Posted in penaku

Seat Pesawat

20170126_061647

Pertama kali naik pesawat, saya masih SMA. Hehe…mungkin telat banget untuk sebagian orang. Saat itu saya naik pesawat Padang-Medan PP, untuk mengikuti MTQ Telkom -saya ikut di kelompok anak karyawan-. Sensasinya? Ya agak aneh tapi tidak menakutkan. Nah, saat flight Medan-Padang, ada guncangan gitu, turbulensi. Wah itu saya lumayan gugup.

Selanjutnya, saya ke Batam satu dua kali, ke rumah kakak pertama.Biasa sih, naik Sriwijaya, Lion, atau Citilink. Ya, cari yang paling murah.

Saat kuliah, saya naik Air Asia Padang-KL. Hanya ada Air Asia jadi tidak ada pilihan lain. Alhamdulillah ini direct flight, tidak seperti satu dua tahun sebelumnya masih harus ke Jakarta dulu. Biasa juga, tidak ada yang istimewa bagi saya. Turbulensi kedua saya alami saat flight KL-Alor Star. Waktu itu malam dan hujan badai. Wah guncangannya luar biasa, tapi tidak sampai mengeluarkan alat bantu nafas dll. Pikiran saya sudah yang buruk saat itu, tapi saya tetap diam kalem jaim behave (hehe..) karena duduk sebelahan dengan Pak dosen 😃

Lanjut, saat sudah bekerja di Padang, saya -for the very first time- naik GA (PP). Hehe…norak! Saat itu ada training karyawan. Menyenangkan, worth it sesuai harganya. Seatnya lebih oke, tidak terlalu sempit juga.

Satu setengah tahun lebih bekerja di Padang, saya fokus bekerja dan tidak melakukan perjalanan udara yang jauh. Hingga resign, barulah saya ‘terbang’ ke Jakarta untuk bekerja di perusahaan saya bekerja saat ini. Awal tahun lalu, saat pulang ke Padang setelah mendapat SK, pertama kalinya saya coba Batik Air. Asik juga, ada LCD TV nya seperti GA. Bisa dengan headset pribadi untuk mendengarkan musik dan film, dll. Penerbangan Jkt-Padang dengan Batik Air saat itu saya mendapatkan makan berat, bukan roti dan minum seperti Sriwijaya. Walaupun akhirnya saya tahu kalau flight Batik Air yang jaraknya lebih dekat seperti antarkota di pulau Jawa, hanya mendapatkan roti dan air mineral saja, seperti yang beberapa kali saya alami.

Nah, sejak satu tahunan terakhir merantau di Jakarta, tentu saya memilih harga termurah saat ingin pulang libur lebaran. Pilihannya adalah Lion Air. Frekuensi penerbangan Lion Air Jakarta-Padang juga lumayan banyak, hampir setiap satu hingga dua jam.

Satu tahun terakhir, saya mulai sering naik pesawat, masih di sekitar pulau Jawa, belum seperti rekan kerja lainnya di bagian yang berbeda, mereka sudah terbang ke Kalimantan dan Sulawesi. Pertama, ke Surabaya. Kalau tidak salah, saat itu naik Batik dan Lion. Well, walaupun uang perjalanan dinasnya bisa untuk membeli tiket yang lebih mahal, lebih baik uangnya disimpan untuk nambah tabungan, hehe.

20170127_220316.jpg
Pintu Darurat

Selanjutnya, ke mana ya. Adoi, lupa. Kalau tidak salah, ke Bali. Saya naik Lion. Lalu, ke Bali lagi, Lion lagi, dan Sriwijaya. Trus, ke Malang. Batik dan Lion lagi. Jogja, naik Batik. Nah ini gak ada LCD TV nya, padahal saat itu berharap ada karena saya mau cari hiburan supaya tidak tidur. Saya suka saat dapat seat di sebelah pintu darurat karena lebih luas.

20170222_053509.jpg
Batik Air yang gak ada LCD TV nya 😦

 

Jepang, PP dengan GA. Ini pertama kalinya saya naik pesawat boeing 777, pesawat besar, oke banget, ya se-‘oke’ harganya, hehe.

20170305_180813.jpg
Tokyo – Jakarta

Lalu, ke Solo naik Citilink dan Batik. Batiknya masih aja gak ada LCD TV. Padahal di awal adanya Batik, salah satu brandingnya ya LCD TV ini.

PhotoGrid_1493482592397.jpg

Nah, saat naik Citilink, ekspektasi saya sama seperti saya melihat Lion. Ternyata tidak. Saya tidak tahu apakah saat itu saya dapat Citilink yang oke atau memang semua pesawat Citilink memang sebagus itu. Hehe..saat itu juga bersamaan dengan kebijakan baru Garuda : pembelian tiket Citilink bisa menambah Tier Mileage Garuda Miles. Saya coba dan ternyata iya, Tier Mileage saya nambah sedikit, hehe. Terakhir, beberapa hari lalu saya naik GA dari Padang-Jakarta. LCD TV nya hanya ada beberapa di bagian atas kepala.

Bicara tentang Tier Mileage, saya memang sangat jarang naik Garuda. Saat flight Jepang, saya mendapatkan sedikit Tier dan frekuensi penerbangan. Nah, saya coba googling bagaimana cara menambah Tier Mileage. Ternyata ada banyak cara, dan yang pas dengan saya salah satunya ialah dengan menukarkan Mandiri Fiesta Poin menjadi Tier Mileage. Yap, sejak masuk Telkom, saya punya rekening Mandiri ☹  dan BSM tetap di hati, hihi. Nah Fiesta poin saya lumayan banyak jadi saya bisa menukarkannya dan mendapatkan tambahan poin Mileage. Tier Mileage juga bisa didapatkan dengan menukarkan Telkomsel Poin tapi khusus pelanggan Telkomsel kategori Gold dan Platinum. Ini belum saya coba karena mau mengumpulkan lebih banyak poin dahulu.

Nah, saat kuliah di Malay, setiap naik pesawat, saya tidak peduli dapat seat apa saja, tidak harus yang di dekat jendela atau di lorong. Saya juga tidak terlalu peduli dengan pemandangan di luar. Saat flight perjalanan dinas juga begitu. Saya baru agak perhatian dengan seat dan pemandangan di luar saat setiap pulang ke Padang dan kembali lagi ke Jakarta. Saya merasa ‘harus’ dapat seat dekat jendela agar bisa melihat kota Padang dari atas sambil pesawat terus mendekat untuk landing. Saya juga merasa harus melihat kota Padang saat take off sambil merasa sangat sedih karena meninggalkan rumah dan Padang. Padahal saat kuliah di Malay dulu tidak begini, saya tidak sedih dan cuek saat meninggalkan Padang. Entahlah, emosionalnya saya saja. Saya sangat senang setiap kali bisa ke Padang, dan sangat sedih saat harus kembali ke Jakarta. Mungkin karena penempatan kerja ini, dan kemungkinan kecil bisa pindah kerja ke Padang. Berbeda dengan kuliah dulu. Saya sudah tahu bahwa akan pulang tiap semester ke Padang dan dalam 3 semester akan menyelesaikan kuliah lalu kembali ke Padang.

So, saya sudah dapat seat terbaik untuk flight Jakarta – Padang PP, ini kalau ‘arah terbang’ pesawatnya masih seperti yang beberapa kali saya alami. Saat flight Jakarta-Padang, pilih seat F (seat sebelah jendela berlawan arah dengan pintu pesawat) karena pesawatnya terbang di atas laut saat sudah berada di langit Padang jadi Anda dapat melihat pemandangan kota Padang dengan jelas. Saya melihat Telur Bayur, Bungus, Jembatan Siti Nurbaya, kantor lama (hiiks), GOR, Masjid Raya Sumbar, Basko, UNP, rumah saya (hiikks), hingga BIM dan mendarat. Saat flight Padang-Jakarta, pilih seat F kalau mau melihat BIM saat take off, tapi pilih seat A kalau mau melihat kota Padang saat pesawat sudah berputar di atas laut dan semakin tinggi menuju selatan Sumatera. Kalau ingin melihat pemandangan kota Jakarta sebelum landing, pilih seat A dan Anda bisa melihat pemandangan kota, termasuk pulau reklamasi. Haha..

Disclaimer : saya hanya orang awam tentang pesawat dan penerbangan, tidak bermaksud sok tahu. Hanya ingin menulis dan berbagi yang saya alami 😊. CMIIW

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s