Posted in Me, Renungan

Berita

Dulu, seorang teman berkomentar karena saya sering ‘mengunjungi’ media informasi online seperti Islamedia dan berbagai media Islami lainnya,

“Kalau baca berita di sana ya jelas mengarah ke PKS, yang punya media kan orang-orang PKS juga”

Saya saat itu hanya merespon dengan senyum.

Sebenarnya, tidak akan menjadi masalah yang berarti kalau kita memang membaca berbagai berita dari berbagai media. Mau punya PKS, Demokrat, Nasdem, Hanura, terserah. Intinya, kita bisa dapatkan informasi dan berita dari berbagai pihak, beragam sisi. Toh, sekarang stasiun TV umumnya punya mereka-mereka yang notabene orang besar di partainya. Tidak saya tulis di sinipun, anda sudah tahu dan kalaupun tidak tahu, saya yakin anda akan mencari tahu 😉 .

*dan wordpress masih saja tidak bisa menerima upload-an foto/gambar

Advertisements
Posted in Me, penaku, Renungan

Sore

Ramai. Acara itu sudah selesai tapi masih banyak yang enggan beranjak. Hujan belum reda. Bau tanah basah mulai tercium. Dia ingin pulang tapi tidak bisa. Tanggung jawab membuatnya bertahan untuk tidak pulang. Sebenarnya, dia sangat lelah. Lelah pada keadaan. Semakin lelah saat melihat temannya lelah, khususnya seorang itu. Dia mulai tahu harus berbuat apa saat dua teman meminta bantuannya. Dia langsung berpikir cepat dan dia merasa kalau perlu bantuan. Keningnya berkerut. Didatanginya beberapa teman dan langsung diutarakannya maksud permintaannya. Seketika, maksudnya tidak dapat ditangkap sekumpulan temannya itu. Mereka hanya mengiyakan dan berlalu. Dia tersenyum lega karena merasa kalau teman-temannya itu paham. Continue reading “Sore”

Posted in Ilmu, penaku, Renungan

Generasi Penerus

Pembelajaran bisa didapatkan dari mana saja, termasuk dari pengalaman dan kehidupan orang lain. Sore ini, saya tersadar dari kabur dan lupa akan lingkungan sekitar. Kabur karena sebelumnya pernah jelas. Lupa karena sebelumnya ada ingatan. Tidak hanya saya, namun juga seluruh pelaksana dan peserta Training Dasar (RADAR) 3 yang diadakan Asosiasi Pelajar Islam (ASSALAM) Sumatera Barat. Organisasi di mana saya lahir, belajar, dan besar di sana. Organisasi yang menjalin indahnya persaudaraan dalam kesibukan di berbagai kegiatan positif. *Kalau diteruskan tentang ASSALAMnya, bisa-bisa tulisan ini tidak selesai karena saking banyaknya cerita tentang ASSALAM 🙂 …

RADAR 3 diikuti oleh Continue reading “Generasi Penerus”

Posted in Renungan

Hal Kecil yang Terlupakan

Ada beberapa hal sederhana yang banyak orang -termasuk kita- sering lupakan.

Mencuci piring tanpa sebelumnya membuang sampah makanan, walaupun hanya sebutir nasi. Jika hal ini terus dibiarkan dan terus dilakukan oleh banyak orang, bagaimana jadinya saluran pembuangan air. Mampet, kotor, ujung-ujungnya tidak bisa mengaliri dan menampung air. Risiko lebih besar lagi, banjir.

Berbicara keras di dekat orang sholat. Bahkan ada yang tidak berhenti ngakak, tidak mengecilkan volume musik yang didengarnya saat berada di dekat orang yang sholat. Kita hormati saja orang yang sedang beribadah. Kalau ingin dihormati, hormati juga orang lain. Ada juga yang kurang peka akan hal ini. Ini tidak hanya tentang khusyu’nya sholat orang lain, tapi juga tentang saling menghormati dan menghargai.

Ketika hendak mencuci piring dan gelas sesudah dipakai, masih ada yang mencampurkan gelas dengan piring atau peralatan lain yang berminyak. Biasanya dengan meletakkan gelas yang awalnya tidak berminyak ke atas piring atau wadah yang berminyak. Yaah..gelasnya kan jadi berminyak. Ini tidak baik.

Membuka kran air terlalu besar. Bukalah kran secukupnya. Pakailah secukupnya. Toh itu tidak menghambat kita untuk mencuci tangan, berwudhu, dan sebagainya. Ada juga yang mau menggosok gigi di depan kran air, malah menghidupkan kran air dahulu padahal baru akan mengeluarkan pasta gigi dan akan menggosok gigi. Selama menggosok gigipun air terus mengalir padahal ia tidak menggunakannya. Boros, teman. Cobalah cari informasi lebih banyak tentang ini.

Tidak melepas charger dari kontak listrik (switch) setelah recharge hp atau laptop. Ini berbahaya. Bisa mengaliri listrik dan tentunya membuang-buang listrik. Hemat energi ya, bro…lagipula, kita harus lebih rapi, letakkan barang yang sudah dipakai pada tempatnya.

Membiarkan lampu hidup walau tidak ada orang dalam ruangan tersebut. Ini lagi-lagi tentang menghargai sumber daya. Sangat banyak tulisan, liputan, dan himbauan tentang ini. Let’s aware it, guys…

Membuang sampah (apapun itu) walau kecil. Mari kita lebih aware terhadap lingkungan, peduli sekitar. Masih ada yang malu untuk ‘menyimpan’ sementara sampah di dalam kantong atau di dalam tas –kalau malu atau susah memegangnya sebentar-? Untuk apa malu, kawan??

Kita tidak sadar bahwa kita berdiri di tempat-tempat yang kurang tepat. Misal, berdiri di depan lift yang banyak orang akan lewat. Berdiri di depan dan tengah-tengah pintu saat dalam sebuah acara yang membuat jam, macet. Kadang ini tidak kita sadari, atau kita lupa. Saya pernah seperti itu karena sedang pusing dan bingung. ada juga saat kita berjalan di deretan toko yang jalanannnya sempit. Banyak yang melihat-lihat isi sebuah toko dari tengah jalan yang sempit itu, lupa atau tidak tahu bahwa harus menepi karena banyak yang akan lewat. Huuffh…ini merepotkan orang, apalagi yang tergesa-gesa.

Ada tambahan??

Mari kita singkirkan pikiran bahwa itu hanya hal kecil, hanya saya yang melakukannya. Hey…banyak orang yang juga berpikir dan melakukan itu, teman. Kalau sebagian penduduk dunia ini menyepelekan hal kecil ini, mau jadi apa bumi?

Melakukan hal kecil ialah bentuk kesadaran kita pada lingkungan, pada bumi.

Melakukan hal kecil yang bermanfaat ini ialah bentuk kesadaran kita akan keberadaaan kita di bumi ini.

Kesadaran kita akan kehidupan ini.

Dari hal yang kecil, kita akan mencapai yang besar

Mari berbuat, walau kecil

Mari melakukan perubahan yang lebih baik

Mulai saat ini, dari diri sendiri, dan beritahukanlah pada orang di dekat kita

Posted in Renungan

…..???

Ntahlah,
Hanya belum bisa menjadi diri sendiri di situasi tertentu
Hanya belum bisa memberikan yang terbaik
Bukan belum bisa menyesuaikan diri
HANYA BELUM MENERIMA SEMUA INI

Menerima berarti merasa nyaman pada keadaan
Menerima berarti bisa membiasakan
Menerima berarti bisa berbuat yang terbaik
Menerima, lagi-lagi, bisa menjadi diri sendiri di sana
Diri ini selalu menelusuri
Di mana kekuatan hati?
kapan ketetapan hati itu hadir?

Maaf,
Di sana, belum bisa memberi yang terbaik dari diri ini
Semoga seiring berjalannya waktu
Si menerima bisa memasuki hati

Posted in Renungan

Aneh

Entah sejak kapan hal ini terpikirkan dan membuat Ci tersenyum ketika mengingatnya. Senyum, bukan seperti modus senyum kebanyakan orang yang menandakan kebahagiaan atau kesenangan.

Tidak lagi ingat, apakah dulu Ibu guru di sekolah yang secara persuasif menerangkan di kelas atau karena membaca beberapa hal, dulunya. Satu hal yang ci ingat, tarbiyah mengajarkan untuk mensyukuri apa yang ada di hadapan kita, memanfaatkan, dan tidak menyiakannya.

Anehkah ketika kita makan dan minum bersama teman –atau siapapun itu- dan kita menghabiskan makanan dan minuman tersebut tanpa bersisa sedikitpun? Janggalkah ketika kita makan nasi dan menghabiskannya tanpa sisa sebutir pun di piring? Apakah kita tampak memalukan saat tidak meninggalkan sisa makanan di piring? Jorokkah kita ketika setelah makanan habis, kita memakan sisa-sisa nasi yang menempel di jari tangan kanan? Kolotkah kita ketika minum di cafe tanpa sedotan? Terlalu idealiskah kita jika kita terus menjaga makan dan minum dengan duduk dan tidak berdiri? Terlebih dari itu, salahkah kita?

Beberapa teman yang pernah makan bersama Ci, hampir akan berkomentar yang sama setelah selesai makan. “Ndeeh…lapar Ci?”, “Licin piring Ci ma..”, “sebenarnya bagus kalau kita habisin semua ya, Ci. Kan kasian gitu..”, “waah, aku mau la Ci habisin makanannya…”, dan komentar-komentar lainnya. Semua itu Ci balas dengan senyuman dan beberapa kata ringan, “iya..lagi lapar” atau “hehe..”.

Banyak alasan untuk terus melakukan itu, kawan. Kita tidak ingin makanan itu terbuang, mubazir, karena Allah melarang kita mubazir. Kamu kenyang jadi gak bisa habiskan? Kalau makanannya diambil sendiri, kan bisa diperkirakan kita sanggup menghabiskan berapa banyak.

Masalah piring licin. Hal ini membuat kita tidak mubazir, tidak merepotkan dalam pencucian karena tidak perlu membuang sampah sisa makanan, saluran pembuangan air tidak perlu tersumbat karena bertumpuknya sisa makanan, dan membantu orang yang mencuci piring (kalau di cafe atau warung makan). Tentu banyak alasan lainnya seperti alasan kemanusiaan, dll.

Tentang perpipetan (??). Sangat pentingkah pipet (straw)? Tidakkah pemakaian dan pembuangan pipet akan mencemari lingkungan karena bahan plastiknya yang sukar hancur? banyak tulisan yang mengulas tentang sampah plastik yang mencemari lingkungan, apakah kita tidak peduli? Lagipula, apakah bagian dalam pipet terjamin bersih? Kita tidak tahu pasti. Pastinya, di banyak cafe atau tempat makan, pipet diletakkan secara terbuka dan tidak ditutupi.

Mari kita mencoba menjadi pribadi yang lebih banyak berbuat hal kecil namun membawa hasil yang baik secara nyata. Mari mulai dari saat ini…

Posted in Renungan

RASA

Alhamdulillaah, kita dikelilingi oleh orang yang menyayangi kita. Teringat hal kecil –di samping banyak hal besar- yang dikongsi dengan teman dan sahabat.
Beberapa hari sebelum berangkat studi, di bulan ramadhan. Seorang sahabat memutar lagu SEBIRU HARI INI dari EdCoustic :

Sebiru hari ini, birunya bagai langit terang benderang
Sebiru hati kita, bersama di sini
Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

reff:
Bukankah hati kita telah lama menyatu
Dalam tali kisah persahabatan ilahi
Pegang erat tangan kita terakhir kalinya
Hapus air mata meski kita kan terpisah
Selamat jalan teman
Tetaplah berjuang
Semoga kita bertemu kembali
Kenang masa indah kita
Sebiru hari ini

Seindah hari ini, indahnya bak permadani taman surga
Seindah hati kita, walau kita kan terpisah

Sumber: http://www.liriknasyid.com/index.php/lirik/detail/3734/edcoustic-sebiru-hari-ini.html

Lucu ke? Tak..masing-masing kita akan merasakannya saat benar-benar mengalami bahwa berpisah –walau sementara- dengan sahabat terasa sangat berat.

Pada lain hari, saat semakin dekat hari itu, seorang sahabat lainnya memutar lagu Erti Persahabatan Ini dari De Hearty :

Hembusan bayu lembut bertiup
Deru ombak yang memukul pantai
Sayu hati bila terkenangkan
Memori indah bersama
Dengarkanlah lagu kuciptakan
Tanda ingatan tulus buatmu
Moga abadi di sanubari
Bersemi buat selamanya

Segala yang manis pasti ada pahitnya
Begitulah jua hidup bersama
Segala yang indah jadikan hiasan
Segala yang buruk jadikan sempadan

Masih segar di ingatan ku sentiasa
Kenangan menggamit rasa
Tempuhi onak dan duri
Itulah yang diharungi
Janji yang telah kita bina
Tetap kekal abadi

Seandainya dugaan datang menerpa
Hingga dirimu terluka
Usah ditangis hibanya
Kerna aku bersamamu
Mengubat hati yang duka
Demi janji kita

Marilah suburkan kembali
Hubungan dengan kejujuran
Leraikan segala impian
Buktikan dengan keikhlasan
Moga persahabatan ini
Mengajar erti kehidupan
Dalam rahmat Tuhan yang Esa
Bahagia selamanya..

Sumber: http://www.liriknasyid.com/index.php/lirik/detail/1856/de-hearty-erti-persahabatan-ini.html

Sungguh, nilai persahabatan tidak hanya dilihat dari lagu yang menyanyikan suara hati

Rasa sayang pada sahabat tidak hanya saat jarak yang memisahkan

Mari kita rasai

Rasa yang indah dalam suka duka bersama