Posted in penaku

Dua Puluh Lima Tahun

Rasanya, baru kemaren saya sibuk sekolah dan mengikuti banyak kegiatan. Pagi diantar Ayah ke sekolah, malam sampai di rumah dan langsung disambut Ibu dengan kasih sayang dan tentunya makan malam. Rasanya, baru kemaren saya lulus SNMPTN, berkuliah di jurusan keguruan, lalu galau dan mengikuti wawancara pindah jurusan, dan masuk ke kelas -kecil- baru dengan teman yang harus selalu bersama dalam empat tahun masa perkuliahan. Rasanya, baru kemaren saya menikmati hari-hari di UUM dengan segala suka dukanya. Bahagia saat mempelajari hal baru, menangis saat diberi amanah besar. Rasanya, baru kemaren saya wisuda dan membawa Ayah Ibu jalan-jalan di KL dan Hatyai, sebelum merasakan menjadi seorang pencari kerja. Rasanya, baru kemaren saya menjadi karyawan baru di BSM, mempelajari banyak hal, dan menikmati kesibukan. Rasanya, baru kemaren saya semangat ingin keluar dari comfort zone dengan mencoba seleksi perusahaan lain, merasakan bahagianya lolos tahap demi tahap, tapi sedih karena harus meninggalkan zona nyaman. Rasanya, baru kemaren saya merantau dengan sedikit galau, mengikuti berbagai tahapan training karyawan baru, berpindah kota, lalu menetap di Jakarta. Rasanya, baru kemaren saya berusaha keras untuk cepat beradaptasi dan memahami rumitnya pekerjaan, mendapatkan banyak teman baru, dan menikmati kesendirian.

Ya, kesendirian. Saya suka dengan kesendirian ini. Kesendirian atau kesepian? Hehe..entah lah. Sejak kecil, abang saya sudah merantau untuk nyantri di Gontor. Jadilah kami hanya berempat di rumah dengan segala kesibukan masing-masing. Seingat saya, tidak ada dari kami yang suka ‘heboh’ dan becanda untuk ‘memeriahkan’ rumah. Semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, hingga saya berpikir kalau saya harus menjadi si anak bungsu yang ‘heboh’ dan suka becanda agar rumah menjadi ‘berisik’, terlebih saat kakak perempuan menikah dan merantau bersama suami. Mulailah saya macam anak kecil, khas anak bungsu yang manja. Dikit-dikit minta dimanja, tiba-tiba minta disuapin Ibu, tiba-tiba merayu Ayah Ibu untuk menceritakan masa muda mereka yang membuat Ibu malu-malu mengingat masa mudanya. Banyak hal, semuanya agar Ayah Ibu tidak kesepian di rumah. Namun, saya masih menikmati waktu dan sisi diri untuk ‘kesendirian’. Padahal, sangat banyak teman dan sahabat di sekitar. Sangat banyak kegiatan, perkuliahan, dan buku yang menemani saya. Saat saya meminta izin untuk mencoba kuliah di luar kota, Ibu tidak memberi izin. Saya diminta untuk kuliah di Padang saja. Jadilah saya kuliah di dekat rumah, UNP. Namun, saya masih penasaran, ingin mencoba kuliah di luar kota dan Allah memberikan jalan itu. Saya pindah ke program kuliah yang harus dijalani di Malaysia selama tiga semester. Senang, Ibu saya juga lega karena hanya tiga semester. Hingga saat kuliah di UUM, di balik semua kesibukan kuliah dan organisasi, saya masih punya waktu untuk menyendiri; jalan ke suatu tempat sendirian, mengikuti satu dua acara sendirian untuk mencari teman baru.

Ya, kesendirian. Saya lulus kuliah dan langsung mengikuti rekrutmen di BSM hingga diterima menjadi karyawan baru. Masa beradaptasi dengan lingkungan dan pekerjaan, biasa. Hingga saya merasa nyaman walaupun tetap dengan pressure tersendiri. Punya banyak teman yang saya panggil kakak dan abang, merasakan kembali menjadi junior, yang kecil. Setelah lebih dari satu tahun enam bulan, saya berpindah ke Telkom. Tidak lagi menjadi yang paling kecil, karena ada yang lebih muda dari saya. Saya tidak lagi berani menyebut diri sebagai fresh graduated karena tidak lagi fresh, hehe. Kembali harus beradaptasi dengan orang baru, lingkungan baru, pekerjaan baru. Terkadang, saya merasa lebih mudah beradaptasi saat di Malaysia dulu daripada yang ini. Saya harus berdamai dengan perasaan sendiri yang sebenarnya tidak mau ‘hidup’ di ibukota. Hei, saya ini anak daerah yang tidak pernah merasakan berjam kemacetan, kabut tebal jalanan, orang-orang dengan keegoisan, dan segala jenis ketamakan. Semua ‘penyesuaian’ ini membuat saya mempunyai banyak waktu untuk menikmati ‘kesendirian’. Ya, selain penat di hari kerja, mengikuti kajian mingguan, dan bertemu teman lama, saya suka berjalan mencari makan sendiri, belanja ini itu sendiri, termasuk dua kali pindah kost sendiri tanpa teman yang membantu dan menemani, hehe. Ya begitulah, saya suka menikmati kesendirian, walaupun pada sisi hati lainnya saya merasa kalau ‘kesendirian’ ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi, hehe.

Dua puluh lima tahun. Saya merasa bahwa saya tidak lagi bisa menjadi seorang yang kekanakan. Hingga usia dua puluh empat tahun, saya masih merasa bahwa saya masih kecil, masih bisa ketawa-ketiwi, ngambek seperti anak sekolahan, dll. Namun, mau tidak mau, saya harus menyadari bahwa saya sudah dewasa. Ada banyak hal yang harus saya persiapkan untuk masa tua *ah terlalu berat. Selama dua puluh lima tahun, Allah tiada henti memberikan nikmatNya. Sangat banyak keinginan duniawi yang terbersit di hati ini, yang Allah kabulkan tanpa saya sering sebutkan dalam doa. Sangat banyak keberkahan saya pinta, yang Allah selalu berikan pada waktu yang tepat karena Ia Maha Mengetahui. Saya yang masih lalai, kadang lupa bersyukur, kadang masih suudzon pada satu dua hal yang saya hadapi.

Hingga detik ini, saya masih bersyukur dengan ‘kesendirian’. Ya, siapa bilang kalau ‘kesendirian’ itu tidak menyenangkan. Hei, kamu tidak harus mencari teman dulu hanya untuk jalan ke mall. Kamu tidak harus janjian dulu dengan teman hanya untuk makan siang. Tentu, ada waktunya kita bersama teman, ada waktunya saat tidak ada seorang pun yang bisa bersama kita.

Adooi ini judulnya Dua Puluh Lima Tahun tapi malah bahas ‘kesendirian’

Oke, kembali ke judul. Jadi, ceritanya saya sudah semakin tua. Ada Telkomsel yang mengirimkan SMS Selamat Ulang Tahun di bulan Maret lalu. Ada satu dua teman yang ingat, diingatkan teman lain, dan baru tahu tanggal lahir saya, lalu mengucapkan selamat secara langsung dan di medsos. Ada rekan kerja yang memberikan suprise kue dan kado ulang tahun. Ada doa-doa yang diucapkan untuk saya. Terima kasih semuanya.

Kue Ultah 25

Kue Ultah 25(2).jpg

Harus ada target yang kudu dicapai agar hidup ini tidak sekadar bekerja dan menikmati ‘kesendirian’. Harus ada pencapaian yang lebih baik agar hidup saya lebih bermanfaat untuk persekitaran. Mau tidak mau, saya harus menjalani.

Saya juga harus siap dengan masalah hidup yang pasti akan selalu ada. Selesai satu masalah, whether ringan or berat, maka akan ada masalah lainnya. Bertemu satu orang yang menguji kesabaran, bisa jadi ada orang lain yang lebih menguji kesabaran lagi.

Harus ada peningkatan kualitas diri. Peningkatan kualitas ibadah, jasmani (kesehatan), pemikiran, dan mental. Harus lebih sabar, lebih berlapang hati, lebih semangat berbagi kebaikan, lebih semangat bekerja. Harus lebih tegas pada diri sendiri untuk menjaga kesehatan, harus menjaga hati agar tidak banyak berbuat dosa lagi, harus lebih banyak membaca agar pikiran tetap fresh walaupun banyak pekerjaan. Harus lebih giat menabung karena saya tidak ingin seperti beberapa orang yang mengakui langsung bahwa mereka menyesal karena telat menabung dan sudah tua untuk menabung demi masa depan anak-anaknya.

Oya, kamu, iya kamu yang lagi baca ini, usianya berapa?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s