Posted in penaku

Percakapan Serius

Hmm, dua hari lalu, Saya ke rumah Uda di Bogor. Malamnya, kami makan di luar. Warung makan tepi jalan saja. Setelah memesan makanan, Uda langsung bertanya ke saya, “baralek la lai…”

Saya langsung tertawa, “baralek jo sia, urangnyo alun ado. Lagian, Uda la duluan”

Uda menimpali, “alun ado yang nampak dek Ci? Ndak ado yang Ci suko??”

Saya jawab, “alun. Carian la…” saya langsung lempar bola, lalu meneruskan, “Uda la duluan, alah ado nampak? Sedang kenalan jo sia se kini?”

Uda langsung menyambar, “jo sia se? bantuak banyak bana Uda kenalan jo urang. Ado surang dikenalan kawan”

Saya penasaran, “nah, alah sampai ma kenalan? Urang apo? Di ma tingga? Karajo di ma?”
*sebenarnya saya lebih penasaran di pertanyaan dua pertanyaan pertama: sudah sampai mana kenalannya? Asalnya dari mana?

Uda, “Urang ………. ………. …..
Cerita berlanjut tentang seseorang yang sedang kenalan dengan Uda.

Well, saya kaget ditanyai ini oleh Uda karena pertanyaannya lebih clear yang ini daripada sebelumnya. Beberapa bulan lalu, Uda hanya bicara sambil becanda dan bilang kalau saya saja yang duluan nikah. Jawaban saya masih sama dari dulu hingga sekarang, simple dan ringan saja : belum ‘nampak’ orangnya.

Percakapan singkat ini membuat saya ‘agak’ berpikir panjang. Seasyik apapun kesendirian saya selama ini, saya tetap harus realistis kalau saya butuh berkeluarga. Saya tidak boleh terlena dengan kenyamanan hidup sendiri –maksudnya belum bersuami-, bisa ke mana saja sendiri, mengurus diri sendiri, bermanja bersama Ayah Ibu, dll. Sejak masih sekolah dulu hingga saat ini, walaupun saya punya teman dan sahabat, walaupun saya punya jadwal bersama mereka dan keluarga, saya tetap punya waktu sendiri; ‘cuci mata’ sendiri, belanja sendiri, pergi makan sendiri, dll. Kesendirian ini sangat saya nikmati, apalagi sejak bekerja di Padang dulu dan di Jakarta sekarang. Kini, saya ke mall sendiri, belanja ini itu sendiri, walaupun ada juga waktu bersama teman dan sahabat. I always have my ‘me time’, just alone.

Kalau melihat teman dan sahabat yang sudah menikah dan beberapa sudah punya anak, saya tidak merasa terusik dan tidak merasa kalau saya juga harus segera seperti mereka. Satu dua teman dekat saya sebaliknya. Mereka agak merasa ‘panas’ kalau melihat temannya sudah menikah dan punya anak karena mereka juga ingin segera menikah tapi belum bertemu dengan jodohnya. Saya bertanya pada diri sendiri; apa yang terjadi pada saya? Apakah saya terlalu nyaman sendiri? Apakah saya selama ini tidak mau memikirkan tentang satu ibadah yang namanya pernikahan?

Saya mengumpulkan lagi berbagai keinginan saya yang mungkin agak terlupakan; saya juga ingin menikah, menjadi istri solehah, punya suami sebagai imam, punya anak-anak soleh solehah. Hehe..saya ingin kok.

Namun ya itu, kembali ke jawaban saya pada Uda; saya belum ‘bertemu’ dengan jodoh. Saya belum ‘melihat’ sosok itu. saya juga belum merasa ‘suka’ atau apalah itu namanya perasaan ke seseorang.

Semoga waktunya segera datang

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s