Posted in Me, penaku, unp, UUM

Preparation : DuDes (Part 1)

Apa yang harus mahasiswa DuDe sebelum studi ke Malaysia? Ini adalah lanjutan dari postingan saya sebelumnya di sini. Naah, tulisan kali ini saya tulis dari gabungan pemikiran dan pengalaman saya, serta pendapat mahasiswa DuDe lainnya dari angkatan 07-10. Here they are:

Barang apa saya yang perlu dibawa, kak?

Pakaian harian, pakaian formal (untuk kuliah), baju batik (sangat penting!), perlengkapan sholat, toiletries secukupnya, dan keperluan harian lainnya. Kalau mau bawa gantungan baju, bawa saja 1 atau 2 karena banyak dijual di UUM. Bawa beberapa tas, sepatu, dan sandal secukupnya, maksudnya bawa yang memang akan dipakai saja supaya tidak memberatkan koper. Toiletries bawa secukupnya saja karena banyak juga yang dijual di Malay kecuali kalau produknya memang hanya ada di Indonesia. For girls, keperluan ‘bulanan’ tentunya juga banyak dijual di sana dengan harga yang sedikit lebih mahal. Mereknya sama kok.

Temin-20130116-00095
Tas Ira, Ica, dan Ci

Gadget dan alat elektronik lainnya?

Ya tentunya bawa hp, laptop, dan gadget penting lainnya (kalau sudah ‘lengket’ sama tablet, etc). Kalau setrika bisa dibeli di UUM atau di luar kampus. Steker dan pemanas air juga banyak dijual di sana.  Tentang steker, lebih baik langsung bawa steker yang ada 3 titik (Malaysia memakai yang 3 titik, Indo 2 titik). Printer? Menurut saya, tidak membawa printer ke UUM sebenarnya tidak masalah. Banyak tempat print di sana, mulai dari teman-teman se-asrama yang menerima jasa print (berbayar), di makmal computer (labor) tiap DPP, di mall, dan tempat fotokopi di gedung kuliah. Lagipula, waku belajar di sana yang hanya 3 semester rasanya lebih simple untuk tidak membawa printer, di samping karena barang kita lebih sedikit, menyimpan dan membawa printer saat libur juga agak ribet. Saran saya, tidak usah bawa atau beli printer di sana. Biaya print 10 sen (300an) perlembar, tidak mahal kan😉

Peralatan makan dan peralatan masak?

Baiknya bawa 1 sendok, 1 piring (tidak kaca) atau kotak makan, dan 1 gelas atau tabung minum. Kalau tidak mau bawa ya tidak masalah, tergantung pribadi masing-masing. Beberapa teman dan senior DuDe memang membawa perlengkapan makan. Kalau peralatan masak seperti penanak nasi dan kompor listrik, UUM membolehkan memasak tapi di pantry DPP. Tidak boleh memasak di dalam kamar meskipun ada beberapa student yang memasak di kamar. Ada yang bertanya tentang mana yang lebih efisien; memasak sendiri atau beli saja? Kalau tentang efisiensi, tergantung di DPP mana kita tinggal. Ada beberapa kafe DPP yang makanannya relatif murah, seperti di DPP Muamalat, DPP MISC, DPP EON. Hemat saya, untuk efisiensi dan efektifitas, kalau Anda tinggal di 3 DPP ini, baiknya tidak perlu memasak. Kalau memang ada yang suka memasak atau mau banget memasak, ya boleh saja. Tapi lagi-lagi, akan agak repot di saat sebelum libur dan pulang ke Indo.

Alat tulis?

Bawa buku tulis dan alat tulis lainnya jangan terlalu banyak. Kita bisa beli di UUM dengan harga yang tidak jauh beda dengan di Padang atau Indonesia.

Perlu bawa lauk dan makanan lainnya dari Padang?

Kalau untuk pertama datang, baiknya bawa sedikit makanan dan lauk untuk jaga-jaga kalau sampai di UUM kemalaman dan kafe belum buka. Kalau mau bawa rendang yang banyak (karena rendang bisa tahan 1-2 bulan), bawa rendang kering. Beberapa teman membawa serundeng atau randang talua untuk cemilan atau dimakan dengan nasi. Tentang lauk, saya bawanya waktu pertama kali ke UUM dan membawa sedikit keripik kentang balado di semester 2. Kalau saya pikir, tidak perlu bawa banyak lauk dan makanan karena di Malay makanannya enak, tidak terlalu bermasalah tentang beda cita rasa, dll. Lagipula, kita nikmati saja berbagai makanan di Malay selagi di sana. Toh, cuma 3 semester. Nanti saat sudah selesai di Malay, akan terasa kangennya dengan makanan Malay. Jadi baiknya nikmati saja makanan di mana kita berada selagi ada di sana daripada saat di Padang malah kangen makanan Malay. Ini para DuDe yang sudah kembali, banyak yang rindu dengan makanan di Malay. Gimana coba supaya rindunya di’obati’? Lekor tidak ada di Padang. Nasi lemak, daging masak pedas, nasi ayam kunyit, dll. Kalau yang bisa dimasak di rumah sih ada tapi kan tidak semua… L

Persiapan fisik dan mental?

Hehe…perjalanan pertama dari Padang-KL-UUM akan melelahkan, apalagi karena bawa koper berat. Koper berat? Bawa seperlunya saja supaya koper tidak terlalu berat. Kalau koper saya memang lebih berat dari beberapa teman lainnya karena banyak bawaan. Bawaannya ada yang barang saya, ada yang titipan teman, hehe.. Intinya, dengan membawa barang seperlunya saja dan tidak terlalu banyak, kita akan lebih mudah selama di perjalanan. Jangan bawa banyak tentengan. Cukup bawa koper, tas ransel atau tas jinjing, dan masih oke untuk tambahan 1 tas jinjing. Oya, jangan lupa perkirakan atau timbang berat koper yang dibawa dan sesuaikan dengan bagasi yang sudah dibeli. Kalau berat kopernya sekitar 25 kg, belilah tambahan bagasi kalau baru punya bagasi 20 kg. Jangan sampai kelebihan banyak. Saya dulu lihat (tahun 2011) kelebihan perkg harus bayar Rp 125.000. saya tidak tahu apa sekarang masih sama atau tidak.

Balik lagi ke persiapan fisik mental. Perjalanan pertama akan melelahkan. Jadi, dibawa happy saja. Bawa obat bagi yang sering dan perlu mengonsumsi obat. Persiapan mental??? Di postingan selanjutnya yaa….😉   

*Beberapa tulisan sebelumnya mengenai Malay dan UUM :

INDON (klik),

HUJAN

ASEAN Youth Seminar

Cerita Cuti (1)

Cerita Cuti (2)

KM 63.5

Minum Sambil Gaya

Kumpul-kumpul DuDe 09-10

5 thoughts on “Preparation : DuDes (Part 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s