Posted in Ilmu, penaku

TERIMA – TOLAK

Beberapa kali mengikuti rapat atau musyawarah tahunan beberapa organisasi, saya lebih banyak melihat hasil LPJ yang ditolak peserta sidang, hehe. Termasuk saat saya beberapa kali menjadi pengurus di satu dua organisasi. LPJ yang saya sebagai pengurusnya, beberapa kali ditolak. Seingat saya, hanya saat RAT PPI UUM tahun lalu, saat kepengurusan saya dikuliti LPJnya, hanya saat itu saya melihat dan merasakan LPJ diterima. Sebelumnya? Ditolak atau diterima dengan syarat.

Pertama kali mengikuti musyawarah tahunan, saat saya kelas satu MAN (SMA). Saya kaget karena ternyata sidang LPJ itu tidak main-main. Semua hal selama satu periode kepengurusan itu  pasti dikuliti, dievaluasi, dinilai. Laporan pertanggungjawaban (LPJ) yang tumpukan kertas tebal itu juga dinilai apa betul formatnya dan kalimatnya. Ada yang mengkritik dengan tenang. Ada juga yang berbicara dengan keras dan kasar. Ada yang marah-marah. Semuanya punya maksud yang sama: mengkritik. Nah, pada saat penentuan apakah LPJ diterima atau ditolak, pengurus harus keluar ruangan dan mereka akan dipersilakan masuk jika keputusan telah ditetapkan.

Saya dipahamkan bahwa memegang amanah, menjadi pengurus organisasi, tidaklah mudah. Itu bukan hal yang main-main, bukan untuk sekadar mencari nama, menambah deretan pengalaman organisasi di CV. Maka, saat penyampaian LPJ di musyawarah atau sidang tahunan adalah saat yang penting juga untuk setiap organisasi karena para penggerak organisasi akan mengevaluasi, menilai, dan memberikan rekomendasi untuk kepengurusan selanjutnya.

Muncul dipikiran saya beberapa pertanyaan selama dulu saat saya baru-baru tahu dan mengikuti musyawarah. Pertanyaannya sudah saya jawab sendiri selama beberapa kali mengikuti musyawarah/sidang. Jawaban berikut hanya jawaban sederhana saya sebagai orang yang tidak terlalu ahli dalam sidang:

Mengapa saat  musyawarah atau sidang tahunan, pesertanya mengkritik habis-habisan dengan pedasnya? Mengapa tidak dengan cara baik-baik?
Tentunya tidak semua perserta yang berbicara itu mengkritik dengan pedas, kan. Ada juga yang berbicara dengan baik-baik. Kita harus memahami kalau cara masing-masing orang punya cara yang berbeda dalam mengungkapkan pemikirannya. Walaupun cara mereka ternyata kasar dan tidak sopan, kita cukup mengingatkan mereka, tidak perlu dibalas dengan kemarahan juga. Kalau mereka tetap kasar, jangan berikan kesempatan bicara pada mereka. Sisi lainnya, mungkin mereka sudah sangat geram melihat ketimpangan yang terjadi sehingga mereka tidak bisa bersabar saat berbicara. Pada satu dua organisasi, akan ada satu dua orang yang sengaja menjadi tokoh antagonis yang tugasnya marah-marah saat mengkritik pengurus. Hal ini agar musyawarah/sidang lebih berkesan dan agar semua peserta menyadari kalau tanggung jawab berorganisasi itu tidak main-main. Ada juga alas an lainnya.

Okelah mereka mengkritik, tapi mengapa mereka mengkritiknya hanya di waktu sidang? Kok tidak mengkritik sebelum-sebelumnya saat kepengurusan masih berjalan? Jadi kan bisa diperbaiki kesalahan yang ada!
Hal mendasar yang perlu kita pahami adalah, setiap anggota organisasi (anggota biasa dan luar biasa) punya hak bicara selama musyawarah/sidang. Tentang mereka hanya mengkritik saat sidang dan tidak sebelumnya, itu hak mereka. Itu juga kekurangan mereka karena tidak menyampaikan kritik dan sarannya saat kepengurusan masih berjalan. Namun, coba kita sebagai pengurus ingat. Apa benar mereka tidak pernah menyampaikan masukannya selama kepengurusan? Mungkin saja mereka sudah menyampaikan masukannya tapi tidak kita dengar. Mungkin mereka sudah mengkritik tapi kita abaikan atau terlupakan. Jadi, sebagai pengurus yang bijak, terima saja kritikan dan masukan yang disampaikan. Kalau cara mereka tidak baik saat menyampaikan, cukup kita ingatkan mereka agar lebih sopan. Kalau kritikan dan penilaian yang peserta sidang sampaikan itu benar dan terbukti pengurus melakukan kekeliruan, maka pengurus harus menjelaskan mengapa kesalahan itu terjadi dan meminta maaf atas kesalahan tersebut. Cukup!

Ya tapi kan mereka tidak bisa seenaknya mengkritik, menguliti. Mereka hanya pintar ngomong padahal mereka tidak merasakan betapa susahnya mengurus organisasi! Jadi gimana??
Iya, memang tidak mudah mengurusi organisasi. Biarkan saja mereka berbicara denga panasnya sampai mereka lelah sendiri. Kita cukup dengarkan mereka. Manatahu, yang mereka sampaikan memang benar adanya dan bermanfaat.  Kalau kita belum merasa puas hati, jelaskan kepada mereka tentang keadaan yang pengurus hadapi dan berikan masukan pada mereka kalau mereka tidak semestinya bersikap begitu.

Tapi mengapa pengurus seolah-olah menjadi pihak yang paling bersalah karena dikritik habis-habisan? Kan kami sudah berusaha, sudah bekerja selama satu periode??!
Ya, betul sekali. Pengurus memang sudah berusaha dan bekerja keras selama satu periode kepengurusan. Namun yang perlu diingat, kritikan orang bukan berarti mereka mengabaikan kerja keras pengurus. Kalau mereka bijak dan paham organisasi, tentu mereka akan mengapresiasi kerja keras pengurus walaupun bagi mereka masih jauh dari sempurna. Jadi, pengurus jangan berkecil hati. Lagi-lagi, jelaskan pada peserta musyawarah kalau kita sebagai pengurus sudah bekerja dengan maksimal. Kalau mau, minta mereka untuk menghormati usaha keras kita selama ini. Kita sebagai pengurus juga harus berpikiran jernih kalau mungkin saja memang kita belum berhasil menjadi pengurus yang baik.

Nah, kalau LPJ ditolak, gimana dong??
Ya kalau LPJ ditolak, ya selesai. Begitu saja. Kalau LPJ ditolak, pengurus tidak akan dibantai kok oleh peserta sidang, hehe. Pengurus tetap boleh pulang dengan status tidak lagi menjadi pengurus dan melanjutkan kehidupan seperti biasa. LPJ ditolak berarti peserta musyawarah menilai LPJnya jauh dari standar LPJ yang baik, yang pas. Mungkin banyak kesalahan penulisan di LPJnya, formatnya salah, pengetikannya tidak rapi, kalimatnya tidak baik dan benar, mungkin banyak program yang tidak dilaksanakan padahal sudah direncanakan, dll. Selesai, kan? Sederhana.

 

Tapi kan kesannya rugi, kami sudah berusaha tapi LPJ ditolak! Kok seakan-akan tidak menghargai pengurus?
Lagi-lagi, mari berpikir dengan tenang, kepala dingin. Peserta menolak LPJ mungkin karena sangat kecewa dengan LPJnya dan kinerja pengurus. Pengurus harus berusaha memahami itu. ditolaknya LPJ tidak akan mengurangi esensi dari usaha dan kerja keras pengurus. Toh, pengurus pasti mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman berharga selama masa kepengurusan. Tidak rugi kalau LPJ ditolak, toh itu tidak akan tertulis di rapor, laporan akademik, atau ijazah kuliah, hehe. Jadi, ditolak atau diterima, kepengurusan tetap selesai dan tetap akan dipilih pengurus baru untuk periode selanjutnya.

 

Nah, trus bagi beberapa orang yang adu argumen saat musyawarah/sidang, mereka saling bertentangan dong? Lho, mereka kan berteman, kok marah-marahan saat sidang? Kok saling menyalahkan?
Adu argumen saat musyawarah/sidang itu biasa. Bagi mereka yang sudah biasa mengikuti sidang, mereka hanya saling marah saat di ruang sidang, saat sidang berlangsung. Setelah sesi LPJ selesai, perselisihan mereka juga akan selesai. Saat acara selesai, mereka akan berangkulan dan saling memaafkan. Itu sudah biasa. Ada yang saat musyawarah/sidang saling menuding, memukul meja, sama-sama marah, tapi setelah selesai acara, mereka kembali berteman seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari pertemanan mereka. Itulah pribadi yang dewasa, bijak, dan bertanggung jawab.

Tapii, kami ingin LPJ kami diterima! Kan malu kalau LPJnya ditolak…
Kawan, cobalah berlapang dada menerima kenyataan kalau LPJ kita jauh dari kriteria LPJ yang baik. Mungkin memang LPJ kita memiliki banyak kekurangan, kesalahan. Kalau LPJ yang banyak salahnya saja diterima, jadi apa standarnya LPJ ditolak? Hal yang perlu kita cermati adalah bahwa jika LPJ kita ditolak, maka kerja tim kita selama periode kepengurusan memang kurang baik. Mungkin saja kita sebagai individu memang hebat dan mampu bekerja untuk organisasi, tapi kerja sama tim juga dinilai saat musyawarah/sidang. Jadi, terima saja apa yang menjadi keputusan forum musyawarah/sidang setelah kita berusaha menjelaskan tentang perjalanan kepengurusan kepada peserta sidang. Kita juga harus menilai kinerja tim pengurus. Kalau memang jauh dari standar yang diharapkan, jadi ya tidak harus malu kalau LPJ kita ditolak. Toh, memang sampai di sana kualitas tim kita.

Jadi bagaimana harusnya kami sebagai pengurus bersikap ke peserta musyawah/sidang?
Kita sebagai pengurus, apakah itu LPJ kita diterima atau ditolak, harus berlapang dada dan bijak menghadapinya, khususnya jika LPJ kita ditolak. Kalau LPJ diterima, pasti pengurusnya senang dan tidak mempunyai masalah berarti ke peserta musyawah/sidang. Kalau LPJ ditolak, kita harus menerima dengan hati lapang. Pengurus tidak boleh marah kepada peserta sidang, apalagi memusuhi mereka, hehe..lucu sekali kalau ada yang seperti itu. Seharusnya, kita sebagai pengurus harus mengayomi dan memberikan perhatian pada peserta sidang yang merupakan anggota organisasi, bukan malah marah atau tidak suka pada peserta/anggota. Hal yang juga perlu diingat, berorganisasi adalah tempat kita belajar untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan berjiwa besar.

Tulisan ini ditulis setelah MUSDA dan menjelang MUBES

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s