Posted in penaku

Cerita Libur Lebaran

Tahun ini adalah kali pertama saya menjalani ramadhan sendiri, tidak di rumah bersama orang tua. Dulu saat kuliah 3 semester di UUM, bulan ramadhan bertepatan dengan libur semester jadi saya di Padang. Bagaimana rasanya ramadhan sendiri, tidak bersama keluarga? Sedih tentunya karena kangen ‘rumah’, tapi ya dijalani saja.

Tetep, saya mengenang ramadhan saya tahun-tahun sebelumnya; saat kuliah yang mengasyikkan karena membantu kegiatan pesantren ramadhan, saat skripsi yang sibuk skripsi dan kompre, dan 2 tahun terakhir ini ramadhannya saya di BSM. Maafkan kalau tulisan saya tidak jauh dari kantor pertama saya ini ya. Saya tetiba ingat beberapa acara kantor lama seperti buka bersama dan santunan. Sempat terbersit ingin untuk berbuka bersama di sana lagi, bersama mereka lagi.

Ternyata, ramadhan sendirian ya bisa saya jalani dengan tenang, hehe. Awalnya terasa mungkin akan berat, tapi ternyata tidak juga. Hari demi hari dijalani dengan bekerja dan beberapa kegiatan lain, hingga ramadhan berakhir😦

Salah satu yang amat saya tunggu adalah pulang ke Padang. Beberapa hari terakhir bekerja, sudah mulai sering ingat pulang, sudah prepare beberapa barang untuk dibawa pulang walaupun sibuk kerja, hehe..

Padang
Baru kali ini saya tahu kalau harga tiket Jakarta-Padang kalau lebaran bisa 2X harga tiket Jakarta-Pekanbaru (di waktu yang sama, lebaran juga). Ya mungkin karena memang orang Minang banyak yang merantau. Katanya, banyak orang yang tujuan Padang lebih memilih pulang melalui Pekanbaru karena harga tiketny lebih murah –walaupun tetap mahal- dibandingkan tiket langsung Jakarta-Padang.

Saya pulang hari Sabtu pagi, setelah Jumatnya masih sibuk kerja, saya pikir Jumat akan lebih santai karena hari terakhir kerja sebelum lebaran. Hari Jumat saya lalui dengan senyuman dan mood yang baiik banget karena besoknya ke Padang. Paginya rencana belajar beberapa kerjaan dengan Bel, lalu siang hingga berbuka puasa di kantor Citywalk untuk ikut rapat mingguan manajemen. Saya rasanya ingin cepat kembali ke kost dan prepare akhir untuk pulang besok.

IMG_5661 - Copy.JPG

Subuhnya, sahur terakhir di Jakarta untuk ramadhan tahun ini –hehee..-, saya happy banget. Bagaimana tidak happy, nanti siang saya sudah ada di rumaah!! *tentunya dengan izin Allah. Setelah subuh, saya coba order GrabCar yang lagi promo untuk perjalanan ke bandara, tapi gak dapat. Daripada menunggu lama, saya order Blue Bird melalui apps My Blue Bird. Hitungan detik langsung dapat dan beberapa menit setelahnya, taksi datang.

Perjalanan ke bandara lancar jaya. Saya pikir akan sangat ramai dan padat merayap, tapi ternyata tidak. Mungkin karena masih subuh. Padahal banyak teman yang bilang kalau waktu libur lebaran begini akan macet ke Soeta. Saat sudah masuk Soeta dan perjalanan menuju terminal juga tidak macet. Keramaian jelas adanya saat masuk ke ruang check in, bisa mengantri 5-10 menit. Nah, di ruang check in dan drop bagasi penuh orang, susah jalan, dan mengantri, ini bisa sampai 30 menit. Saya sudah online check in tapi harus drop bagasi. Untungnya jadwal saya masih lama, jadi tidak terburu-buru.

Hati saya senang, serasa ingin melonjak gembira saat di ruang tunggu, tapi keep calm, hehe. Saya menunggu sekitar 1 jam-an. Saya coba online dengan wifi bandara, bad, gak bisa online. Bosan online, saya tidur.

Saat duduk di pesawat, saya lihat pemandangan di luar dulu. Setelah pesawat di atas dan hanya bisa melihat awan, saya tidur, hehe. Saya bangun saat pesawat akan mendarat. Akhirnya saya kembali melihat kota Padang tercinta dari atas. Seperti biasa, saya hanya bisa mengenali beberapa tempat dimulai dari daerah Bungus, teruus hingga ke jalan Soedirman. Ada kantor gubernur, jalan Rasuna Said, GOR, Telkom, Masjid Raya Sumbar, jalanan Khatib, Ulak Karang, Basko, UNP, hinggaa Embarkasi Haji dan rumaaah. Indaaah semua, membuat hati ini tenang. Teruus hingga sampai di BIM. Pesawat berputar di atas BIM –as usual-, lalu mendarat. Alhamdulillaah, pulaaaang.

Setelah ambil bagasi, saya keluar. Saya celingukan sejak dari dalam hingga keluar karena sangat ramai orang yang menunggu di pintu kedatangan. Saat saya mendekat ke kerumunan orang, terdengar ada yang memanggil, “ ‘ammaah Suciiii…”, Ya Allaah itu suara anak-anak (keponakan) tersayaaang, saya lihat kanan kiri gak kelihatan yang mana, lalu tiba-tiba ada yang lari mendekati saya. Inilaah merekaa, anak-anak kecil sholeh sholehah tersayaang. Ternyata tidak hanya Uda Isat yang jemput, tapi Salman dan Khaira ikut juga.

Perjalanan ke rumah, kami mengobrol. Khaira dan Salman banyak cerita dan menyanyi. Mereka menyanyikan “bajuu baru Alhamdulillah, tuk dipakai di hari raya, tak punyapun tak apa-apa, masih ada baju yang lamaa”, dengan irama lucu khas anak-anak, dengan suara lantang, meneruskan menyanyi tidak hanya baju baru, tapi sepatu, jilbab, topi, tas, dll, hingga suaranya terdengar habis karena saking semangatnya bernyanyi.  Lalu saya goda mereka, “kalau amah (tante) baru, gimanaa??”, reflex mereka jawab, “gaak maaau ammaah baruuu..”. Saya sontak tertawa dan menggoda Uda, hehe. Anak-anak mungkin tidak tahu maksudnya. *dan jangan bilang kalau Anda juga tidak tahu

Sesampai di rumah, saya langsung disambut Zaid, si bungsu, yang menatap saya beberapa saat lalu memanggil, “ammaah…”. Lalu ada Ayah dan Ibu. Alhamdulillaah, lengkap. Nikmat Allah mana lagi yang saya dustakan? Bisa berkumpul dengan Ayah Ibu Uda, Kak Puti dan keluarga kecilnya. Berbeda dengan lebaran tahun lalu, Kak Puti dan keluarga lebaran di Batam.

Saya membuka koper dan kardus bawaan, memberi oleh-oleh untuk anak-anak, kado ulang tahun kak Puti (hehe…), dan beberapa bingkisan untuk Ibu. Senang melihat mereka tersenyum dan bahagiaa

Jadi, saya bisa menjalani 4 hari puasa di Padang. It means, 4 hari berbuka dan sahur bersama keluarga. Benar-benar berbuka bersama keluarga, di rumah. Saya tidak ada janji dengan teman lain untuk berbuka bersama di luar karena saya ingin memanfaatkan waktu 4 hari ini untuk full di rumah, nikmat yang luar biasa, tidak ingin disia-siakan. Kami sekeluarga berbeda dengan keluarga lain yang mungkin suka berbuka puasa di luar rumah. Kami merasa sangat luar biasa jika berbuka di rumah dengan teh hangat, beberapa potong kurma, gorengan, dan buah.

Dua hari pertama di rumah, saya beli tahu brontak, kangeen banget. Saya juga cari beberapa makanan kesukaan yang tidak ada di Jakarta. Selama di rumah, saya juga bahagia melihat anak-anak yang semangat ikut Abinya, kakek neneknya, dan Uda kalau ke mesjid. Saat malam terakhir tarawih, Uda kebagian ceramah di mesjid. Khaira bersama saya, Salman bersama Uda Isat, dan Zaid bersama Ayah. Senang melihatnyaa. Khaira tertidur nyenyak sesudah sholat isya hingga selesai tarawih. Ibu saya bilang kalau Ayah saja yang gendong, tapi saya bangunkan Khaira supaya jalan sendiri. Si cantik ini bangun dengan tenang dan mau jalan, tidak rewel.

Kantor Lama

IMG_5681 - Copy.JPG
Mumpung di Padang dan ada operasional terbatas di BSM Padang, saya ke kantor. Huaaaa…kangeeen bangeeet. Saya ‘gangguin’ yang sedang kerja. Mengobrol, melepas rindu. Ada Bapak Satpam dan tim operasional lainnya. Saya juga menukarkan uang –titipan Ibu-, menyetor uang, dan mengganti buku tabungan. Saya juga mencoba presensi finger print. Ternyata jari saya masih terdata dan masih bisa terdengar suara “terima kasih” tanda jari ‘sukses dibaca’. Sore, saya jalan ke Pasar Raya, mencari satu dua hal, dan naik angkot pulang ke rumah, seperti perjalanan saya dulu dari kalau Sabtu atau Minggu ke kantor.

Anak-Anak
Keponakan, 3 orang. Kadang sangat kompak, rukun, saling memberi, saling menolong. Kadang bertengkar, nangis-nangisan, ngambek.  Salman, sulung, cucu pertama juga, gayanya khas anak sulung si pemberani walaupun kadang ngambek dan gaya khas anak kecil. Khaira si cantik yang cuek, bisa main sendiri, moody-an, suka membantu dan memberi adeknya. Zaid si bungsu yang sedang belajar berbicara, selalu ceria, suka memanggil kami semua, suka member ciuman dan pelukan. Semoga tahun depan kita bisa berlebaran bersama lagi yaaa.

Bukittinggi
IMG_5698 - Copy.JPG
H-1 lebaran, kami ke Bukittinggi, rumah almh.nenek.  Uda semakin deg-degan karena akan menjadi Khatib Sholat Idul Fitri di Masjid Agung Bukittinggi. Tidak hanya Uda, Ayah Ibu dan saya juga deg-degan. Tips perjalanan mudik ke Bukittinggi –dan daerah sekitarnya- agar tidak terkena macet; perjalanan dilakukan pagi hari sesudah subuh, sebelum siang. Begitupun saat pulang kembali ke Padang. Perjalanan pulang ini benar-benar harus diperhitungkan karena sangat banyak yang ke Bukittinggi dan melalui Bukittinggi jadi jalanan akan sangat ramai oleh kendaraan. Terlebih banyak objek wisata dan tempat bermain anak di perjalanan dari dan ke Bukittinggi.

Hari terakhir sebelum lebaran, saya dan Ibu menyempatkan ke pasar Aur Kuning untuk mencari beberapa keperluan. Saya juga menyempatkan berjalan sendiri ke Jam Gadang, Pasar Atas, Pasar Lereng, dan Pasar Bawah. Malamnya, kami keluar rumah lagi, berkeliling ke beberapa tempat untuk mengunjungi kerabat dan mencari beberapa keperluan. Jalanan Bukittinggi yang kami pikir akan macet karena malam takbiran, ternyata tidak terlalu padat oleh kendaraan.

Hari Raya
IMG_5694 - Copy.JPG
Lebaran hari pertama, kami sekeluarga lega karena Uda membawakan ceramahnya dengan lancar. Hehe… Uda tidak deg-degan lagi. Setelah sholat Id dan kembali ke rumah, kami foto-foto sedikit, wefie saja. Tenang, suasana yang selalu saya rindukan, walau kami tidak seperti keluarga lain yang merayakan lebaran dengan baju dan tampilan mewah nan gemilang. Kami tentu mempersiapkan makanan dan kue khusus untuk berlebaran, tapi tidak mewah dan mahal seperti yang lainnya. Kami bahagia, sangaat bahagia, dalam kesederhanaan dan kecukupan yang ada.

Kami berlebaran ke beberapa rumah kerabat. Melepas rindu mengunjungi kampung kami, Sungaipua. Pemandangan hijau dan menenangkan khas di kampung, membuat para perantauan selalu terpanggil untuk pulang.

Hari Raya ke-2, saya dan Ayah jalan pagi ke Jam Gadang dan Banteng. Uda jogging sendiri. Pulangnya, kami ke Los Lambuang membeli katupek. Lapeh taragak ambo😀

Kembali
Jumat pagi, kami kembali ke Padang. Belum macet tapi perjalanan sudah ramai. Uda balik ke Bogor pada Jumat malam. Jauh hari saya sudah bilang kalau ke Jakartanya sama saya saja hari Sabtu, tapi Uda tetap ambil tiket Jumat karena lebih murah katanya. Saya mulai terasa berat karena besoknya juga harus kembali ke Jakarta.

Jumat malam, Uda kembali ke Jakarta. Kalau kami bertanya ke Zaid, “mana om Sat?”, Zaid bilang, “oom di kamaar..” atau “oom ke mesjiid..”. hehe…

Keesokan harinya, saya juga mempersiapkan semua barang yang akan dibawa ke Jakarta. Sediih. Saat akan berangkat, entah mengapa Zaid menangis. Saya gendong sebentar tapi tetap menangis. Karena akan berangkat, saya menurunkan Zaid dari gendongan saya, tapi si kecil ini menahan tangan dan kakinya di pelukan saya, dia tidak mau turun dan makin keras menangis. Akhirnya Kak Puti mengambil Zaid dari pelukan saya dan bilang kalau saya harus pergi jadi biarkan Zaid nangis, hehe..

Saya mendapatkan hiburan terakhir di Bandara, ada kelompok seniman daerah yang membawakan musik Minang. Jarang-jarang bisa mendengar langsung begini. Bye Padang, semoga saya bisa sering-sering pulang dan semoga saya bisa mengabdi kembali di Padang🙂. Watch the video here

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s