Posted in penaku

November

Saya sangat ingin menulis sejak awal November lalu, tapi akhirnya saat ini baru bisa merampungkan semuanya. Random saja, minimal saya masih bisa menuliskan apa saja yang berkesan dan yang saya ingat. Saya merasa otak ini agak kaku untuk merangkai kata menjadi tulisan, sepertinya ini karena akhir-akhir ini intensitas membaca saya sudah berkurang. Membaca sih tapi hanya membaca WAan, membaca deretan angka di excel dan ppt. hehe…maksud saya, intensitas membaca buku atau artikel berkurang. Huufhh, jadinya saya merasa otak ini kurang ‘asupan’. Salah satunya karena saya sedang senang buka Youtube (salah tidak menyalahkan Youtube lhoo..). Awalnya niatan mencari review produk, eh jadinya nyasar ke beberapa channel yang vlogging gitu.

Bali (1)
Yap, saya ke Bali di awal November. Tujuan utamanya untuk tugas kantor, pelisir nomor sekian. Selasa pagi, 2 November 2016, saya dan beberapa teman berangkat ke Bali, 1 hari sebelum acara. Akomodasi dan acara berlokasi di Patrajasa Resort Kuta, ini sangat dekat dengan bandara, ya kalau jalan kaki terasa tidak jauh. Awalnya kami tidak tahu kalau sangat dekat karena belum googling. Saat naik minibus Patrajasa yang khusus menjemput, kami duduk dan kurang dari 5 menit kami sampai, hehe..semua surprised.

Sore, kami meeting. Acara kali ini adalah Rapat Pimpinan di divisi saya. Hingga malam, saya dan beberapa teman hanya bisa order go-food karena masih sibuk mengerjakan ini itu. Saya dan roommate akhirnya tidur sesudah azan subuh, harus tidur walaupun tidak lama agar paginya fresh.

Rabu pagi, kami kembali sibuk di ruang acara. Mata ini serasa bengkak karena kurang tidur. Hehe…tapi ya dinikmati saja. Acara dimulai siang sesudah zuhur hingga malam. Saya bertugas di bagian materi presentasi, termasuk stand by di FOH selama acara. Posisi FOH di acara kali ini ada di bagian samping kanan dari panggung, which is ini sangat akan mencuri perhatian peserta kalau ada gerakan atau semacamnya di sini. Namun ternyata pihak EO menutupi meja FOH dengan semacam papan agar tidak memecah konsentasi peserta saat memperhatikan sekeliling panggung. Good.

WhatsApp-Image-20161204.jpeg

Acara berlangsung padat, diselingi break sholat, hingga pukul 20.00. Setelah penutupan secara formal dan foto bersama, peserta diajak ke taman yang mengelilingi salah satu kolam di resort ini. Di sana sudah ada mini panggung, banyak meja makan (dan tentunya dengan kursinya :D), banyak meja buffet makanan, tempat duduk santai, dan photo booth. Ada iringan lagu akustik dan tarian Bali yang menghibur peserta. Acara makan malam ini lancar walaupun sempat turun rintik hujan. Saya dan beberapa teman kembali ke kamar dengan perasaan lega karena acara formal ini sudah selesai, artinya tugas utama sudah selesai. Kami bisa tidur dengan tenang sejenak tanpa memikirkan kerjaan seperti malam sebelumnya.

Jumat, khusus untuk peserta (seperti namanya, jadi pesertanya adalah para leaders, yang tentunya posisi mereka di atas saya), ada acara senam pagi, beberapa games, dan pelepasan penyu. Acara ini sangat seru, apalagi diadakan di tepi pantai. Oya, resort ini di tepi pantai dan punya banyak kolam berenang, tapi dua hari sebelumnya kami belum bisa menikmati keindahan pantai di pagi dan siang hari karena on duty.

Siangnya, acara berakhir. Beberapa peserta sudah mulai pulang. Saya dan beberapa teman berencana jalan-jalan jadi belum akan pulang hari ini. Sembari menunggu mobil sewa, saya dan seorang teman jalan berkeliling di kolam dan pantainya. Waah, menatap pantai dan laut membuat pikiran rileks, hati lebih tenang. Kami duduk di salah satu longer yang teduh di bawah pepohonan rindang, dengan angin sepoi-sepoi, dan suara lembut deburan ombak. Wah, benar-benar membuat rileks. Mungkin karena kelelahan, kami mengantuk dan sengaja tidur di longer ini sembari menunggu teman-teman dan mobil sewaan datang. Hampir 1 jam cukup bagi kami untuk melepas penat dua hari terakhir.

whatsapp-image-201612043

Sorenya, kami ke pantai Balangan. Jalanan menuju pantai ini agak kurang meyakinkan. Awalnya, dengan direction dari gmaps, kami sampai di sebuah bukit tinggi yang di bawahnya ada Pantai Balangan. Namun, dari bukit ini kami tidak bisa langsung turun berjalan kaki. Kami harus meneruskan perjalanan dengan mobil menuruni bukit ini, belok kanan kiri, hingga sampai di pantainya. Saat itu tidak terlalu ramai, hanya beberapa orang yang menikmati sore dan menunggu sunset. Ada beberapa pasangan yang prewed. Setelah menikmati sunset, kami meninggalkan pantai ini. Malamnya sebelum ke hotel Horizon Legian, kami makan Ayam Betutu Khas Gilimanuk.

Keesokan hari, kami ke Air Terjun Tegenungan di Sukawati. Demi melihat air terjun ini, perlu perjuangan berjalan dari parkiran menuju ratusan anak tangga untuk dituruni menuju air terjun. Perlu kesabaran apalagi saat akan pulang menaiki anak tangganya. Waah..melelahkan juga. Jadi kalau Anda ingin ke air terjun ini, disarankan menggunakan pakaian yang menyerap keringan dan adem, serta tidak membaca banyak barang dan tentangan untuk memudahkan turun naik tangga.

Lalu, kami ke Café Pomegranate di Ubud. Jarak dari tempat parkir ke Café nya kira-kira 1 km, sama seperti info di gmaps. Jalanannya berupa jalan setapak yang kanan kirinya hijaau; hamparan sawah dan berbagai tumbuhan. Sejuk, angin sepoi-sepoi, teduh karena ada pepohonan. Sesampai di sana, teteup panasnya Bali terasa, hehe….mulai terasa gerah. Kami duduk di lesehan, memesan makan dan minum, dan duduk santai hingga pukul 13.00 siang. Memang yaa jamnya panas terik. Walaupun sejauh mata memandang hanya hehijauan sawah, tapi hembusan angin tidak terlalu terasa, jadi berasa kurang sejuk. Namuun…gak masalah. Semua terbayarkan oleh pemandangan hijaunya yang sudah lama tidak dapat saya rasakan sejak merantau di Jakarta.

Selanjutnya, kami membeli Pia Legong di salah satu tokonya di daerah Kuta. Ternyata 1 orang hanya boleh membeli 2 kotak. Katanya karena stok terbatas. Saat mobil kami baru sampai di depan tokonya, saya langsung tidak semangat karena melihat banyak orang antri di depan pintunya. Saya berpikir kalau ini bakal lama. Saya ingin tetap turun dan bilang kalau tidak akan membeli kalau menunggunya lama. Saya dan Mba Rifqi langsung mengikuti antrian ini. Baru beberapa detik, kami melihat satu dua orang turis (luar) datang dan langsung masuk ke dalam ruko ini. Saya kaget kenapa mereka tidak ikut mengantri, tapi saya cepat berpikir mungkin saja mereka sudah ada janji atau apalah. Namun saya keliru dan telat membaca situasi. Beberapa detik setelahnya, satpam yang stand by di pintu masuk ruko ini memanggil ke arah kami yang antrian belakang. Satpam memanggil dan mengatakan agar langsung masuk saja. Saya bingung, berjalan ke arah pintu, dan langsung disuruh masuk. Saya masuk sambil merasa tidak enak dengan antrian yang kami lewati tapi mereka malah terlihat biasa saja, tidak marah ataupun bertanya-tanya. Memasuki ruko, kami langsung masuk antrian dua tiga orang ke kasir. Saya baru ngeh kalau ternyata orang-orang yang mengantri di luar tadi adalah para pembeli yang ingin membeli banyak untuk dijualkan kembali di luar dengan harga yang lebih mahal. Saya baru paham mengapa hanya beberapa orang yang dipanggil Satpam ke dalam dan mengapa orang-orang yang sabar menanti itu berpakai sangat sederhana (maaf) bahkan agak kucel. Saat keluar dan membawa satu tentengan Pia Legong, kami melihat kalau ada satu dua Ibu yang menawarkan Pia Legong dengan harga yang lebih mahal. Harga aslinya saja mahal apalagi yang itu, hehe. Memang, karena Pia Legong ini tidak ada di Krisna dan bandara.

Lalu, kami meneruskan perjalanan ke Pantai Padang-Padang, Kuta Selatan. Parkirannya penuh dengan mobil dan bus. Berjalan beberapa meter dari parkiran, kami sampai di gerbangnya, membeli tiket masuk, dan berjalan lagi menuruni anak tangga seperti sela-sela goa yang sempit sebelum sampai di pantai yang pasirnya lumayan tebal ini. Pantai ini sangat ramai oleh turis dalam dan luar negeri. Huufh, sangat banyak yang berpakaian terbuka, membuat ‘sakit mata’. Kami terus menyusuri tepi pantai hingga ke bebatuan besar yang di bawahnya banyak bebatuan kecil. Lumayan tricky untuk melewati bebatuan ini dan harus hati-hati.

whatsapp-image-2016-12-04-at-2-35-51-am

Setelah puas foto-foto, kami kembali ke parkiran dan melanjutkan perjalanan ke Pura Uluwatu. Nah, yang ini tidak terlalu jauh. Uluwatu ini sangat ramai di sore hari karena ini tempat yang indah untuk menikmati sunset dari tebing tinggi, ada Pura, dan paling terkenal adalah pertunjukan Tari Kecaknya. Kali ini, kami tidak menyaksikan Tari Kecaknya yang lebih kurang 1 jam-an karena saya dan seorang teman akan flight ke Jakarta malam ini. Setelah matahari terbenam, kami melanjutkan perjalanan ke Krisna sebelum teman-teman mengantarkan kami ke bandara.

Bali (2)
Sekitar 10 hari kemudian, saya kembali ke Bali untuk mengikuti acara yang berbeda, tetap acara kantor. Kali ini hanya 2 hari 1 malam. Acara dan akomodasi disediakan di hotel The Haven, Seminyak. Lokasi sekitar hotel ini menarik karena banyak toko kecil yang menjual souvenir dan pernak-pernik khas Bali, tapi sayangnya saya tidak sempat jalan karena agenda padat (serius! Hehe). setelah mengikuti rangkaian acara, kami menikmati sunset di Uluwatu –yaa, saya kembali ke sini-. Bedanya, kali ini saya bisa menyaksikan Tari Kecak dan menikmati sunset di ujung sana. Indah.

whatsapp-image-201612042-copy

Malamnya, kami makan malam di salah satu resto tepi pantai, saya lupa nama dan lokasinya. Lalu kami ke Krisna. Kali ini saya tidak membeli apapun di Krisna. Saya hanya membeli Chatime di seberang Krisna.

Keesokan hari, saya dan tim divisi berpisah dengan rombongan karena kami ada janji bersilaturrahim kepada rekan di kantor kota setempat. Setelah sarapan di hotel, kami menuju kantor. Bertemu dengan Bapak Ibu di sana, meeting singkat, dan makan bersama. Lalu kami pamitan untuk meneruskan kegiatan. Kami ke Bali Safari&Marine Park di Gianyar. Jarak dari kantor ke Bali Safari sekitar 20 km, kami order Uber. Sesampainya di sana, rombongan sudah berkeliling Bali Safari. Kami datang bertepatan dengan Animals Show. Kami menyaksikan Show yang berlangsung sekitar setengah jam ini. Setelah show dan berfoto sebentar, kami menuju resto Bebek Tepi Sawah Krisna, di seberang toko pusat oleh-oleh Krisna.

whatsapp-image-201612041

whatsapp-image-2016-12-04-at-2-48-28-am

Siangnya, kami ke Joger, lalu saya dan tim divisi berpisah dengan rombongan yang akan diantar ke Bandara. Kami, tim DBS, melanjutkan mencari oleh-oleh Kue Harum, lalu Pie Susu Asli Enak. Sebenarnya kami sebelumnya sudah dapat Pie Susu Asli Enak rasa original, tapi saya mau yang coklat dan keju. Jadi kami menuju salah satu cabangnya di Jalan Dewi Sri, Kuta. Ternyata memang habis dan harus order H-1 agar mendapatkan rasa coklat dan keju. Sediih tapi tidak apa-apa karena saya hanya kangen dan bisa membeli online di Jakarta. Perjalanan sore itu berakhir di bandara.

Oke, selesai untuk cerita perjalanan ke luar kota di November lalu. Kegiatan lainnya, sama seperti biasa; rutinitas pekerjaan, kegiatan mingguan, hunting kamera, ke Gramedia, dll. Oya, saya sangat sedih melihat kerusuhan sesudah Aksi Damai 4 November, saat itu saya masih di Bali. Oknum tidak bertanggung jawab membuat kericuhan tidak terpuji. Seperti biasa, media nasional memberikan tidak berimbang, ah sudah ketahuan saja. Banyak beredar di fb dan ig foto tentang oknum polisi dan oknum wartawan yang menginjak dan merusak taman jalan dan memfoto serta merekamnya, padahal foto-foto lainnya menggambarkan bahwa peserta Aksi Damai tidak merusak rumput dan tanaman. Pak Presiden pun tidak menemui rakyatnya yang datang dari berbagai daerah, yang mereka datang dengan rasa yang kuat untuk menyuarakan aspirasinya. Pak Presiden di Bandara Soekarno Hatta, pada beberapa laman berita menyebutkan kalau tidak bisa ke sana karena ramai dan tidak bisa lewat. Wah…mungkin Heli milik negara sedang tidak bisa digunakan -_-

Jika ada muslim yang tidak peduli dan tidak ingin tahu tentang Aksi Damai tersebut, lalu ujug-ujug berkomentar seolah pasrah dengan keadaan bahkan seolah menyudutkan Aksi Damai tersebut, waduuh saya gak ngerti lagii..

Ternyata Aksi Damai yang lebih dahsyat lagi ada pada 2 Desember lalu. Allaahu Akbar, walaupun saya tidak ikut, melihat foto dan video dari para Citizen Journalism membuat hati ini bergetar, meneteskan air mata, dan membisikkan doa pada Allah. Berdasarkan perhitungan, sekitar 7 juta orang dari berbagai kota di seluruh Indonesia berkumpul. Subhaanallaah, saya tidak perlu lagi menceritakannya, para masyarakat sangat banyak menceritakannya melalui berbagai video dan foto. Ah, zaman sekarang kita tidak bisa langsung percaya pada Media TV, apalagi beberapa media TV dan media cetak Nasional. Mereka yang bekerja di media tersebut harusnya malu karena memberitakan beberapa hal dengan tidak berimbang bahkan seakan menutup diri dari kenyataan. Semoga mereka yang bekerja di media tersebut diberi hidayah oleh Allah. Semoga mereka sadar dan dapat memberitakan semua hal dengan lurus, tidak disisipi pesan ‘sponsor’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s