Posted in penaku

Urang Awak

Tadi JustAlvin temanya Ambo Urang Awak dengan menghadirkan beberapa artis yang berasal dari Minang. Kalau ingat kata ‘awak’, saya langsung ingat dulu saat awal-awal di Malaysia, saat sedang berbincang dengan teman Malay, jadinya miskomunikasi karena kata ‘awak’ di sana artinya ‘kamu’, bukan ‘saya’ seperti penggunaannya di bahasa Minang. Walau tidak begitu lama menjadi orang Minang yang merantau di Malay, ada beberapa hal yang saya ingat. Umumnya vocal bicara dan intonasi orang Minang mudah ditebak, ya iyalaah..tiap daerah juga gituu... Maksud saya, pengucapan huruf vokal orang Minang lebih all out, hehe…saya gak tahu istilahnya gimana. Contohnya, pengucapan huruf A dan E orang Minang jelas terdengar berbeda dengan orang daerah lain. Huruf vokal A diucapkan lebih jelas dan pengucapan huruf E nya tidak ditahan. Anda mungkin pernah mendengar teman Anda yang orang Minang kalau berbicara. Kalaupun ada orang Minang yang bicaranya sama saja seperti orang Jakarta atau Jawa, ya mungkin karena sudah lama bergaul dan tinggal di luar ranah Minang. Kadang, cara bicara orang Minang ini menjadi bahan lelucon teman-teman dari daerah lain.

Katanya sih orang Minang ini pintar nawar harga kalau belanja. Hmm, menurut saya, tidak semua orang Minang sih yang bisa dan SUKA nawar. Teman-teman saya yang memang orang Minang asli, ada yang memang berbakat nawar, ada juga yang tidak bisa sama sekali. Yaa..mungkin karena latar belakang keluarga dan anak muda sekarang ada yang gengsi kalau nawar ya, hehe. Jadi ya tidak semua orang Minang sih yang jago nawar.

Tentang tawar-menawar ini juga ada yang mengaitkan dengan pelit. Ada yang bilang kalau orang MInang itu pelit. Menurut saya, bisa iya, bisa tidak. Lagi-lagi, tergantung orangnya. Jadi ya jangan digeneralisir. Hemat juga tidak bisa disamakan dengan pelit. Orang nawar juga tidak bisa dijudge pelit. Hehe.. Tentang tawar-menawar ini, ada kejadian beberapa waktu lalu. Saat saya sedang kelas –pelatihan-, ada dua orang teman, A dan B, lagi ngobrol. Kira-kira percakapannya seperti ini: A : 55 ini, oke ya?

B : yaah, gak ah. 50 aja dong..

A : hmm….gimana ya?? Gak ahh …

C (ngomment sendiri) : 52 aja lah kalau gitu, kayak orang Minang aja…hihii

Saya : eh, memangnya ngapain orang Minang?? Saya langsung membalikkan badan dan melotot –becanda- ke si C, eeh si C juga lagi melihat saya sambil cengengesan.

Kalau orang Minang dibilang jago dagang, saya yakin kalau orang daerah lain juga ada yang jago dagang, hehe. Yaa lagi-lagi, tidak semua orang Minang yang jago dagang. Tapi memang, di Jakarta dan Jawa mungkin banyak pedagang Minang jadi ya dikenal orang.

Ada juga tentang pandangan beberapa orang tentang mengapa daerah di Sumbar tidak terlalu berkembang, jauh tertinggal jika dibandingkan provinsi lain seperti Riau, Jambi, dan Bengkulu. Salah satunya dilihat dari sisi pembangunan sarana prasana dan gedung bertingkat. Kalau Anda ke Sumbar, mungkin agak kaget dengan pemandangan sekitar. Gedung umumnya hanya bertingkat 1-2. Hanya beberapa gedung pemerintah dan hotel yang menjulang tinggi, itupun masih kalah tinggi dari bangunan di provinsi lain. Banyak juga lahan kosong, ya hanya ditumbuhi berbagai tanaman. Banyak orang mengatakan kalau ini karena di Sumbar banyak tanah suku, tanah ulayat, tanah kaum, yang tidak boleh diganggu, tidak bisa dijual. Ada plus minusnya memang. Nah, ini sejalan dengan kecenderungan banyak orang Minang yang merantau dan mencari penghasilan ke daerah lain. Mereka ke Jakarta, kota lain, bahkan luar negeri. Mereka mulai memutar modal untuk berdagang dan pada akhirnya berhasil, kaya. Kini, di Padang, bukan berarti kehidupan di Sumbar ini tidak baik dan ‘lesu’ ya, kehidupan masyarakat ya biasa saja. Orang yang ngantor ya rutin ngantor, yang manggaleh (jualan) tetap manggaleh, yang merantau ya sukses dan bertahan di rantau.

Kalau saya pulang kampung ke Sungaipua, perjalanan dari BUkittinggi ke Sungaipua sekitar 45 menit akan sangat saya nikmati dengan melihat kanan kiri. Banyak rumah-rumah bagus hingga rumah mewah yang kosong, pagar digembok, tidak ada orang, even saat itu hari raya Idul Fitri. Rumah-rumah yang terlihat lebih bagus, lebih kokoh, lebih ngejreng, lebih mewah, di antara rumah-rumah sederhana dan rumah sangat sederhana di kanan kirinya. Saya tidak tahu apakah di daerah lain di Sumbar juga seperti ini. Yaa, si empunya rumah mungkin para perantau yang belum sempat pulang kampung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s