Posted in Me, penaku, Renungan

Sore

Ramai. Acara itu sudah selesai tapi masih banyak yang enggan beranjak. Hujan belum reda. Bau tanah basah mulai tercium. Dia ingin pulang tapi tidak bisa. Tanggung jawab membuatnya bertahan untuk tidak pulang. Sebenarnya, dia sangat lelah. Lelah pada keadaan. Semakin lelah saat melihat temannya lelah, khususnya seorang itu. Dia mulai tahu harus berbuat apa saat dua teman meminta bantuannya. Dia langsung berpikir cepat dan dia merasa kalau perlu bantuan. Keningnya berkerut. Didatanginya beberapa teman dan langsung diutarakannya maksud permintaannya. Seketika, maksudnya tidak dapat ditangkap sekumpulan temannya itu. Mereka hanya mengiyakan dan berlalu. Dia tersenyum lega karena merasa kalau teman-temannya itu paham.

Beberapa menit berlalu dan dia berkeliling. Tetiba, ada pesan masuk di selularnya. Pesan lainnya juga masuk dan semakin banyak. Perlahan dibacanya. Seolah tidak percaya, dibacanya lagi. Sekelebat, badannya melemas. Selular itu hampir saya terlepas dari genggaman. Kakinya lemas dan semakin lemas. Badannya bergetar. Pandangannya kabur. Plastik matanya mulai berembun. Cepat disekanya. Dia mencoba tenang. Sulit. Dia membalas hujanan pesan itu. Tenang, dia tetap tenang. Dia mengirim pesan seperti biasa walau hatinya hancur. Dia berusaha menenangkan temannya di ujung sana walau sebenarnya dia sangat tidak tenang. Sang teman seolah membabi-buta dan semakin menghujani berbagai pesan luka. Percakapan panjang itu disimpannya. Bukan bermaksud agar sewaktu-waktu bisa membacanya kembali karena rindu. Namun, dia ingin menyimpannya sebagai bukti. Bukti jika suatu saat dicari.

Dia terus berusaha tenang, tersenyum, dan segera keluar menuju keramaian. Beruntung, hujan sedikit reda. Semua akan beranjak pulang. Setelah saling melambaikan tangan, dia segera membuka tas dan mengambil payung. Dia seolah ingin berlari jauh dan menumpahkan semuanya, berteriak sekuatnya. Namun, tertahan. Di luar sana, masih banyak orang. Terlebih, seorang teman menawari untuk menemani pulang. Dia menolak tawaran baik sang teman. Sungguh, dia hanya ingin menangis sejadi-jadinya. Dia ingin menangis di bawah tetesan hujan. Sang teman bersikeras untuk menemani. Mereka berjalan. Beberapa langkah, tumpahlah semuanya. Dua kali. Ya, ini yang kedua kali dan mungkin yang terakhir.

Senja berganti malam. Dia bersiap ke sebuah acara. Sendiri saja. Oh, tidak! Ada kesedihan dan luka yang menemaninya. Luka yang entah keberapa. Dia lupa tentang jumlah sayatan luka yang telah ada sebelumnya. Namun, dia tenang saja. Topeng bahagia masih setia bersamanya. Dia melangkah dan kembali seperti biasa, tersenyum dan seolah sibuk dengan keramaian.

Ramai, cukup meriah. Semua sibuk. Dia? Menyibukkan diri. Tugasnya adalah tersenyum, berbicara, dan kembali tersenyum. Seperti biasa dan sudah terbiasa. Terbiasa untuk tersenyum dan tertawa walau hatinya luka. Pada keramaian, ada sosok-sosok yang jika dilihatnya, membuatnya teringat pada luka-luka yang telah dan semakin menganga.

Kini, sudah berlalu. Namun, ada yang belum hilang. Percakapan panjang itu belum musnah. Masih harus ada walau dia tidak pernah melihat pesan itu sejak saat penuh luka itu.

 

Bukankah sesuatu yang sangat berarti dan sangat membekas hendaknya diabadikan? Jika tidak dalam gambar, tulisan juga tidak kalah menarik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s