Posted in penaku

Ringkasan Buku Shaleh Tapi Tak Berdaya Guna (Bab II)

Membaca judul buku ini, saya sudah merasa tersindir. Namun ini membuat saya semakin semangat membuka dan membacanya. Pertama melihat dan meringkas bab II buku ini, saya masih pinjam punya teman. Sekarang saya sedang menunggu paketan buku yang sudah saya beli online.

Penulis : Muhammad bin Hasan bin Aqil Musa Syarif

BAB II : URGENSI AMAL DAN MENGAKHIRI KETIDAKBERDAYAAN

Penegakan agama Allah SWT adalah perkara yang mulia dan agung di muka bumi. Ini adalah salah satu tugas dan ibadah para Nabi, Rasul, dan orang-orang mushlih. Penegakan agama Allah SWT dapat berupa berbagai cara dan pengejawantahan. Mengamalkan Alquran dan hadits sehingga menjadi muslim yang baik adalah bentuk sederhana dari penegakan agama Allah SWT. Pada Alquran dan hadits, sangat banyak pembelajaran tentang akhlak mulia yang jika kita amalkan, maka orang lain dapat melihat bahwa Islam penuh dengan nilai kebaikan, tidak seperti berbagai propaganda nonmuslim saat ini.

Orang – orang yang beramal dan hidup berdaya guna, Allah SWT akan memberikan kecukupan hidup dunia dan akhirat, Allah SWT akan menguatkan dan menolong kita, Allah SWT mengikat hati kita untuk senantiasa pada kebaikan dan kesholehan, Allah SWT akan selalu menyinari jalan hidup kita, dan menghalau hati kita dari godaan syeitan.

Orang – orang yang beramal dan hidup berdaya guna juga ditinggikan derajatnya di akhirat, berteman dengan para Nabi, dan di surga mendapatkan kenikmatan berupa dapat melihat Dzat Allah SWT.

  1. Muhammad (47) ayat 7 :
    Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.
  2. Ar-Ruum (30) ayat 44 :
    Dan barangsiapa yang beramal sholeh, maka untuk diri mereka sendirilah mereka menyiapkan tempat yang menyenangkan.
  3. Attaubah (9) ayat 103 :
    Dan katakanlah, ‘ bekerjalah kamu, maka Allah dan RasulNya serta orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.

Sementara orang yang tidak berdaya guna akan menjadi seorang yang mudah malas, mudah merasa jemu, was-was, hidupnya tidak tentu arah, tertekan, gampang jenuh dan rapuh. Hidupnya tidak diisi dengan hikmah kejadian atas kehidupan. Ia tidak memberikan kontribusi kebaikan untuk persekitarannya maupun agamanya, sehingga ia terpinggirkan dari sejarah.

Seberapa pentingkah kita mengoptimalkan usia untuk beramal dan berdaya guna?

Satu : Sedikitnya waktu yang disediakan untuk beramal sholeh
HR Tirmidzi : Rasulullah SAW bersabda, usia umatku dari enam puluh sampai tujuh puluh tahun. Nah, saat ini memang usia manusia pada umumnya sekitar 60 hingga 70 tahun, walaupun tetap ada beberapa orang yang berumur panjang hingga 100 tahun. Namun, seberapa produktif kita selama hidup?

Contoh : seseorang berusia 60 tahun, misalnya ia mulai berfikir untuk mengelola waktu pada umur 20 tahun. Maka hanya 40 tahun usia efektifnya (anda dapat ilustrasikan dengan usia yang berbeda). Jika ia tidur rata-rata 8 jam setiap hari, maka 1/3 hidupnya telah habis untuk tidur. Jika ia bekerja (minimal ) 8 jam setiap hari, maka 1/3 hidupnya juga telah habis untuk bekerja. Sisa hidupnya 1/3 lagi mungkin untuk ibadah, keluarga, hiburan, dan urusan dunia lainnya.

Nah, dari pola hidup seperti itu, apakah kita punya banyak waktu untuk menjadi pribadi yang shaleh dan berdayaguna?

Mari kita bandingkan dengan kehidupan Imam Nawawi (walaupun kita belum bisa seperti beliau). Imam Nawawi ialah seorang ulama salaf yang memaksimalkan waktunya untuk beramal shaleh. Ia mengurangi makan, tidur, dan bekerja sehingga waktunya lebih banyak untuk beribadah. Ia makan setelah isya dan minum saat sahur. Ia menjauhkan diri dari kemewahan dunia. Ia hidup qanaah, wara’, dan selalu muraqabatullah.

Dua : Besarnya Perbedaan Derajat di Surga
Allah SWT menciptakan surga dengan bertingkat-tingkat, sesuai dengan derajat amalan umatnya. Qs. Al-Muthaffifin (83) ayat 22 – 26 : Sesungguhnya orang yang berbakti itu benar-benar berada dalam kenikmatan yang besar (surga), mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang dilak (tempatnya), Laknya adalah kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.

Qs. Alwaqiah (56) ayat 10 – 26 : Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih dan daging burung dari apa yang mereka inginkan, dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.

Qs. Alhadid (57) ayat 10 : Dan mengapa kamu tidak menginfakkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tingi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik (surga). Dan Allah Maha Teliti apa yang kamu kerjakan.

Imam Nawawi & Tirmidzi : Nabi saw. bersabda, “Sesungguhnya surga itu mempunyai beberapa kamar. Ruangan luarnya dapat dilihat dari dalam, begitu juga ruang dalamnya dapat dilihat dari luar.” Kemudian seorang ‘Arabi berdiri seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah kamar-kamar itu?” Kemudian Rasulullah saw. menjawab, “Untuk orang yang selalu berkata baik, suka memberi makan orang lain, membiasakan puasa dan suka melakukan shalat malam sewaktu manusia sedang terlelap.”

Bukhari : Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya di dalam surga ada seratus tingkatan yang disediakan Allah bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Jarak antara dua tingkatan seperti antara langit dan bumi. Maka apabila kamu memohon kepada Allah, maka mohonlah (surga) Firdaus kepada-Nya, karena ia terletak di tengah surga-surga yang tertinggi.

Tiga : Tidak Berbuat Apapun dan Menikmati Ketidakberdayaan yang Terkadang Mengakibatkan Inkonsistensi

Orang yang tidak berdaya guna, akan hidup santai tanpa merasa ada beban terkait amal kebaikan. Ia dapat melupakan tujuan hidup yang mulia, bersikap lunak terhadap pola hidup yang santai, lunak kepada orang yang santai dan bodoh, luput dari kebaikan, semakin jauh dari orang shaleh dan bertaqwa, hanya fokus pada dunia, harta, pekerjaan, kehilangan konsistensi amal, hingga pada akhirnya dapat meninggalkan ibadah wajib.

Jadi, jika kita sudah konsisten beramal shaleh dan rutin pada kegiatan yang positif serta berdayaguna, maka jangan sedikitpun excuse pada ‘istirahat’ apalagi santai berlama-lama dari rutinitas itu, karena menjaga diri untuk tetap konsisten pada kebaikan sangat sulit. Jangan sampai kita terlena dengan ‘istirahat’ dan bersantai lalu susah untuk kembali menyesuaikan dengan rutinitas positif sebelumnya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s