Posted in penaku

Mudik Lebaran 2017

Ini adalah mudik kedua saya sejak merantau di Jakarta. Lagi-lagi, terkadang saya masih tidak percaya kalau saya seorang perantau. Masih terasa agak aneh karena tidak seperti yang saya bayangkan sejak dulu. Apapun itu, tetap alhamdulillaah. Hehe..lanjuut

Perjalanan Pulang
Saya mengambil cuti dua hari sebelum lebaran dan masuk kerja tepat hari setelah libur lebaran. Mengapa sebelum lebaran? Karena saya rindu beramadhan di rumah. Saya rindu sahur dengan ayah ibu yang apakah tahun depan masih bisa bertiga lagi, atau berubah ‘formasi’, dll. Selasa sore, 20 Juni 2017, setelah berpamitan di kantor, saya menuju Soeta. Sesi pamitan di kantor dibikin heboh Mas Mba Bapak Ibu, hehe. Gara-gara Mas Mahe yang ‘memanasi’, jadinya semua heboh untuk melepas kepergian saya.

Saya berharapnya tidak macet di jalan menuju bandara. Keluar kantor pukul 15.00, jalanan depan kantor sudah macet. Saya minta Bapak Ubernya via Kebon Jeruk, sesuai info di gmaps. Alhamdulillah jalanan lancar, sedikit macet di pintu tol. Saat masuk terminal 2 juga tidak macet.

Setelah menunggu dan berbuka puasa, ternyata Sriwijaya nya delay. Katanya, hanya 30 menit. Oke, masih bisa maghrib. Nah, tentang sholat. Berhubung dari petugasnya bilang kalau hanya delay sekitar 30 menit, saya memilih sholat di lantai bawah ruang boarding, yang sebelahan dengan toilet. Ternyata mushollanya kecil, hanya muat tidak lebih dari sepuluh orang. Tempat wudhunya juga terbuka, gabung pria wanita. Saya agak resah. Saya putuskan untuk segera berwudhu di wastafel toilet wanita. Alhamdulillah Ibu petugas kebersihannya tidak melarang. Lalu saya kembali ke musholla, masih penuh ada beberapa Bapak yang mengantri. Nah, di sebelah mushola ada ruang kecil untuk tempat istirahat dan penyimpanan barang petugas kebersihan. Ada seorang perempuan sholat di sana. Ibu petugas kebersihan mempersilakan saya sholat di ruang kecilnya. Beliau juga membersihkan sisa ta’jilnya dan memberikan saya sedikit tempat untuk sholat. Wah, saya sangat senang dan kagum dengan beliau.

Setelah sholat dan menunggu, ternyata dapat info lagi kalau flight delay sampai dengan pukul 8! Jadi, dari yang seharusnya take off pukul 18.30, jadinya molor 1.5 jam. Apakah penumpang diberi makan? Ya, diberi 2X roti dan air mineral. Tidak nasi, padahal saya yakin banyak yang berharap diberi nasi -termasuk saya, lapar-.

Pukul 20.00, akhirnya kami dipersilakan naik pesawat. Saya langsung berusaha untuk tidur setelah duduk dengan tenang. Saya pejamkan mata saat pesawatnya belum bergerak mundur sedikitpun. Beberapa lama saya terbangun, pesawat masih berjalan lambat menuju tempat landasan. Saya tidur lagi, lalu beberapa menit terbangun dan menyadari kalau pesawat menunggu giliran terbang. Saya tidur lagi dan terbangun saat pesawat masih menunggu giliran terbang. Entah sudah berapa menit, saya tidak melihat jam. Sepertinya memang penerbangan sangat padat, kasihan ATC nya sepertinya sangat pusing, hehe.

Saya tidur lagi dan terbangun. Sudah ada bungkusan roti dan air mineral. Saya langsung makan dan tidak habis karena rotinya berisi nanas. Saya tidur lagi daripada menahan lapar. Tidur terus hingga terbangun saat pesawat sudah berada di langit Padang, bersiap berputar di atas pantai sebelum turun. Yeeay, saya kembali bisa melihat pantai Padang. Saya melihat Jembatan Siti Nurbaya dari atas, Masjid Raya Sumbar, jalanan Khatib Sulaiman, Basko, UNP, dan tentunya Asrama Haji, hingga mendarat di BIM. Alhamdulillaah, fabiayyiaalaa irabbikumaa tukadzzibaaan.

Saya tetap duduk, memperhatikan penumpang segera berdiri dan mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu keluar. Setelah agak sepi dan tidak berdesakan, saya juga turun. Bandara lantai dua sepi, ruang tunggu boarding sudah kosong. Saya turun dan di bawah sudah banyak orang menunggu bagasinya. Alhamdulillah bagasi saya termasuk yang cepat keluar. Saya langsung keluar melewati beberapa petugas Bandara yang saya rasa mereka berdiri untuk bersiap memeriksa kode bagasi penumpang, tapi saat saya melewati mereka, para petugas ini tidak mencegat saya untuk mengecek bagasi seperti biasa. Oke, saya melewati mereka yang sedang ber-wefie. Saya keluar dan waaah banyak orang yang menunggu di luar, sementara saya keluar sendirian karena penumpang lain masih menunggu bagasi. Segera saya keluar menuju tempat duduk dekat booth Telkomsel karena ayah menunggu di sana.

Alhamdulillah, jalanan Padang masih ramai di pukul 22.00 an malam. Sesampai di rumah, Ibu terbangun dan mengingatkan saya untuk makan malam. Saya makan dengan masakan Ibu yang sudah lama saya rindukan.

Ramadhan di Rumah
Kegiatan selama empat hari ramadhan di rumah, tidak banyak. Saya mengajak Ayah Ibu berbelanja di Transmart untuk menghabiskan voucher belanja dari kantor. Sorenya, saya dan tetangga teman dekat rumah, kak adek, jalan sore (gak jalan sih tapi naik motor) ke Simpang Tabiang untuk membeli tahu brontak kesukaan saya. Alhamdulillah, kesampaian jugaaa bisa makan tahu brontak lagii..

20170622_174251 - Copy.jpg
Tahu Brontak di Simpang Tabiang 

Kegiatan lain, lebih banyak di rumah, mengobrol dengan orang tua, ke masjid menikmati beberapa hari terakhir di bulan ramadhan ini. Tidak ada berbuka puasa di luar rumah karena jaauuh lebih nikmat berbuka puasa di rumah bersama keluarga, terlebih ini empat hari terakhir ramadhan.

Lebaran
Kami sholat Id di masjid dekat rumah (di Padang), lalu menjemput Uda ke BIM dan lanjut ke Bukittinggi. Saat sudah di Padang Panjang, kami memutuskan untuk berlebaran dahulu ke Sungaipua sebelum ke rumah yang di Bukittinggi. Lagi, alhamdulillah, saya masih diberikan Allah umur dan kesempatan untuk ke Bukittinggi, setelah terakhir saat lebaran tahun lalu saya ke Bukittinggi. Excited saat melewati jalanan Padang menuju Bukittinggi. Jalanan yang biasa saja, tidak banyak perubahan dari tahun lalu, tapi saya mengenang setiap jengkal kenangan dari masa kecil hingga dewasa. Haha…yaa, serius! Jalanan yang tidak selebar jalanan di Jakarta, lalu lintas yang tidak macet, bangunan di kanan kiri yang beragam dan bukan gedung tinggi menjulang, hamparan sawah, jejeran bukit, hawa sejuk, semuanya sangat saya rindukan. Wisata Aia Mancua yang mulai ramai di hari pertama lebaran, pemandian yang airnya sudah penuh tapi masih sedikit pengunjung, dan teruus hingga memasuki jalanan kecil, jalan pintas menuju Payakumbuh via Sungaipua. Udara semakin sejuk, udara mulai dingin, matahari agak enggan keluar, menjadi perpaduan yang pas di hari yang fitri ini. Kami tiba di rumah sanak saudara, mengobrol, makan siang, dan mengobrol lagi, lalu pamit.

Bukittinggi
Selanjutnya, kami di Bukittinggi hingga hari Kamis 29 Juni 2017. Kami membersihkan rumah alm nenek yang biasa kami tempati kalau ke Bukittinggi. Ini rumah kayu lama yang tidak berpenghuni kalau kami yang di Padang dan Saudara Ibu di rantau tidak pulang. Bersama, menjemur kasur, menyapu, memasang sprei, menyiapkan bantal dan selimut, dan tentunya air untuk bersih-bersih, hehe.

20170626_143536 - Copy.jpg
Rumah alm.nenek (dari Ibu). Rumah kayu lama di deretan ruko

Sesudah subuh -belum mandi- jalan santai ke Pasar Bawah, Pasar Atas, hingga Jam Gadang. Sedih karena masih bertebaran banyak sampah di area Jam Gadang, sisa sampah orang-orang di malam harinya. Petugas tergopoh membersihkan sementara pagi itu sudah banyak orang di persekitaran Jam Gadang dan Pasar Atas, entah itu orang yang mulai membuka lapak jualan, masyarakat setempat yang jalan pagi, termasuk wisatawan lokal dari daerah lain yang berjalan-jalan ke Bukittinggi. Setelah puas berkeliling, saya dan Ayah menyusuri pertokoan Pasar Atas, melewati Janjang Ampek Puluah, lalu berbelok dan turun menuju Los Lambuang. Kami memakan Katupek sebelum pulang.

20170627_063305 - Copy.jpg
Salah Satu Sisi Pasar Atas (di belakang Kamera ini : Jam Gadang)
20170628_110145 - Copy
Pasar Bawah, Bukittinggi

Hari-hari sangat menyenangkan. Saya kembali bisa minum Cappucino blender Keju yang sangat susah ditemukan di Jakarta, hehe… Kalau kamu tahu, saya suka Cappucino yang di depan SMA 1 Bukittinggi. Suka karena kejunya banyak dan memang cuma di sana yang terdekat dari rumah, hehe. Saya dan Ibu ke Pasar di pagi hari saat Hari Pakan yaitu hari Rabu. Berkumpul dan duduk santai di rumah sambil mendiskusikan banyak hal. Bertemu dengan sepupu, paman, tante, dll. Semua menyenangkan dan akan sangat dirindukan. Semoga Allah SWT kembali memberikan umur yang panjang dan kesehatan pada kita, aamiin.

Sebelum Kembali Ke Jakarta
Hari Kamis sore, kami sekeluarga kembali ke Padang. Saya sudah ada janji dan beberapa hal yang harus dikerjakan. Saya bertemu dengan Ami, sahabat sejak MAN. Seperti biasa, kami membicarakan banyak hal.

20170630_175550 - Copy.jpg
-Minuman- Saya dan Rahmi (gak mau post foto kaminyaa..)

Saya juga kembali naik angkot Padang, hehe. Even hanya naik angkot Padang aja, saya kangen bangeet !

Sabtu pagi, saya harus balik ke Jakarta. Kembali, seperti lebaran tahun lalu, di BIM ada hiburan musik tradisional. Hikkks, sediih rasanya saat harus pergi tapi sebelumnya mendengarkan musik tradisional ini.

20170701_093857 - Copy.jpg
Lantai 2 Bandara Internasional Minangkabau

Nah, saya tidak terlalu sedih saat harus meninggalkan Padang karena sudah plan akan pulang bulan depan! Alhamdulillaah…Agustuss

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s