Posted in penaku

Go and Grab

Gojek masih memanjakan pelanggannya dengan berbagai diskon jika pembayaran menggunakan Go-Pay. Sudah 2 bulan ini saya menikmati diskon 50% Go-Ride, diskon Go-Send, dan diskon Go-Food. Ada diskon Go-Car juga tapi saya belum coba.

IMG_5564

Go-Pay
Pertama kali promo Go-Pay, ada promo berbatas hari berupa tambahan top up Rp.50,000,- jika top up Rp.150,000,- atau berapa gitu, saya tidak ingat. Saya kelewat promonya, jadi gak dapat deh. Ternyata ada promo lain, yaitu kalau ada email dari Gojek yang berisi kode redeem Go-Pay, kita bisa memasukkan kode tersebut di apps dan langsung mendapatkan top up Rp.100,000,-! Seorang teman bilang kalau email itu tidak dikirim ke semua pelanggan Gojek tapi ke beberapa pelanggan tertentu saja. Memang benar, teman saya banyak yang tidak tahu dan tidak dapat emailnya. Seorang teman yang dapat email bilang kalau email dikirimkan ke pelanggan yang sudah beberapa kali menggunakan Gojek dan sudah pernah top up di Go-Pay. Saya langsung coba top up dari Mobile Banking Mandiri, caranya: pilih menu ‘bayar’ – ‘lainnya’ – penyedia layanan ‘Go-Pay Customer’ – isikan nominal yang ingin diisi. Itu pertama kalinya saya isi, nominal Rp.150,000,-. Satu dua hari setelahnya, saya dapat email yang ada kode redeem untuk dapat tambahan top up Rp.100,000,- dari Gojek!!

Mudah dan Murah😀
Kehadiran Go-Jek dan berbagai platform sejenis telah memberikan berbagai kemudahan untuk masyarakat. Saya ingat, tahun 2014 saat Go-Jek dan sejenisnya belum ada, saya di Jakarta beberapa hari ‘mengandalkan’ taksi. Memang tidak salah, tapi agak bermasalah di kantong saya, hehe. Go-Jek dan sejenisnya jauh lebih murah dan lebih cepat –secara macet-. Saat saya sakit, harus bedrest di kost, tidak kuat keluar mencari makan, tetangga kamar kost sibuk semua, teman kantor apalagi –sibuk juga-, maka driver Go-Jek lah yang ‘membantu’ saya melalui Go-Food. Saat saya sibuk di kantor dan ada dokumen teman yang harus diambil, Go-Send membantu terlebih ada diskonnya karena saya bayar dengan Go-Pay, hehe…

Puas VS Tidak Puas
Bicara ride atau motor, to be honest, bagi saya Go-Ride lebih oke daripada GrabBike. Ini bagi saya lho ya, seorang sahabat saya malah sebaliknya. Nah, yang saya ini, mengapa Go-Ride lebih oke? Dari semua driver Go-Ride yang pernah membawa saya, hmm saya tidak punya ingatan yang kurang baik. Cuma ada satu yang kebingungan mencari jalan dan sempat ragu apa iya saya ini orang yang ada di orderan hp nya padahal sudah dikonfirmasi ke saya sebelum naik motor, saya juga sudah menanyakan nama drivernya dan sesuai dengan nama yang tertera di hp saya. Itupun si Bapak Go-Ride ini tetap sopan, berusaha menanyakan ke beberapa orang di jalan, dan berusaha sekencang mungkin agar saya tidak telat datang ke tempat tujuan. Pada Gojek, Saya memberi 4 atau 5 bintang setiap setelah sampai tujuan. Pernah juga sekali waktu saya tidak diberikan helmet sebelum naik karena memang perjalanan ke tujuan tidak melewati jalan raya kawasan tertib lalin yang ada polisinya, tapi saya tetap meminta helmet. Tapi di dua situasi ini, drivernya masih ramah dan sopan.

Kalau Grab, saya suka GrabCar dan GrabTaxi, but sorry for GrabBike. Pertama naik GrabBike, tentu ekspektasi saya tentang drivernya seperti Gojek; baik, ramah, memperhatikan keselamatan, standar sebenarnya. Pertama kali naik GrabBike, drivernya tidak tahu pasti tempatnya, oke tidak masalah, tapi si Mas ini tidak berusaha bertanya ke orang-orang di jalan, saya tidak dikasih berenti untuk bertanya, lalu saya diturunkan di pinggir yang katanya udah dekat tinggal jalan beberapa meter, sambil bicara ke saya seperti buru-buru dan kurang ramah. Saya yang sama sekali buta lokasi dan mulai tidak nyaman dengan sikap si Mas ini, turun dan membayar, lalu dia langsung berlalu. Saya bertanya ke seorang Bapak dekat sana dan ternyataaa tempat tujuan saya masih jaauuh –sekitar 2km- dan saya harus jalan karena tidak ada transportasi umum di dalam sana. Langsung dong saya buat complaint di kolom yang disediakan setiap setelah selesai satu perjalanan.

Sejak saat itu, saya tidak mencoba GrabBike lagi. Hingga sekitar 2minggu lalu, saya di GI ingin pulang ke kost. Ternyata aplikasi Gojek sedang error, saya ditolak beberapa kali karena kejauhan padahal driver Gojek banyak di sekitar sana. Seorang driver memang bilang kalau apps Gojek sedang error. Oke, jadi pilihannya ada pada GrabBike, tidak Uber karena sore dan sedang macet-macetnya. Nah, hitungan detik dari reservasi saya, datanglah driver GrabBike. Memang cepat seperti promonya via email yang saya terima. Bapak ini berenti dan langsung bicara cepat dan terengah menjelaskan posisinya tadi di mana dan dia kesulitan mencari saya, padahal saya sudah menginfokan posisi saya di depan lobby yang mana. Saya juga tidak memasang wajah kesal menunggu dan tidak bertanya apa-apa ke Bapak ini tapi langsung bicara dengan sedikit emosi ke saya. Oke, mungkin Bapak ini hanya ingin menjelaskan ke pelanggan. Namun yang membuat saya agak kaget, saya baru saja akan duduk dengan pas di atas motor tapi motornya sudah jalan! Kalau saya lengah sedikit, mungkin saya jatuh. Saat turun, saya seperti biasa mengucapkan terima kasih duluan sambil menyerahkan helmet, tapi Bapak ini tidak ada respon seperti jawaban atau minimal bergumam. Hehe…ini tidak terlalu masalah sih, tapi bagi saya yang mindsetnya sudah seperti ramahnya driver Gojek yang saya temui, ya terasa berbeda sih walaupun ini memang sangaat sederhana.

Kalau GrabCar, saya puas. Belum puluhan kali memang saya menggunakan jasa GrabCar, tapi tidak ada hal tidak baik yang saya ingat. Driver baik dan ramah, mobilnya oke, standar. Hanya ada sekali waktu, malam dan hujan lebat. Saya dari tempat yang sebenarnya mudah dicari, tapi karena hujan lebat dan ada pesta, jadi menghambat jalan drivernya ke tempat saya menunggu. Saya telpon drivernya dan meminta menunggu di simpang sebelum masuk gang yang ada pesta tersebut. Saya berjalan beberapa puluh meter bersama genangan air (saya heran, di Jakarta cepat sekali air tergenang beberapa cm padahal hujan deras belum lama) dan –dengan mudah- bisa menemukan mobil GrabCarnya. Drivernya bilang kalau untung saja saya jalan ke depan gang, kalau tidak mungkin dia sudah putar-putar cari lokasi saya.

Well, saya tahu kalau platform seperti Gojek dll memang mempertemukan semua ekosistem di persekitaran yang membutuhkan platform ini *bahasanya mulai agak-agak IT sedikit. Jadi memang berbagai latar belakang orang bisa dipertemukan. Para driver juga tidak semua yang paham dan bisa mengaplikasikan value dari bisnis yang jaketnya mereka gunakan. Namun saya yakin, pada awal mereka bergabung, mereka dipahamkan tentang keramahan dan keamanan customer. Pada platform ini juga disediakan kolom komentar dan complaint yang standarnya akan diberikan feedback via email kepada pelanggan. Jadi, tentu ramah dan aman menjadi salah satu standar mereka.

Begini cerita saya,
Ceritamu??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s