Posted in Ilmu, penaku, Renungan

Generasi Penerus

Pembelajaran bisa didapatkan dari mana saja, termasuk dari pengalaman dan kehidupan orang lain. Sore ini, saya tersadar dari kabur dan lupa akan lingkungan sekitar. Kabur karena sebelumnya pernah jelas. Lupa karena sebelumnya ada ingatan. Tidak hanya saya, namun juga seluruh pelaksana dan peserta Training Dasar (RADAR) 3 yang diadakan Asosiasi Pelajar Islam (ASSALAM) Sumatera Barat. Organisasi di mana saya lahir, belajar, dan besar di sana. Organisasi yang menjalin indahnya persaudaraan dalam kesibukan di berbagai kegiatan positif. *Kalau diteruskan tentang ASSALAMnya, bisa-bisa tulisan ini tidak selesai karena saking banyaknya cerita tentang ASSALAM🙂 …

RADAR 3 diikuti oleh anggota ASSALAM dari semua Dewan Pengurus Daerah (DPD) se-Sumbar yang baru lulus  SMA/sederajat. Mereka dikumpulkan dan diberi bekal untuk menjadi pengurus di Dewan Pengurus Pusat (DPP) ASSALAM Sumbar. Topik-topik yang diberikan di RADAR 3 sangat menarik, seperti Manajemen Isu, Analisis Lingkungan Sosial, dll. Ada dua topik yang mengharuskan peserta untuk ‘turun’ ke masyarakat dan menemukan serta menganalisis fenomena sosial yang ada dipersekitarannya. Selanjutnya, mereka harus menjelaskan hasil analisis tersebut.

What they found are..

Kelompok 1 Putra. Mereka ke Lapangan Imam Bonjol, berkenalan, dan sharing dengan beberapa pelajar SMP. Masih SMP, tidak SMA. Para pelajar ini adalah perokok aktif. Nilai-nilai pelajaran mereka juga tidak bagus. Mereka mengaku lebih suka nongkrong dan bercerita ngalor ngidul. Hal yang lebih mengejutkan, ternyata beberapa pelajar putri di sekolah mereka adalah penjaja seks (PSK)!! Pelajar di sekolah tersebut juga sudah biasa melihat tontongan porno! Banyak pelajar di sekolah mereka yang sering ‘minum’. Bahkan, beberapa guru membiarkan murid di SMP tersebut meskipun para guru mengetahui muridnya seperti itu! Mereka mengaku bahwa mereka seperti itu karena kurangnya perhatian, kepedulian, dan kasih sayang yang mereka dapatkan di rumah dan di sekolahnya. Kelompok 1 Radar 3 menambahkan bahwa sebenarnya masih banyak hal miris lainnya yang mereka dengar dari para pelajar SMP ini tapi mereka tidak mau mengatakannya di forum diskusi peserta Radar 3. Saking mirisnya, mereka menangis setelah mendengarkan semua yang para pelajar SMP tersebut sampaikan.  Mereka laki-laki! Mereka sangat sedih dan miris mendengarkan cerita dari para pelajar SMP tersebut.

Kelompok 2 Putra. Mereka berkenalan dengan para pelajar SMP yang juga nongkrong sambil menghisap rokok. Mereka yang paginya baru menerima rapor, tidak langsung pulang ke rumah. Mereka mengaku kalau nilainya jelek. Mereka juga mengakui kalau tidak ada motivasi mereka untuk belajar dan mendapatkan nilai yang baik. Mereka seolah tidak peduli pada berbagai pelajaran dan ujian yang harus mereka lalui. Saat berbagi cerita dengan peserta Radar 3 itulah terungkap bahwa mereka seperti itu karena tidak ada yang memotivasi dan membimbing mereka untuk menjadi anak yang baik. Keluarga mereka, terutama orang tua, tidak peduli pada pendidikan anaknya. Para guru mereka di sekolah hanya bisa memarahi dan tidak membimbing mereka. Mereka belum mendapatkan sosok yang bisa memotivasi dan membimbing. Mereka juga merasa kesulitan untuk menumbuhkan semangat belajar di tengah lingkungan yang tidak mendukungnya untuk belajar. Umumnya, mereka dari keluarga menengah ke bawah. Ketika ditanya tentang cita-cita, mereka umumnya ingin menjadi tentara. Mengapa? Mereka merasa kalau modal untuk menjadi tentara hanya fisik yang kuat, bukan tingginya nilai pelajaran di sekolah! Mereka mengaku kalau hanya punya modal fisik dan tenaga untuk menghidupi dirinya di masa depan. Ini kontras dengan kebiasaaan merokoknya. Oya, rokok. Mereka merasa percaya diri dengan rokok. Mereka merasa keren kalau merokok. Mereka bilang kalau merokok itu bisa membuat mereka keren dan gagah. *Berarti laki-laki yang tidak merokok itu keren, jadi tidak perlu rokok untuk menjadi keren dan gagah – Kata MOT (Master of Training). Saya espokat!!😀

Kelompok Putri. Mereka berkenalan dengan beberapa pengamen di lapangan Imam Bonjol. Salah seorang pengamen tersebut adalah seorang Ibu yang harus menghidupi lima anaknya. Beliau sudah beberapa tahun ini mengamen. Penghasilannya perhari rata-rata Rp 150,000 yang menurutnya tidak cukup untuk menghidupi dirinya dan lima anaknya. Setiap mengamen, teman Ibu ini adalah para anak-anak yang juga ikut mengamen. Anak-anak? Ya, seolah sudah biasa kita lihat. Mereka sekolah dan mengamen. Beberapa dari mereka harus mengamen karena disuruh orang tua. Ternyata, orang tua mereka sudah mengatur jadwal mengamen untuk anaknya hingga malam. Mereka selalu sampai di rumah saat sudah larut malam dan kelelahan hingga tidak sempat belajar. Mereka juga mengatakan kalau orang tuanya tidak peduli pada pendidikan mereka. Orang tua mereka menginginkan uang yang banyak dari hasil mengamen anaknya. Ini membuat nilai-nilai mata pelajaran mereka rendah. Alhasil, mengamen dan mendapatkan uang sepertinya lebih menggiurkan daripada sekolah.

Kelompok Putri lagi. Mereka memasuki warnet yang dipenuhi oleh anak SD dan SMP. Para pelajar SD dan SMP ini sibuk dengan online game. Sambil main, mereka juga buka-buka facebook. Beberapa dari mereka juga membuka situs-situs lainnya. Saat ditanya, seorang anak tidak mau memberitahukan situs yang dibukanya. Umumnya, mereka akan di warnet selama dua jam perhari.

Masih banyak fenomena sosial yang para peserta Radar 3 temui, belum lagi fenomena lainnya yang belum ditemui dan belum kita ketahui. Memang, berbagai fenomena di atas seolah sudah terlalu banyak di negeri ini. Seakan sudah mafhum, masyarakat cenderung semakin permisif dan semakin sibuk dengan pekerjaan dan pelbagai kepentingan pribadi namun kurang peka pada persekitaran. Siapa yang disalahkan? Tidak perlu menyalahkan siapapun karena sangat banyak pihak yang bisa disalahkan. Siapa yang bertanggung jawab? Tidak perlu juga menunjuk satu dua orang untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial ini karena ini adalah tanggung jawab setiap orang, semua pihak. Jadi, siapa yang harus bergerak?? Ya semuanya! Orang tua dan keluarga adalah yang terpenting! Orang tua sebagai guru pertama anak dan keluarga sebagai kelompok inti pertama yang menjadi tempat belajar dan pembentukan kepribadian anak. Bayangkan, jika setiap orang tua dan semua keluarga mampu menjaga, mendidik, dan menghasilkan anak yang berkepribadian baik, maka permasalahan sosial khususnya tentang anak dan generasi muda akan berkurang bahkan tidak akan ada.

Saya malu, karena ternyata selama ini saya belum berbuat banyak untuk lingkungan sekitar, terutama untuk anak-anak dan pemuda yang merupakan generasi penerus bangsa. Bagaimana dengan Anda, pembaca? Beberapa dari Anda mungkin sudah disibukkan dengan berbagai kegiatan mulia. Beberapa lainnya mungkin belum. Semua harus bergerak untuk memperbaikinya. Bergerak dengan bidang , keahlian, dan cara masing-masing. Ini adalah kerja BESAR dan berketerusan, berkesinambungan! Ya! Kerja BESAR demi perubahan BESAR!

2 thoughts on “Generasi Penerus

  1. Laporan kelompok 1 kok serem banget… Kalo dibaca2, sepertinya akar permasalahannya hampir selalu karena kemiskinan ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s