Posted in penaku

Kala Itu

Tangan kananku cepat terangkat dan memegangi pegangan yang tergantung tepat di atas kepala. Aku tersadar dari lamunan yang entah tentang apa. Pergerakan di sini terhenti sebentar, lalu beberapa detik setelahnya kembali bersiap untuk bergerak maju. Lumayan, moda transportasi yang murah dan cukup menjangkau beberapa daerah dan keramaian, pikirku.

Ku menatap sekeliling, tidak ada kursi kosong yang bisa diduduki. Banyak orang berdiri, mengobrol, menatap layar di bagian atas yang mengeluarkan suara, tertidur, atau melihat pemandangan di luar, sepertiku tadi.

Bahuku mulai terasa agak sakit karena menopang ransel lama tapi awet ini. Kantong tentengan belanjaanku sejak tadi sudah aman di tempat barang bagian atas. Kembali ku menatap ke luar, barisan rumah dan ruko yang berjejer seolah berjalan cepat dan berganti ke jalan, rumah, dan ruko lainnya. Sesekali hanya tanah luas dengan pepohonan atau tumpukan sampah. Lalu ada pasar dan jalan penuh orang yang menungguku, eh, menunggu gilirannya untuk lewat.

Beberapa saat, aku senang melihat deretan rumah sederhana hingga rumah mewah. Aku juga senang melihat pasar tradisional yang kulewati, jalan yang penuh kendaraan, bahkan lingkungan agak kumuh hingga sangat kumuh. Namun, entah mengapa, di perjalanan kali ini, aku merasa mual melihat lingkungan kumuh penuh sampah dan rumah-rumah kayu reot itu. Aku langsung membayangkan beberapa lama waktu dulu, saat aku di posisi yang mirip seperti ini, tapi pemandangan yang kulihat itu jauh lebih ‘ramah’ mata; banyak bangunan berderet rapi. Hati dan pikiranku bernostalgia membayangkan saat itu, berbeda dengan mataku yang tetap melihat tempat-tempat sederhana dan cenderung kumuh itu. Ini membuatku tersenyum, tanpa peduli kalau saja ada yang melihat aku senyum sendiri.

Aku terus memandang hingga aku ingat saat itu, kira-kira dengan kondisi yang mirip, jariku erat menggenggam pegangan. Tatapanku saat itu hanya ke satu arah. Aku senang menatapi pemandangan kota yang penuh gedung, jalanan yang ramai kendaraan, trotoar yang dipenuhi banyak orang lalu lalang. Aku menikmati keluar masuk lorong, bawah tanah, atas bawah. Hingga setelah melewati beberapa perhentian, aku melihatmu. Kereta berhenti di stasiun itu dan kamu ada di sana, tepat di pintu dekatku berdiri. Aku yang tengah melayang bersama lamunanku, seketika terhenti karena bertemu pandang denganmu. Saling tatap tanpa harus mencari. Saling tatap tidak disengaja. Saling tatap tanpa disepakati. Tidak tahu, tidak diperkirakan, apalagi direncanakan. Pada detik itu juga, otakku kembali bisa mengingat kalau aku membencimu.

*Hayoo…lagi mikir apa sesudah baca ini??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s