Posted in penaku

Beda

Hampir dua bulan saya meninggalkan Padang. Satu bulan di Bandung, sekarang hampir tiga minggu di Serang. Tentu perlu beradaptasi dengan lingkungan. Perbedaan budaya, agama, bahasa, pasti dihadapi. Berikut beberapa perbedaan sederhana yang dua minggu terakhir saya rasakan:

Penyebutan nama sebagai kata tunjuk ke diri sendiri. Saya dan masyarakat di Padang umumnya menyebut nama sebagai kata tunjuk pada saat berbicara. Contoh:

….
Suci : Ci tadi ngerjain ini …..itu….
Fitri : Aku tadi pergi jalan ke sanaa….

Nah, seorang teman menyampaikan bahwa penyebutan diri sendiri sebagai kata tunjuk saat berbicara itu tidak lazim di sini karena terkesan kekanak-kanankan, jadi sebaiknya menggunakan kata tunjuk ‘aku’. Saat itu, saya dan seorang teman dari Medan kaget karena kami di daerah masing-masing diajarkan untuk menyebut nama karena lebih sopan. Kami sejak kecil tidak dibiasakan menyebut ‘aku’ karena terkesan agak ‘personal’ dan kurang pas digunakan.

Nama untuk beberapa kata benda.
Teh Es (Padang) – Es Teh Manis (di sini)
Minas (Padang) – Nasi Mawut (di sini)
Siap (Sebagian besar Sumatera, teman saya dari Aceh, Medan, dan Padang mengalami) bermaksud selesai, di sini Siap adalah ready, not start yet.
……
…..

Saya lupa yang lainnya. Temans, ini memang simple tapi saat saya keceplosan bilang Teh Es, orang-orang tertawa. Malukah saya?? Tidak. Bahkan saya semangat menjelaskan kalau di Padang lazim disebut Teh Es walaupun juga tidak salah menyebutkan Es Teh Manis di Padang, jadi tidak bisa menyalahkan salah satu pihak. Saat saya bertanya ke seorang teman apakah ada Minas (Mie+Nasi goreng), teman saya langsung bilang: Eeei..itu gak Minas tapi Nasi Mawun…

Hehe….teman-teman tentu bermaksud baik dengan memberitahukan tentang simple thing tadi. Namun yang membuat saya geli, reaksi beberapa orang yang menyampaikan itu terlihat terlalu ‘bersemangat’, jadi dikhawatirkan bermakna menyalahkan, menertawakan, dan hanya menerima hal benar pada satu tempat saja.

Saya belum menemukan orang yang merespon seperti ini: “Teh Es?? Oo…maksudnya Es Teh Manis ya??”

atau respon: “Teh Es?? Di tempatmu disebut Teh Es ya? Kalau di sini, orang nyebutnya Es Teh Manis…”.

Tentunya tidak lebih baik seperti ini: “Teh Es??? Hahaa…apa tu?? Adanya Es Teh Maniiis…” atau “itu gak Minaaas, di sini namanya Nasi Mawuut, hahaa…”.

Bagaimanapun, saya ingat kata pepatah: di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Siapapun yang merantau, harus menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya, selama tidak bertentangan dengan agama dan moral. Eiits, satu lagi, mari kita belajar untuk merespon segala sesuatu dengan lebih baik, lebih bijak. Kita ya, tidak hanya Anda tapi pastinya saya juga. Saya yang banyak salah dan masih harus belajar banyak pada siapapun😉 .

2 thoughts on “Beda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s