Posted in penaku

LEMBUR

“Sabtu ke kantor? Ngerjain apa? Wah, banyak niih dapat –uang- lembur..” X_X
“Ciiee, banyak ‘dapat’ di akhir bulan niih karena pulang malam teruuus..” Dsb. Beberapa komentar lain juga serupa. Saya tanggapi dengan ringan juga, “hehe..pulang malam sih iya tapi belum tentu masuk di ‘lembur’ kaan”

Beberapa teman –rekan kerja dan teman di luar kantor- ada yang cepat mengerti. Beberapa lainnya tidak mengerti.

Oke, saya akan jelaskan di sini🙂
Apakah saya sering pulang malam? Iya, kecuali 3 minggu terakhir. ‘Sering’ ya, bukannya ‘selalu’.
Seberapa sering saya pulang malam? Sering, 80%.
Apakah saya pulang malam karena memang bekerja? Yap! Saya masih di kantor hingga pukul 20.00 WIB atau lebih, karena memang bekerja, bukan untuk sekadar duduk dan mengobrol dengan teman, karena karyawan pulang pukul 17.00 kecuali jika pekerjaannya belum selesai atau sedang menunggu jemputan suami. Eeiitss, tunggu. Beberapa kali saya akan pulang setelah maghrib (sebelum pukul 19.00 WIB karena pekerjaan saya selesai puku 18.00an, jadi saya menunggu waktu sholat magrib, kalau tidak, akan terlambat maghrib-an saat sampai di rumah.

Apakah pekerjaan saya segitu banyaknya hingga saya harus pulang malam? Relatif. Saya memaksimalkan jam kerja untuk bekerja tapi ternyata pekerjaan saya belum selesai hingga maghrib. Saya duduk bersebelahan dengan manajer, ya mana bisa saya ‘main-main’ saat jam kerja, hehe. Pada beberapa waktu, saya merasa memiliki waktu kerja yang sedikit karena pekerjaan saya belum selesai hingga malam.

Jadi, apakah jika saya pulang malam maka saya akan mendapatkan banyak upah lembur? Belum tentu. Begini, saya pulang malam karena menyelesaikan pekerjaan, yang tidak semuanya saya tulis di Surat Lembur. Surat Lembur ini memuat waktu lembur dan daftar pekerjaan yang dilakukan karyawan saat lembur. Nah, dari 10 hari saya pulang malam, saya hanya menuliskan 2 atau 3 hari Surat Lembur dan saya meminta persetujuan manajer sebelum saya input data lembur di sistem kepegawaian. Kalau sudah diinput di sistem kepegawaian, maka itulah yang dihitung untuk mendapatkan upah lembur. Jadi, saya hanya akan mendapatkan upah lembur kalau saya membuat surat lembur dan disetujui manajer lalu saya input di sistem. Got it?🙂

Mengapa saya hanya menuliskan sedikit hari di surat lembur sementara saya sebenarnya sering pulang malam? Ya itu suka-suka saya, hehe. Lagipula, bagi saya, ada beberapa hal yang tidak mau saya masukkan sebagai pekerjaan lembur. Apakah saya menggerutu karena yang saya kerjakan tidak langsung terbayarkan oleh upah lembur?? Tidak!

Ada juga yang berkelakar, “masukin aja lemburnya Ci, kan Ci yang pegang HRISnya.” Hehehe..ini becandaan satu dua teman.

Saya tidak ingin melakukan itu walaupun saya punya kesempatan untuk itu. Saya yang bertugas di bagian kepegawaian, saya yang menginput data lembur dan data lainnya yang bisa saja menguntungkan saya secara materiil, namun saya tidak serendah itu, mencari dan mendapatkan hak tanpa diketahui dan disetujui atasan secara administratif. Tidak.

Jadi, jangan berpikir kalau saya pulang malam berarti uang lembur saya banyaak yaaa😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s