang sepemikiran dan ‘sehati’ dengan kita. Namun, keengganan dan ketidakterbukaan, membuat pertemanan itu terasa hambar.

Ada teman yang bisa mengerti kita. Ia adalah teman yang bisa menerima kita apa adanya. Ia bisa menyemangati kita, membantu, mengingatkan, mengkritik dengan baik, dan menemani kita di saat senang dan susah. Kita akan selalu nyaman berada di dekatnya. Bahkan, hanya dengan melihatnya pun, hati kita terasa lebih tenang.

Hanya tulisan sederhana dan acak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s