Posted in Me, penaku

Dingin

Petang. Perjalanan yang sangat singkat. Tidak biasa. Ramai namun damai.

Diam. Seolah antardiam saling merasa. Meresapi keheningan. Menutupi detakan hebat. Seolah tampak seperti biasa. Namun, dingin. Hening. Bisikan untuk tidak berlama. Sesuara lain menyahut. Memecah hening.

Sekelebat, kehangatan menyeruak. Sesahutan ringan saja. Ringan yang dalam. Sesahutan yang bagai memutar bab lama. Bab penuh makna dan sulit dilupa. Siratan tanda. Guratan luka.

Getir. Mungkin saja menjadi pertama dan akhir. Hanya Penciptanya Yang Tahu. Sakit. Sebab waktu bukan mesin yang dapat diistirahatkan. Maka, semuanya akan berakhir.

Masih hangat. Walau hati dan pikiran telah lama terpecah saat petang menghilang. Cerita bergulir seiring semakin sempitnya kesempatan. Jiwa-jiwa yang menjaganya. Meski ingin mengungkapnya.

Ramai. Semakin ramai. Sahutan di mana saja. Ia? Masih sunyi.

Jarak dan kesempatan itu memisah dan mempertemukan. Pertemuan pada kedukaan. Duka yang sunyi. Namun, sesekali dipecah oleh sahutan. Sadarnya berujar, tangannya pasti akan tetap ada.

Mentari. Dingin yang sangat. Dingin yang menusuk jasmani. Dingin yang menemani hari itu. Duka, luka, sangat dalam. Duka yang tak tertahan. Duka yang terluapkan pada hamparan hijau yang menyejukkan pandangan. Tetiba, ia kembali tertahan oleh tangan yang datang. Hamparan hijau masih di hadapan. Terlewati dan terlupakan. Tangan yang membawanya tegar. Tangan yang berikrar akan terus terbuka untuknya.

Tiada lelah walau manusiawi. Saat itu, lelah tidak akan hadir. Hanya ada tatapan nanar, harapan besar, dan sedikit kesejukan. Langkah kaki dan sekelebat pikiran tanpa henti. Jiwa-jiwa itu rapuh.

Siang memisahkannya. Satu tatapan nanar. Teriknya matahari, ditempuhnya. Tatapan itu semakin nanar, tidak jelas, dan kabur. Kakinya semakin cepat melangkah. Tangannya menghapus duka dan luka. Tidak mudah. Kembali hehijauan dipandangnya. Hijau yang tenang. Seketika, semua tumpah. Duka dan luka tidak mampu lagi tertahan.

Sembab. Namun seulas senyum menutupi. Seolah kembali layaknya biasa. Meski tidak bisa seperti biasa. Ada yang hilang. Ada yang tercerabut darinya. Lalu? Kaku saja. Dingin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s