Posted in Me, penaku

Cara

Buku. Membaca.
Ya, membaca buku adalah salah satu cara saya untuk mengusir jenuh dan ‘lelah’nya bekerja. Setelah membaca, baik buku fiksi dan nonfiksi, saya selalu mendapatkan input baru yang entah bagaimana caranya, bisa menghilangkan kejenuhan dan sejenak membuat saya lupa pada kesibukan bekerja.

Sahabat. Perjumpaan.
Bertemu beberapa sahabat di akhir pekan juga sudah sangat membahagiakan saya. Mereka memang orang-orang baik yang selalu berbagi dan bersedia dibagi banyak hal dari saya. Kami kadang hanya mengobrol ringan sambil makan, atau hanya sekadar duduk di tepi pantai sambil menatap lautan. Kami juga sering janjian bertemu di salah satu pengajian atau kegiatan. Berenang atau sekadar berkunjung ke rumah sahabat juga sudah sangat berarti.

Makanan. Ngemil.
Beberapa kali saya merasa ingin makan di saat jenuh. Entahlah, saya memang suka makan –kecuali di beberapa situasi-. Kadang, capppucino keju bisa langsung mengembalikan mood saya menjadi lebih baik. Cumi-cumi goreng tepung crispy juga sangat menggoda dan jenuh atau suntuk saya bisa hilang seketika.

Saya. Menyendiri.
Menyendiri juga sangat ampuh –bagi saya- untuk mengusir kejenuhan. Dua tahun lalu, sehari setelah Idul Adha, saat masih liburan tengah semester, Saya ke Batam sendirian. Perjalanan darat dari utara Malaysia hingga ujung selatan Malaysia, Johor Baharu. Lalu, naik Feri ke Batam. Ini hanya perjalanan biasa, duduk di bus selama lebih kurang 12 jam pergi dan 12 jam kembali tapi sangat berarti karena saya bisa ‘sendiri’ tanpa ada teman mengobrol, menatap jalanan yang dilewati, dan mengamati aktivitas orang. Walaupun memang, selama perjalanan, saya masih berkomunikasi dengan teman via BBM dan Whatsapp. Perjalanan saat itu berhasil merefresh pikiran saya dan mengurangi kejenuhan.

Kalau sedang pulang kampung ke Bukittinggi, saya suka ke Pasar Bawah sampai ke Pasar Atas sendirian. Berjalan kaki dari rumah nenek di Lambau, melewati Pasar Bawah, tetokoan di Aua Tajungkang, Pasar Lereng, hingga Pasar Atas. Melihat-lihat dagangan orang di kaki lima, masuk ke dua tiga toko aksesoris atau pakaian, dan kembali pulang –berjalan kaki- dengan membawa beberapa tentengan, termasuk Cappucino keju yang selalu laris manis di seberang SMAN 1 Bukittinggi.

Orang tua, berkumpul.
Berkumpul, hanya bertiga di rumah, bersama Ayah Ibu juga sangat menyenangkan. Kami sangat jarang keluar untuk makan di salah satu restoran atau café. Saya sangat menikmati waktu luang di rumah, bercerita bersama Ayah Ibu, menonton, membaca, dan kegiatan lainnya.

Tulisan. ‘Berselancar’.
Menuliskan hal yang saya rasakan, baik itu dipost di blog saya atau tidak, juga bisa menghilangkan suntuk. Satu dua yang saya tulis, ada yang saya publish di blog. Online, searching, dan browsing juga akan sangat menyenangkan dengan catatan: tidak terlalu lama. Berkunjung ke blog orang lain, membaca artikel dan berita, dst.

Cara lain yang utama tentu saja dengan mengadu pada Allah SWT, membaca surat cintaNya, membaca terjemahannya, sangat menyejukkan hati.

Bagaimana dengan Anda?

 

Masih saja tidak bisa upload gambar

2 thoughts on “Cara

  1. membaca, memang selalu mengubah cara berpikir. . .
    secara langsung menghilangkan beban pikiran-pikiran sebelumnya,
    wah saya juga jadi inget . . belakangan ini jadi jarang membaca😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s