Posted in penaku

Tanggapan – Belajar

Untuk tulisan 05 Juli 2017.jpg

Entah karena satu setengah tahun terakhir saya hidup di kota besar atau memang karena memang semakin bertambahnya usia dan bertambahnya teman, saya mendapati banyak jenis orang. Baik dan buruk. Terbuka dan tertutup. Semuanya datang dan pergi. Saya harus belajar untuk menghadapi berbagai jenis orang, mereka yang menjadi teman saya, dan mereka yang berada di persekitaran. Tidak hanya belajar menghadapi, saya juga harus belajar untuk tetap menjadi diri sendiri, senantiasa memperbaiki diri, dan konsisten dengan jati diri sehingga tidak ikut-ikutan menjadi pribadi yang tidak baik -setidaknya sesuai prinsip saya-. Ukuran baik buruknya? Tentunya agama dan nilai di masyarakat.

Beberapa waktu terakhir, entah kenapa, saya merasa agak sering mendengar komentar kurang baik, dalam hal apapun, mau hal sepele maupun hal penting. I mean, komentar yang kurang apresiatif, kurang konstruktif, kurang solutif, dan tentunya kurang positif. Saya khawatir pada diri sendiri, jangan-jangan dalam alam bawah sadar, saya terbawa-bawa untuk berkomentar spontan seperti itu. Astaghfirullaaah…

Hmm, beberapa contoh sederhananya seperti ini,

“Jadi di sekitar rumahnya itu ada beberapa warung tempat orang berjudi?? Lho, dia kan ustadzah, motivator pula, masa’ lingkungan dekat rumah gak bisa didakwahi…”

Lalu begini,

“apa? Berdagang? Jualan maksudnya? Jualan apa? Duuh…kok kayaknya gak pasti gitu ya kalau untuk masa depan..”

atau

“kok kamu gak mau juga, udah dikasih banyak nama. Jangan-jangan kamu ‘diobatin’ orang supaya lama dapat jodoh…”

ada juga

“ha? Masa’ untuk hal itu aja dia gak bisa mengondisikan keluarganya. Berarti dia gak bisa ‘membawa’ keluarganyaa seperti pemikirannya..gitu aja gak bisa”

selanjutnya

“kamu jarang masak? Iih berarti kamu boros, beli makan jadi terus siih.., nabung dong!”

lalu

“kerjaannya pegawai tetap atau kontrak? Cari tahu yaa…pastiin”

or

“kamu dulu diassess siapa? Kalau aku dulu pejabat ini, selevel ini. Susaah deh dulu…”

lagi

“iih udah ngontrak kok jauh yaa…rugi amat!”

Juga gini

“kamu kok IPS siih, IPA aja kan kamu cewek. IPS anaknya nakal lhoo..”

Ada juga

“kenapa gak belanja? Gak ada duit ya? Ohh pasti hemat-hematin kiriman orang tua..”

Nah ini satu yang saya alami,

“wah Telkom, beruntung ya. Kamu dulu kuliah di mana? UNP? IKIP lama ya? Bukan Unand? Kok bisa masuk Telkom? Hmmm..”

Hehe…alhamdulillah mood saya sedang sangat baik saat itu jadi bisa menanggapi dengan baik.

Hmm, apa lagi ya kalimat dan respon orang yang pernah saya dengar…

Sangat banyak, saya tidak ingat semua.

So…bagaimana dengan kamu, temans? Apakah pernah diberikan respon oleh temanmu yang mirip-mirip seperti beberapa contoh di atas? Atau malah secara tidak sengaja kamu langsung memberikan respon seperti di atas kepada temanmu?

Yuk, kita sama-sama memperbaiki diri, menjaga lisan, dan menjaga pikiran tetap positif, agar kita menjadi pribadi yang lebih baik dan agar kita menjadi teman yang menyenangkan karena memberikan kesan yang positif untuk semua orang.

Kesannya sangat indah ya ajakan ini, hehe. Kesannya mudah aja gitu. Ok, I now ini tidak mudah. Saya pun yang menuliskan ini, bukan berarti saya orang yang selalu baik. Tidak. Saya juga sedang memperbaiki diri, salah satunya dengan menuliskan ini agar menjadi pengingat untuk diri sendiri -di samping sedih juga karena beberapa kali mendapatkan komentar negatif dari satu dua orang ☹ –

So, teman-temanku, yuuk bismillaaah kita selalu berusaha memperbaiki diri, menjaga lisan, dan menjaga pikiran agar tetap positif.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s